Ranu Manduro, Kawasan Bekas Tambang Menjadi Lanskap Estetik
Jumat, 09 Okt 2026, 07:17 WIBDI TENGAH lanskap perbukitan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terdapat kawasan yang pernah lebih dikenal sebagai area pertambangan daripada tujuan wisata. Setelah aktivitas pertambangan tidak lagi menjadi wajah utama kawasan, ruang terbuka bekas galian itu perlahan berubah.
Area bekas tambang yang tadinya rusak kini telah ditumbuhi vegetasi di sejumlah bagian. Sementara itu, cekungan bekas galiannya menampung air hujan yang turun, dan hamparan rumput membentuk lanskap terbuka yang pada musim penghujan dapat berubah menjadi hijau.
Kawasan tersebut adalah Ranu Manduro, yang berada di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Tempat ini kemudian dikenal luas karena memiliki panorama yang tidak biasa: hamparan padang rumput di bagian depan, perbukitan di sekelilingnya, serta Gunung Penanggungan yang berdiri sebagai latar utama.
Pemandangan itu membuat Ranu Manduro sempat mendapat julukan sebagai lanskap yang menyerupai Selandia Baru. Perbandingan tersebut muncul terutama karena karakter ruangnya yang terbuka. Tidak ada deretan bangunan padat yang mendominasi pandangan. Mata dapat menyapu rerumputan, kontur perbukitan, dan tubuh Gunung Penanggungan dalam satu bentang pandang.
Namun, menyebut Ranu Manduro sekadar sebagai âSelandia Baru versi Mojokertoâ sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan karakter tempat ini. Di balik pemandangan hijau yang tampak alami, terdapat sejarah penggunaan lahan yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan.
Perubahan dari kawasan tambang menjadi ruang terbuka itulah justru yang membuat Ranu Manduro menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai contoh perubahan sebuah bentang alam, dari kerusakan menjadi lebih asri.
Dari Kawasan Tambang Menjadi Ruang Terbuka
Ranu Manduro tidak lahir sebagai kawasan wisata alam yang dirancang sejak awal. Lanskapnya berkaitan erat dengan aktivitas manusia yang mengubah permukaan tanah. Aktivitas pertambangan meninggalkan sejumlah bentuk lahan yang berbeda dari kondisi sebelum kawasan tersebut dimanfaatkan.
Penggalian menghasilkan cekungan, permukaan tanah terbuka, serta kontur yang tidak lagi seragam. Ketika aktivitas pertambangan berkurang atau berhenti, kawasan tersebut kemudian memasuki tahap perubahan berikutnya.
Vegetasi mulai tumbuh kembali pada bagian-bagian tertentu. Air hujan dapat mengisi cekungan bekas galian dan membentuk genangan. Sementara itu, rerumputan berkembang di area terbuka sehingga menghasilkan hamparan hijau yang kemudian menjadi salah satu karakter paling mudah dikenali dari Ranu Manduro.
Proses semacam ini menunjukkan bahwa kawasan pascatambang tidak selalu berakhir sebagai tanah kosong. Setelah aktivitas ekstraksi berhenti, proses alam dapat membentuk kembali karakter ruang tersebut, meskipun hasilnya tidak serta-merta mengembalikan kondisi bentang alam seperti sebelum pertambangan.
Pada Ranu Manduro, perubahan itu justru menghasilkan lanskap yang memiliki daya tarik visual kuat. Bekas aktivitas manusia berpadu dengan pertumbuhan vegetasi dan keberadaan air sehingga membentuk panorama yang berbeda dari kawasan wisata alam konvensional.
Karena itu, pengunjung yang datang sebenarnya sedang melihat dua cerita dalam satu tempat. Di satu sisi terdapat bentang alam yang tampak hijau dan terbuka. Di sisi lain terdapat jejak aktivitas pertambangan yang masih dapat dikenali melalui bentuk lahan dan cekungan bekas penggalian.
Gunung Penanggungan sebagai Ikon Lanskap
Daya tarik Ranu Manduro semakin kuat karena lokasinya memiliki hubungan visual dengan Gunung Penanggungan. Memiliki ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada di wilayah Mojokerto serta Pasuruan, gunung ini memiliki posisi penting dalam lanskap kawasan karena bentuknya relatif mudah dikenali dari berbagai lokasi di sekitarnya.
