Stop Ekspor Bahan Mentah! Pemerintah Bidik Produk Bernilai Tambah Tinggi
Rabu, 14 Okt 2026, 19:30 WIBTANGERANG â Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Investasi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong peningkatan ekspor bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam (SDA) untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Bahlil mengatakan, pengelolaan sumber daya alam secara optimal menjadi salah satu langkah strategis Indonesia untuk menjadi negara maju sekaligus memastikan kekayaan nasional memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
"Saat ini pemerintah menggalakkan ekspor yang bernilai tambah tinggi dengan hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam Indonesia. Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional," kata Bahlil pada pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (14/10).
Selain memperkuat hilirisasi, Bahlil menekankan pentingnya memperluas akses pasar produk Indonesia ke negara-negara internasional, khususnya di kawasan Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, dan Eropa Timur.
Menurut dia, perluasan akses pasar tersebut perlu didukung melalui perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) agar produk Indonesia semakin berdaya saing di pasar global.
Bahlil menegaskan, setiap perjanjian perdagangan internasional harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman.
"Setiap perjanjian perdagangan internasional harus konkret dan langsung berdampak pada rakyat. Jangan hanya teken-teken MoU, tapi harus bisa direalisasikan MoU tersebut," ujarnya.
Ia juga meminta agar perjanjian perdagangan bebas yang telah berlaku dimanfaatkan secara maksimal oleh eksportir Indonesia. Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah perlu memastikan prosedur ekspor lebih sederhana dan tidak menghambat aktivitas pelaku usaha.
Selain penyederhanaan prosedur, Bahlil menilai akses pembiayaan ekspor dan asuransi dengan biaya terjangkau menjadi faktor penting untuk mendorong peningkatan ekspor nasional.
Pemerintah juga perlu mengintensifkan promosi produk Indonesia ke pasar internasional, antara lain melalui pembukaan pusat-pusat promosi di negara tujuan ekspor.
Di sisi lain, Bahlil menekankan pentingnya pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi agar dapat terintegrasi dalam rantai nilai global. Upaya tersebut perlu didukung dengan peningkatan akses digital dan keuangan bagi pelaku usaha.
Ia menambahkan, kebijakan ekonomi nasional harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat konsumsi domestik, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan hingga ke daerah.
"Pada akhirnya, strategi ekonomi berdikari bertujuan untuk membangun ekonomi yang kuat dan mandiri, inklusif, berdaya saing. Kita ingin memastikan bahwa kekayaan bangsa menjadi kekuatan bagi kemajuan Indonesia dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat," imbuh Bahlil.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BPS: Harga Cabai Rawit Picu Inflasi di Gorontalo September 2026
-
Wamenaker: Teknisi Ponsel Harus Punya Kompetensi Sesuai Kebutuhan Industri.
-
Lima Warkop di Surabaya Kena Segel, Diduga Jual Miras hingga Minuman Oplosan
-
Rybakina Mundur dari Wuhan Open karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi
-
Dinilai Gagal Jaga Keamanan, Panpel Persita Kena Denda Rp40 Juta Buntut Kericuhan
-
Desak Made Sumbang Emas untuk Indonesia dari Panjat Tebing Asian Games 2026
-
Dari Kampus ke Kementan, Wamentan Baru Alim Setiawan Slamet Siap Bawa Riset ke Lahan Pertanian
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.