Melestarikan Tradisi Lewat Pagelaran Seni Tiban di Trenggalek

Minggu, 11 Okt 2026, 23:07 WIB

Trenggalek - Seniman tradisional Desa Jajar, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu, menggelar pagelaran seni Tiban setiap Minggu selama Oktober 2026 sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur sekaligus mempererat persaudaraan masyarakat di tengah musim kemarau panjang saat ini.

Kepala Desa Jajar Imam Mukaryanto Edy mengatakan, pagelaran yang telah memasuki pekan kedua pada Minggu (11/10) itu juga menjadi ikhtiar spiritual masyarakat adat untuk memohon kepada Allah SWT agar hujan segera turun.

Ket. Foto: Penonton menyaksikan pertunjukan kesenian tiban di Desa Jajar, Trenggalek, Jawa Timur, Minggu (11/10/2026). — Sumber: Antara

“Harapannya, seni tradisi yang sudah diwariskan oleh leluhur kita ini lestari. Mudah-mudahan di musim kemarau panjang ini segera diturunkan hujan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Imam yang akrab disapa Mbah Ime tersebut.

Ia menjelaskan, pagelaran Tiban akan terus dilaksanakan setiap Minggu hingga hujan turun, selama para pemain dan pengrawit bersedia berpartisipasi.

Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang bagi seniman untuk menjaga keberlangsungan tradisi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarwarga melalui pertemuan dan interaksi para pelaku seni dari berbagai daerah.

Para peserta mengikuti pagelaran secara sukarela tanpa menerima bayaran. Mereka datang atas kemauan sendiri untuk memainkan kesenian yang diwariskan secara turun-temurun sekaligus menjalankan niat dan doa masing-masing.

Desa Jajar dan sejumlah desa di sekitarnya memiliki banyak seniman Tiban.

Kondisi itu menjadikan wilayah Kecamatan Gandusari tersebut sebagai salah satu pusat kegiatan kesenian Tiban di Kabupaten Trenggalek.

Antusiasme terhadap pagelaran itu juga datang dari luar daerah. Pada pelaksanaan pekan sebelumnya, sejumlah peserta dari Tulungagung, Kediri, Blitar, hingga Malang turut hadir untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Dalam pertunjukan Tiban, dua pemain secara bergantian menyabetkan penjalin atau rotan ke tubuh lawan dengan diiringi musik gamelan Jawa.

Pergantian giliran dan iringan gending menjadi bagian dari pertunjukan yang masih dipertahankan oleh para penggemarnya.

Mbah Ime berharap kegiatan rutin tersebut dapat menjaga keberlangsungan seni Tiban agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sekaligus mempertahankan ikatan persaudaraan antarpelaku seni.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.