Media Hong Kong Sebut Indonesia Pesan 42 Jet Tempur 'Rafale Killer' J-10CE dari Tiongkok

Selasa, 13 Okt 2026, 01:33 WIB

HONG KONG - Indonesia dikabarkan akan segera menerima jet tempur J-10CE buatan Tiongkok, pesawat yang mendapat julukan 'Rafale Killer' setelah dikaitkan dengan klaim keberhasilan Pakistan menghadapi jet tempur Rafale milik India. Media Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), melaporkan pada 6 Oktober 2026 bahwa pengiriman pertama J-10CE ke Indonesia diperkirakan berlangsung dalam enam bulan mendatang.

Menurut laporan tersebut, Indonesia telah memesan 42 unit J-10CE, jet tempur multiperan generasi 4.5 buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC). Pengadaan ini disebut memiliki anggaran sekitar 9 miliar dolar AS. Jika pengiriman terealisasi, Indonesia akan menjadi operator internasional ketiga J-10CE setelah Pakistan dan Uzbekistan.

Ket. Foto: Jika pengiriman terealisasi, Indonesia akan menjadi operator internasional ketiga J-10CE setelah Pakistan dan Uzbekistan. — Sumber: Istimewa

J-10CE merupakan varian ekspor dari J-10C yang dikembangkan Chengdu Aircraft Corporation. Pesawat bermesin tunggal ini dirancang untuk menjalankan berbagai misi tempur, termasuk pertempuran udara dan serangan terhadap sasaran di permukaan. Daya tariknya antara lain terletak pada harga yang dinilai relatif kompetitif dibandingkan sejumlah pesawat tempur Barat, serta fleksibilitas dalam pengaturan pasokan.

Julukan 'Rafale Killer' melekat pada J-10CE setelah konflik militer India-Pakistan pada Mei 2025. Saat itu, Pakistan mengklaim jet tempur J-10C yang dilengkapi rudal buatan Tiongkok berhasil menembak jatuh sejumlah pesawat India, termasuk Rafale buatan Prancis. 

Dilansir oleh Investing, seorang eksekutif senior Dassault juga mengatakan kepada para anggota parlemen Prancis pada bulan itu bahwa India telah kehilangan satu pesawat Rafale dalam operasi, meskipun ia tidak memiliki rincian spesifik.

Hingga kini, jumlah pesawat yang jatuh dan rincian keterlibatan masing-masing jenis pesawat masih menjadi bagian dari perdebatan, sehingga klaim tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai bukti bahwa J-10CE selalu lebih unggul daripada Rafale.

Meski demikian, julukan 'Rafale Killer' tidak serta-merta membuktikan bahwa J-10CE lebih unggul dalam semua situasi pertempuran. Hasil duel udara sangat dipengaruhi oleh kemampuan radar, persenjataan, dukungan pesawat pengintai, peperangan elektronik, kualitas informasi intelijen, dan strategi operasional. Analisis  yang diterbitkan pada Agustus 2025 juga menyoroti bahwa faktor kesadaran situasional dan jangkauan rudal berperan penting dalam pertempuran India-Pakistan. 

Bagi Indonesia, pengadaan J-10CE akan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan udara apabila rencana tersebut terlaksana sesuai jadwal. Namun, efektivitas investasi tersebut nantinya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pesawat, melainkan juga kesiapan pilot, persediaan suku cadang, sistem persenjataan, pemeliharaan, serta integrasinya dengan sistem pertahanan udara nasional.

Di sisi lain, J-10CE juga mulai menarik perhatian sejumlah negara yang ingin memperkuat kemampuan udara mereka. Bangladesh dilaporkan mengajukan proposal pembelian 20 unit dengan perkiraan nilai 2,2 miliar dolar AS, sedangkan Azerbaijan disebut sebagai calon pelanggan potensial. Mesir dan Aljazair juga masuk dalam daftar negara yang dikabarkan mempertimbangkan pesawat tersebut, meskipun belum mengonfirmasi pembelian. 

Kepastian jumlah pesawat yang akan diterima, jadwal pengiriman, dan kesiapan operasional akan menjadi faktor penting untuk menilai dampak nyata pengadaan tersebut terhadap kekuatan TNI AU.

  • Jet Tempur J-10 Vigorous Dragon

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.