Bali Tak Gentar PAD Turun, Koster Pilih Kendaraan Listrik demi Lingkungan
Senin, 12 Okt 2026, 00:14 WIBDenpasar - Pemerintah Provinsi Bali menyatakan tidak khawatir terhadap potensi penurunan pendapatan asli daerah (PAD) akibat peralihan dari kendaraan konvensional ke kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), karena lebih mengutamakan kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.
"Memang sekarang dengan makin banyak penggunaan kendaraan listrik, sumber PAD-nya Bali dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) itu bisa menurun, tapi saya tidak ada masalah," kata Gubernur Bali Wayan Koster di sela konferensi pers menjelang Pekan Iklim Bali 2026 di Denpasar, Minggu (11/10).
Koster mengatakan kebijakan tersebut diambil karena sektor pembangkit listrik dan transportasi menyumbang polusi udara terbesar di Pulau Dewata, yakni hingga 90 persen.
"Kemudian karena ini (pembangkit Bali ke depannya) energinya sudah menggunakan energi bersih, kami tinggal mendorong penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai," ujarnya menjelaskan langkah transisi energi di Bali.
Melalui peralihan ke energi bersih dan penggunaan kendaraan listrik, Bali menargetkan penurunan emisi dan pencapaian emisi nol bersih dapat terwujud lebih cepat, sebelum 2045.
Data Pemprov Bali mencatat penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai terus meningkat signifikan hingga mencapai belasan ribu unit. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Rencana Aksi Daerah.
Menanggapi potensi berkurangnya penerimaan pajak kendaraan bermotor, Koster menilai manfaat bagi kesehatan masyarakat dan kebersihan lingkungan jauh lebih bernilai dan tidak dapat diukur semata-mata dengan materi.
"Menurun dari pendapatan, tapi penurunan untuk kesehatan kan bagus juga kan, alam bersih, hidupnya orang menjadi lebih sehat, jadi tidak bisa dikuantifikasi semua," ujarnya.
Koster bahkan telah menginstruksikan Kepala Badan Pendapatan Daerah agar tidak khawatir terhadap potensi penurunan penerimaan pajak kendaraan, mengingat masih terdapat berbagai sumber pendapatan dan nilai tambah lain yang dapat diperoleh daerah.
Menurut dia, lingkungan yang semakin terjaga berpotensi meningkatkan citra pariwisata Bali dan menarik lebih banyak kunjungan wisatawan.
Selain itu, Koster meyakini kendaraan listrik pada akhirnya akan dikenai pajak setelah masa pemberian insentif sebagai stimulus berakhir, meskipun besaran pajaknya dapat berbeda.
"Nah yang berikutnya adalah sudah pasti kan kebijakan insentifnya tidak akan terus menerus, nanti pada saatnya kan akan kena pajak juga, jadi tidak apa-apa," kata Koster.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Trump Desak Raksasa Minyak Turunkan Harga BBM
-
Calon Peserta Pelatihan Kerja Ikuti Tes Seleksi di PPKD Jakarta Timur
-
Spalletti Tuntut Lebih dari Kolo Muani Usai Juventus Hanya Menang Tipis
-
Norwegia Alokasikan Dana Kemanusiaan 13 Juta Dollar AS untuk Palestina
-
Tak Bisa Sembunyi Lagi: 'AI' Buatan Australia Mampu Endus Penyelundupan Satwa Laut
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.