Badan Geologi ESDM: Waspadai Erupsi dan Gas Beracun dari Gunung Lokon

Minggu, 11 Okt 2026, 16:58 WIB

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan, status aktivitas Gunung Lokon di Sulawesi Utara masih berada pada Level II atau Waspada. Meski belum menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik, gunung api tersebut menyimpan potensi erupsi freatik secara tiba-tiba serta keluarnya gas beracun.

Berdasarkan evaluasi aktivitas vulkanik hingga 30 September 2026, Badan Geologi meminta, masyarakat maupun wisatawan waspada. Masyarakat diminta, tidak memasuki kawasan dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan.

Ket. Foto: — Sumber: Dokumentasi RRI Manado

Pembatasan tersebut, diberlakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan, aktivitas kegempaan Gunung Lokon sepanjang 16–30 September 2026 didominasi gempa vulkanik dangkal.

"Berdasarkan pengamatan instrumental, terekam sebanyak 110 kali gempa embusan, dua kali gempa tornillo, 277 kali gempa vulkanik dangkal. Tujuh kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa tektonik lokal, dan 43 kali gempa tektonik jauh," kata Lana dalam laporan yang dibagikan Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lokon, Armando Manguleh, melalui grup percakapan BMKG, dikutip Minggu (11/10).

Hasil pemantauan visual, ia menjelaskan, menunjukkan Gunung Lokon mengeluarkan embusan asap putih tipis dari kawasan kawah. Yakni, dengan ketinggian maksimal sekitar 150 meter.

Sementara itu, rekaman kegempaan memperlihatkan aktivitas gempa vulkanik dangkal lebih dominan dibandingkan gempa vulkanik dalam yang relatif jarang terjadi. Meski aktivitas gempa masih terdeteksi, hasil analisis visual dan seismik belum memperlihatkan indikasi peningkatan aktivitas vulkanik secara keseluruhan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan Badan Geologi dalam mempertahankan status Gunung Lokon pada Level II atau Waspada. Berdasarkan pemantauan menggunakan metode Real Time Seismic Amplitude Measurement (RSAM), energi seismik menunjukkan kecenderungan meningkat.

"Dalam rentang 24 Agustus hingga 30 September 2026. Namun, peningkatan energi yang terekam tersebut diketahui berasal dari aktivitas gempa permukaan," ucap dia.

Sementara itu, pengukuran deformasi melalui perangkat Global Positioning System (GPS) menunjukkan adanya pola inflasi dengan laju rendah. Tepatnya, sejak Juni 2025 hingga Januari 2026.

"Adapun sepanjang 1 Januari sampai 30 September 2026, perubahan bentuk tubuh gunung tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Dengan pola pengukuran yang cenderung mendatar," ujar dia.

Badan Geologi pun menegaskan bahwa kondisi aktivitas vulkanik yang relatif stabil tidak menghilangkan potensi ancaman bahaya di sekitar Kawah Tompaluan. Risiko perlu diwaspadai, keluarnya gas beracun dari kawah serta kemungkinan terjadinya erupsi freatik tanpa didahului peningkatan aktivitas yang jelas.

Selain ancaman dari aktivitas kawah, masyarakat di sekitar aliran sungai berhulu di kawasan puncak Gunung Lokon juga diminta waspada. Potensi aliran lahar, perlu diperhatikan terutama ketika terjadi hujan deras dengan intensitas tinggi atau berlangsung dalam waktu lama. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.