Jadi Tempat Curhat Teman? Psikolog Ingatkan Pentingnya Batasan Diri
Minggu, 11 Okt 2026, 02:00 WIBJakarta - Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, mengatakan menjadi tempat berkeluh kesah bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian yang penting. Namun, seseorang juga perlu memahami batas kemampuan diri agar tetap dapat membantu tanpa mengorbankan kesehatan emosionalnya.
âSelf-boundaries (batasan diri) membantu kita untuk mengenali batas kemampuan, waktu, energi emosional, dan tanggung jawab kita ketika mendukung orang lain,â ujar Ocha di Jakarta, Sabtu (10/10).
Psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu menjelaskan bahwa memahami batasan diri dapat dimulai dengan mengenali batas peran. Sebagai teman atau anggota keluarga, seseorang dapat memberikan dukungan emosional tanpa harus mengambil alih peran psikolog atau psikiater.
Selain itu, seseorang perlu mengenali kapasitas emosionalnya sebelum membantu orang lain. Jika energi dan kondisi emosional belum memadai atau masalah yang disampaikan terlalu berat, batasan perlu dikomunikasikan secara jelas dan empatik.
âJika ternyata di momen tersebut energi dan emosi belum cukup memadai, atau isu yang disampaikan terlalu berat, komunikasikan batasan secara jelas dan empatik. Dapat pula menawarkan bantuan yang masih sesuai dengan kapasitas diri kita,â ujar dia.
Ocha juga menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai terbuka mengenai masalah yang dihadapinya, pendengar perlu menyadari bahwa bercerita bukanlah hal yang selalu mudah.
âBisa jadi, orang tersebut sudah mempertimbangkan cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk berbagi,â tuturnya.
Karena itu, pendengar disarankan untuk menyimak cerita tanpa menghakimi dan tidak terburu-buru memberikan solusi. Berikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menyampaikan pengalaman sesuai dengan kesiapan dan kecepatannya sendiri.
Langkah berikutnya adalah memberikan validasi emosi, yakni mengakui bahwa perasaan seseorang nyata dan layak dipahami berdasarkan pengalaman yang sedang dihadapinya.
âPerlu dibedakan bahwa memvalidasi emosi bukan berarti selalu membenarkan seluruh pemikiran atau perilaku seseorang,â kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Sebagai contoh, seseorang dapat memahami kemarahan yang dirasakan orang lain tanpa membenarkan tindakan menyakiti orang lain akibat emosi tersebut. Dengan demikian, empati tetap dapat ditunjukkan tanpa mengabaikan batasan yang sehat.
Ocha juga menyarankan agar pendengar menanyakan bentuk bantuan yang dibutuhkan, menghindari sikap membandingkan atau mengecilkan masalah, serta menjaga kepercayaan dan privasi orang yang bercerita.
- psikolog klinis
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.