PBB Kecam Pelecehan Rasis terhadap Coco Gauff Usai Insiden di China Open
Senin, 12 Okt 2026, 00:03 WIBBEIJING â Komite Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras pelecehan rasial yang ditujukan kepada petenis Amerika Serikat, Coco Gauff, di media sosial. Serangan bernada rasis itu muncul setelah insiden pengulangan poin dalam pertandingan Gauff melawan petenis Tiongkok, Sun Xinran, di China Open pekan ini.
Gauff menjadi sasaran kecaman setelah menghentikan permainan pada momen krusial dalam pertandingan melawan Sun. Petenis berusia 22 tahun itu mengangkat tangan untuk memprotes papan iklan elektronik yang berkedip ketika Sun bersiap melepaskan pukulan yang berpotensi menghasilkan angka.
Setelah meninjau rekaman video, wasit memutuskan poin tersebut harus diulang. Gauff akhirnya memenangi pertandingan dengan skor 7-5, 6-1. Namun, kemenangan itu diikuti gelombang pelecehan rasial di media sosial yang diungkapkan Gauff melalui sebuah unggahan.
âOrang-orang boleh tidak menyukai saya atau tidak setuju dengan apa yang terjadi tanpa harus bersikap rasis,â tulis Gauff, yang merupakan petenis kulit hitam, di platform X sebagai tanggapan terhadap sebuah unggahan yang memuat hinaan rasial.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB kemudian menyampaikan kecaman melalui pernyataan yang diunggah di X pada Sabtu. Lembaga tersebut menyerukan kepada para petenis, pelatih, dan organisasi olahraga untuk bersatu melawan pelecehan rasial maupun seksis.
âPesan-pesan rasis seperti yang ditujukan kepada petenis Coco Gauff di dunia maya sangat memuakkan. Hal itu menunjukkan bahwa atlet perempuan kulit hitam secara khusus menjadi sasaran kebencian dan pelecehan rasial,â demikian pernyataan Kantor Hak Asasi Manusia PBB.
PBB menegaskan bahwa hinaan dan pelecehan bernuansa rasial maupun seksis tidak memiliki tempat dalam olahraga.
âPara pemain, pelatih, dan organisasi olahraga harus membela mereka yang menghadapi serangan semacam itu. Para penggemar juga perlu melawan pihak-pihak yang mencemari olahraga dengan rasisme dan seksisme,â lanjut pernyataan tersebut.
Gauff mengaku terkuras secara emosional
Gauff, juara dua kali turnamen Grand Slam, tersingkir dari China Open pada Rabu setelah kalah di babak 16 besar. Ia mengaku insiden tersebut menguras energi dan memengaruhi kondisi emosionalnya.
Kasus yang menimpa Gauff kembali menyoroti persoalan pelecehan terhadap atlet di media sosial, khususnya atlet perempuan kulit hitam yang kerap menjadi sasaran serangan berbasis identitas.
Studi yang dilakukan Asosiasi Tenis Wanita (WTA) bersama World Tennis menunjukkan bahwa para petenis menghadapi lebih dari 12.000 unggahan dan pesan bernada pelecehan di media sosial sepanjang 2025. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sekitar 8.000 unggahan pada tahun sebelumnya.
Temuan itu memperlihatkan bahwa pelecehan daring masih menjadi persoalan serius dalam dunia tenis profesional. Kecaman PBB terhadap serangan kepada Gauff sekaligus menegaskan perlunya keterlibatan pemain, organisasi olahraga, dan penggemar untuk menciptakan lingkungan olahraga yang bebas dari rasisme dan diskriminasi.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Kemensos dan PT Pos Siapkan Skema Baru Penyaluran Bansos
-
Pertalite Dikabarkan Akan Naik Rp13.500 pada 26 September, ESDM Bantah
-
Janice Tjen Melaju ke Babak Kedua China Open 2026
-
Kebiasaan Sepele yang Berdampak Besar, Ahli Ungkap Cara Jalan Kaki Lebih Efektif
-
Angkutan Gratis bagi Pelajar di Kota Solok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.