Dari hamparan terbuka Ranu Manduro, Gunung Penanggungan menjadi latar yang memberikan skala pada pemandangan. Padang rumput di bagian depan membuat gunung terlihat semakin menonjol, sementara langit terbuka memberikan kesan luas pada keseluruhan lanskap.
Ketika rerumputan sedang menghijauâtidak kering seperti pada saat musim kemarauâkomposisi tersebut menghasilkan pemandangan yang menjadi alasan utama banyak orang datang. Warna hijau di permukaan tanah berpadu dengan warna vegetasi di perbukitan dan siluet Gunung Penanggungan di kejauhan.
Pemandangan itu juga menjelaskan mengapa Ranu Manduro lebih sering dibandingkan dengan lanskap pedesaan Selandia Baru daripada dengan destinasi wisata lain di Jawa. Kesamaannya bukan karena bentuk geologinya identik, melainkan karena karakter visual berupa padang rumput luas dan pegunungan yang terbuka. Tentu, kondisi tersebut sangat bergantung pada musim. Ranu Manduro tidak selalu berwarna hijau sepanjang tahun.
Berubah Mengikuti Musim
Musim menjadi salah satu faktor penting yang menentukan penampilan kawasan ini. Pada periode hujan ketika pasokan air cukup, rerumputan dan vegetasi cenderung tumbuh lebih subur sehingga kawasan terlihat hijau.
Sebaliknya, ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang, rerumputan dapat mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan. Perubahan ini membuat panorama Ranu Manduro tidak selalu identik dengan foto-foto hijau yang banyak beredar di media sosial.
Perbedaan musim tersebut justru menjadi bagian dari karakter lanskap. Ranu Manduro merupakan ruang terbuka yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan ketersediaan air.
Pagi hari dengan udara yang relatif sejuk dapat memberikan suasana berbeda dibandingkan siang hari ketika cahaya matahari lebih kuat. Setelah hujan, warna vegetasi dapat terlihat lebih pekat, sementara langit yang cerah dapat membuat Gunung Penanggungan terlihat lebih jelas.
Bagi pengunjung yang datang terutama untuk fotografi, faktor cuaca dan musim menjadi bagian dari pengalaman. Foto yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada lokasi, tetapi juga pada kondisi alam ketika kawasan tersebut dikunjungi.
Genangan Air
Selain padang rumput, salah satu elemen yang menarik perhatian di Ranu Manduro adalah genangan air yang berada di cekungan bekas galian. Air yang mengisi bagian cekungan tersebut menciptakan elemen visual berbeda di tengah lanskap terbuka. Ketika permukaan air relatif tenang, langit dan awan dapat terpantul di permukaannya.
Pada kondisi tertentu, genangan itu terlihat seperti kolam atau danau kecil di antara hamparan rumput dan tanah terbuka. Pantulan tersebut menambah dimensi pada lanskap yang sebelumnya didominasi warna hijau dan cokelat.
Namun, keberadaan genangan bekas galian juga perlu dilihat secara lebih hati-hati. Tidak semua cekungan bekas tambang aman untuk didekati. Kedalaman, kondisi dasar, kemiringan tebing, dan kestabilan tanah dapat berbeda antara satu lokasi dan lokasi Âlainnya.
Karena itu, keindahan visual sebuah genangan bekas tambang tidak berarti kawasan tersebut dapat diperlakukan seperti danau wisata yang seluruh sisinya aman untuk aktivitas rekreasi.
Ranu Manduro pada dasarnya merupakan kawasan dengan sejarah penggunaan lahan yang perlu dipahami pengunjung. Menikmati pemandangan dari area yang aman jauh lebih penting daripada mengejar sudut foto tertentu dengan memasuki lokasi yang berisiko.
Ranu Manduro dengan demikian menjadi contoh bagaimana sebuah ruang dapat memperoleh kehidupan kedua. Bukan sebagai kawasan yang sepenuhnya kembali seperti sebelum ditambang, melainkan sebagai lanskap baru yang terbentuk dari pertemuan antara jejak aktivitas manusia dan proses alam. hay
- Ranu Manduro
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.