- Home
-
- Megapolitan
-
- DKI Jakarta Perluas Layana...
DKI Jakarta Perluas Layanan Disabilitas, 4.324 Orang Terserap Kerja
Minggu, 11 Okt 2026, 01:30 WIBJAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperluas layanan dan kesempatan bagi penyandang disabilitas di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, mobilitas, perlindungan sosial, hingga ketenagakerjaan. Kebijakan ini ditujukan untuk memastikan penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, berkembang, bekerja, dan berpartisipasi dalam kehidupan perkotaan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara utama dalam pembukaan Special Kids Expo atau Neurodiversity Expo (SPEKIX) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (10/10). Ia menegaskan, upaya membangun kota inklusif harus melampaui penyediaan akses fisik dan diwujudkan melalui kesempatan yang setara bagi seluruh warga.
âJakarta ingin bergerak dari sekadar memberikan akses menjadi membuka kesempatan, sehingga penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, bekerja, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan kota,â ujar Pramono.
Di bidang pendidikan, Jakarta memiliki 88 Sekolah Luar Biasa (SLB), yang terdiri atas 13 SLB negeri dan 75 SLB swasta. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta menyalurkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus Tahap II Tahun 2026 kepada 2.764 siswa SLB untuk mendukung kebutuhan pendidikan mereka.
Pada sektor kesehatan, layanan ramah disabilitas telah tersedia di 44 puskesmas dan 31 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Sementara untuk mendukung mobilitas anak-anak penyandang disabilitas, pemerintah daerah mengoperasikan 37 bus sekolah ramah disabilitas yang melayani 10 rute.
Dukungan juga diberikan melalui perlindungan sosial dan penyediaan alat bantu. Per September 2026, Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ) telah disalurkan kepada 20.890 penerima, disertai penyediaan alat bantu fisik seperti kursi roda, alat bantu dengar, dan tongkat.
âSecara khusus Pemerintah DKI Jakarta juga mengeluarkan Kartu Penyandang Disabilitas Jakarta (KPDJ) dengan penerima saat ini mencapai 20.890 orang, serta menyediakan 37 unit bus sekolah ramah disabilitas khusus untuk anak-anak dan keluarga disabilitas,â kata Pramono.
Selain pendidikan, kesehatan, dan mobilitas, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong keterlibatan penyandang disabilitas dalam dunia kerja dan kegiatan ekonomi. Saat ini, tercatat sebanyak 4.324 pekerja penyandang disabilitas di Jakarta.
Pemprov DKI juga menyelenggarakan bursa kerja khusus yang menyediakan 500 lowongan pekerjaan. Di bidang kewirausahaan, sebanyak 133 penyandang disabilitas telah terlibat sebagai mitra binaan program Jakpreneur untuk mendukung pengembangan usaha dan kemandirian ekonomi.
Pramono menegaskan, pembangunan kota inklusif harus memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan hidup mandiri. Menurutnya, keberpihakan terhadap kebutuhan warga menjadi salah satu aspek penting dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang nyaman dan aman.
âInklusi harus sampai pada kesempatan bekerja dan mandiri, bukan semata-mata membangun gedung tinggi melainkan sentuhan keberpihakan seperti inilah yang membuat Jakarta lebih nyaman, aman, dan kolaboratif,â tuturnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan SPEKIX menjadi salah satu wadah kolaborasi untuk mendorong pengembangan kebijakan inklusi secara berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat dukungan bagi individu berkebutuhan khusus beserta keluarga mereka.
âSPEKIX menjadi ruang bersama untuk memperkuat inklusi bagi individu berkebutuhan khusus, di mana tema tahun ini âSustaining Inclusion, Empowering Futureâ menekankan bahwa inklusi harus menjadi komitmen berkelanjutan,â ujar Pramono.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi turut mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta dalam memenuhi hak anak berkebutuhan khusus. Ia menilai, langkah tersebut berpotensi dikembangkan sebagai contoh bagi daerah lain dalam memberikan akses yang setara bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.
