Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekspor RI ke Eropa Berpotensi Melonjak US$10,9 Miliar, I-EU CEPA Dibidik Berlaku 2027

📅 Kamis, 15 Okt 2026, 03:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ekspor RI ke Eropa Berpotensi Melonjak US$10,9 Miliar, I-EU CEPA Dibidik Berlaku 2027 Doc: Antara
Ket. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, Rabu (14/10).

Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai perjanjian perdagangan Indonesia-Uni Eropa atau Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) berpotensi memperluas penetrasi ekspor Indonesia ke pasar Eropa, sekaligus membuka peluang di sektor jasa dan investasi.

"Justru memastikan bahwa pasar utama kita ke Eropa itu kita bisa ada penetrasi ekspor yang lebih bagus," ujar Faisal di Jakarta, Rabu (14/10).

Menurut Faisal, Eropa selama ini telah menjadi salah satu tujuan utama ekspor Indonesia, terutama untuk produk tekstil dan produk tekstil, furnitur, serta alas kaki. Melalui I-EU CEPA, Indonesia diharapkan dapat memperkuat akses pasar dan meningkatkan daya saing produk-produk tersebut.

"Kita banyak memang mengekspor ke sana agak-agak mirip dengan ke Amerika, jadi ada tekstil, produk tekstil, ada furnitur juga, ada alas kaki," katanya.

Ia menjelaskan manfaat perjanjian tersebut tidak terbatas pada perdagangan barang. Karena bersifat komprehensif, I-EU CEPA juga berpotensi memberikan keuntungan melalui peningkatan investasi Eropa di Indonesia dan perluasan perdagangan jasa.

Faisal menambahkan, kerja sama dengan Uni Eropa juga dapat membantu pelaku usaha Indonesia memenuhi standar produk yang berlaku di pasar Eropa.

"Ada technical assistantship karena kita tahu standar di sana itu susah, maka harus dibantu bagaimana caranya, bukan kita minta dia (Uni Eropa) menurunkan standar, tapi kita dibantu oleh mereka untuk sampai (memenuhi) ke standar mereka," ujarnya.

Pemerintah sendiri tengah mengejar percepatan penyelesaian I-EU CEPA sebelum fasilitas Generalised Scheme of Preferences (GSP) Uni Eropa berakhir pada 2027.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah menargetkan penandatanganan perjanjian tersebut pada akhir Oktober 2026. Setelah penandatanganan, proses ratifikasi akan dipercepat agar I-EU CEPA dapat mulai berlaku pada Januari 2027.

Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga akses pasar produk ekspor Indonesia di Uni Eropa, terutama menjelang berakhirnya fasilitas GSP yang selama ini memberikan keringanan tarif bagi sejumlah produk Indonesia.

Budi menjelaskan, pemerintah telah menggelar pertemuan dengan para duta besar negara-negara Uni Eropa yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Uni Eropa disebut sepakat mengupayakan penyelesaian perjanjian pada akhir Oktober.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah hal yang perlu dirampungkan. Menurut Budi, Indonesia pada prinsipnya telah menyelesaikan bagiannya, sedangkan pembahasan di pihak Uni Eropa masih berlangsung. Salah satu hal yang dibahas adalah penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam dokumen perjanjian.

Perjanjian Perdagangan

Di sisi lain, pemerintah mendorong agar berbagai perjanjian perdagangan komprehensif tidak hanya menghasilkan akses tarif preferensial, tetapi juga dimanfaatkan secara optimal oleh eksportir Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Nasional
DPR Desak Evaluasi Sistem P...

Upaya Merapikan Kabel Utilitas di Kota Bogor

57 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Upaya Merapikan Kabel Utili...
Luar Negeri
Paus Leo XIV Jalani Pemulih...
Luar Negeri
Kelompok Houthi Serang Aramco
Luar Negeri
Deforestasi Global Melambat...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.