Bos Agrinas: 1 Juta Ha Bioetanol Bisa Serap 1,1 Juta Pekerja dan Hemat Devisa Rp93,6 T

Jumat, 09 Okt 2026, 08:22 WIB

JAKARTA – Pengembangan bioetanol terintegrasi tidak hanya soal energi, tapi juga soal lapangan kerja dan devisa. Hal itu dipaparkan Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani dalam paparannya soal dampak positif pengembangan bioetanol.

Menurut Ghani, dari target pengembangan 1 juta hektare lahan feedstock bioetanol, potensinya sangat besar. Produksi bisa mencapai 5 juta kiloliter per tahun.

Ket. Foto: Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Mohammad Abdul Ghani — Sumber: istimewa

"Yang paling nyata dampaknya adalah orang. Dari 1 juta hektare ini, kita bisa ciptakan 1,1 juta lapangan kerja," ujar Ghani di Jakarta, Kamis (8/10).

Rinciannya, sekitar 500 ribu tenaga kerja langsung di kebun dan pabrik, plus 600 ribu tenaga kerja tidak langsung dan efek ikutan (indirect & induced) dari tumbuhnya jasa pendukung dan aktivitas ekonomi di sekitar wilayah pengembangan.

Ghani menyebut, Agrinas sejak awal mendorong penyerapan tenaga kerja lokal dan penguatan kapasitas masyarakat. Tidak hanya bekerja di kebun, masyarakat juga dibuka ruang kemitraan, koperasi, UMKM, hingga pengembangan kebun masyarakat. Jadi ekonomi lokal ikut tumbuh lebih inklusif.

"Upahnya saja perputarannya bisa sampai Rp27 triliun langsung di daerah. Itu belum multiplier effect dari logistik, perdagangan, pengadaan lokal, sampai hilirisasi," katanya.

Dari sisi investasi, proyek 1 juta hektare ini nilainya mencapai sekitar Rp142 triliun untuk on farm dan off farm. Investasi besar itu yang kemudian menggerakkan ekonomi wilayah.

Yang kedua, soal hemat devisa. Saat ini kebutuhan bensin nasional mencapai 37,6 juta kiloliter per tahun, dan 60 persennya masih impor. Dengan mandatori E20, Indonesia butuh 7,5 juta kiloliter bioetanol. Kalau 1 juta hektare yang dikembangkan Agrinas bisa menghasilkan 5 juta kiloliter per tahun, maka devisa yang bisa dihemat mencapai Rp93,6 triliun.

"Jadi kita mengurangi ketergantungan impor BBM di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional," kata Ghani.

Pengembangan ini, lanjut Ghani, dilakukan terintegrasi dari hulu ke hilir untuk menciptakan kelayakan bisnis yang berkelanjutan. Strateginya dengan multifeedstock untuk diversifikasi pasokan, pemanfaatan varietas unggul, mekanisasi, precision farming, dan standar Good Agricultural Practices (GAP).

Agrinas juga membentuk pola kemitraan triple helix yang melibatkan BUMN, petani/koperasi, dan swasta untuk memperkuat pembiayaan, teknologi, dan produksi.

Selain ekonomi, dampak lingkungannya juga dikejar. Bioetanol memiliki intensitas karbon lebih rendah dibanding bahan bakar fosil, sehingga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dan mendukung target Net Zero Emission 2060.

"Pertanian berkelanjutan tetap jadi dasar. Kita menghindari pembukaan kawasan yang harus dilindungi, mengurangi risiko degradasi lahan, dan mendorong ekonomi sirkular lewat pemanfaatan residu sebagai energi, pakan, pupuk, atau bahan baku industri," ujar Ghani.

Dengan ekosistem industri bioetanol nasional yang terbentuk, Ghani berharap selain devisa hemat dan lapangan kerja terbuka, nilai tambah komoditas pertanian juga naik dan pasokan energi dalam negeri lebih pasti.

Lini bisnis Agrinas Palma meliputi sawit, kedelai, jagung, dan singkong. Lahannya bersumber dari sitaan Kejagung/Satgas PKH total 4,1 juta hektar. Konsepnya lahan sitaan yang rusak direhab, jadi lapangan kerja, jadi energi, devisa hemat.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.