âDKI Jakarta bisa menjadi pilot project bagaimana Pemerintah DKI Jakarta mencoba dan berusaha memberikan akses yang sama untuk anak-anak kita tumbuh dan berkembang dalam pemenuhan hak-haknya,â ujar Arifatul.
Menurut Arifatul, pembangunan ekosistem inklusif membutuhkan kesinambungan kebijakan dan kerja sama berbagai pihak. Upaya pemenuhan hak penyandang disabilitas, khususnya anak-anak, tidak cukup dilakukan melalui program atau kegiatan yang hanya berlangsung pada waktu tertentu.
âInklusi tidak boleh berhenti sebagai sebuah program, kegiatan, atau momentum, karena membangun ekosistem inklusi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja sehingga kolaborasi menjadi kunci utama,â tegasnya.
SPEKIX 2026 berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan beragam kegiatan yang ditujukan untuk memperluas informasi, pendampingan, dan dukungan bagi individu berkebutuhan khusus serta keluarga mereka. Rangkaian acara tersebut meliputi seminar, lokakarya, pameran, pertunjukan, hingga layanan konsultasi.
Adapun rangkaian kegiatan SPEKIX 2026 meliputi:
- 35 seminar dan lokakarya yang membahas berbagai topik terkait kebutuhan individu berkebutuhan khusus.
- Pameran dari 129 tenant yang menghadirkan beragam produk dan layanan.
- Panggung pertunjukan sebagai ruang partisipasi dan ekspresi.
- Layanan konsultasi gratis bersama psikolog dan terapis.
Pihak penyelenggara SPEKIX 2026, Srihartati, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berawal dari kebutuhan para orang tua yang kesulitan menemukan informasi dan pendampingan untuk anak berkebutuhan khusus. Pengalaman bertemu dengan para orang tua yang memiliki pertanyaan serupa mendorong lahirnya SPEKIX sebagai ruang berbagi informasi dan dukungan.
âTujuh tahun yang lalu saya bertemu banyak ibu yang bertanya hal yang sama, âKe mana saya harus mencari tahu?â, dari situlah SPEKIX lahir agar tidak ada lagi orang tua yang mencari jawaban sendirian,â jelas Srihartati.
Ia berharap SPEKIX dapat terus berkembang menjadi ruang bersama yang memperkuat ekosistem ramah bagi individu neurodivergen. Menurutnya, lingkungan yang inklusif perlu memastikan setiap individu dan keluarga memperoleh dukungan serta tidak merasa menghadapi tantangan sendirian.
âHarapan saya tidak pernah berubah sejak hari pertama, semoga suatu hari nanti kalimat âkamu tidak sendiriâ tidak perlu lagi diucapkan, karena Indonesia telah menjadi rumah yang ramah bagi setiap individu neurodivergent,â pungkasnya.
Harapan serupa disampaikan Muzdalifah (40), pengunjung asal Cikarang yang datang bersama putranya, Abdul Bahar Alparizi (15). Ia berharap penyelenggaraan SPEKIX pada tahun mendatang dapat menghadirkan layanan pemeriksaan mata bagi anak penyandang disabilitas.
âHarapan saya, inginnya kalau ada SPEKIX lagi tahun depan, ada pemeriksaan mata untuk anak disabilitas,â ujarnya.
- Penyandang Disabilitas
- Pemprov DKI Jakarta
- JakPreneur
- Pendidikan Inklusif
- Gubernur DKI Pramono Anung
- Jakarta Kota Inklusif
- Lowongan kerja disabilitas
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Makin Banyak Penumpang KA ke Jember, Ekonomi dan Pendidikan Ikut Terdongkrak
-
Saluran Tertimbun Hampir 20 Tahun, Pemkot Surabaya Tertibkan Bangli di Belakang Pasar Bratang
-
Transjakarta Bakal Kelola Transportasi Udara, Pemprov DKI Siapkan Fasilitas
-
Sebelum OTT, KPK Dalami Kegiatan Sirajudin Lasena Selama di Jakarta.
-
Jakarta Punya 37 Bus Sekolah Ramah Disabilitas, Siap Antar Jemput Anak-anak Berkebutuhan Khusus
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.