Rebut Gelar China Open, Djokovic Siap Berburu Tiket ATP Finals dan Gelar Grand Slam ke-25

Kamis, 08 Okt 2026, 00:05 WIB

BEIJING — Petenis Serbia Novak Djokovic akhirnya menemukan kembali kemenangan yang selama berbulan-bulan menghilang. Gelar China Open menjadi trofi pertama Djokovic di tahun 2026 sekaligus gelar ke-102 sepanjang kariernya. Tetapi bagi Djokovic, kemenangan di Beijing bukanlah garis akhir. Justru dari sinilah pertarungan sebenarnya dimulai: mengejar tiket ATP Finals di Turin dan menjaga peluang merebut Grand Slam ke-25.

Djokovic datang ke Beijing dengan musim yang jauh dari ideal. Problem fisik dan kesehatan membuatnya hanya tampil terbatas. Bahkan, kekalahan di babak pertama US Open menjadi alarm serius. Itu merupakan kegagalan terburuknya di Grand Slam sejak 2006.

Ket. Foto: Novak Djokovic. — Sumber: ATP

Kini situasinya berubah. Djokovic mengalahkan sejumlah lawan tangguh dalam perjalanan menuju gelar dan menutup turnamen dengan catatan sempurna 34 kemenangan dari 34 pertandingan di Beijing. Namun, kemenangan di final tidak sepenuhnya bisa dijadikan ukuran karena Alex de Minaur mundur akibat cedera setelah set pertama.

Karena itu, ujian sesungguhnya Djokovic berikutnya adalah Shanghai Masters. Turnamen ATP 1000 tersebut berlangsung 7-18 Oktober, langsung setelah China Open. Djokovic sendiri dijadwalkan mengikuti turnamen itu.

Di sinilah ambisi menuju Turin akan diuji. Per 6 Oktober, Djokovic berada di posisi kesembilan Race ATP Finals dengan 2.530 poin. Posisi kedelapan ditempati Daniil Medvedev dengan 3.220 poin. Artinya, Djokovic masih tertinggal 690 poin dari zona kualifikasi langsung. Delapan pemain terbaik musim ini berhak tampil di Turin, yang digelar 15-22 November.

Jarak itu tidak mustahil dikejar, tetapi Djokovic membutuhkan lebih dari sekadar satu kemenangan di Shanghai. Dia harus konsisten dalam beberapa pekan terakhir musim ini, sementara para pesaingnya juga terus mengumpulkan poin. Dengan usia 39 tahun dan riwayat persoalan fisik tahun ini, pertarungan menuju Turin bukan hanya persoalan kemampuan tenis, melainkan manajemen tubuh.

Ironisnya, justru di sinilah kemenangan Beijing menjadi penting. Djokovic kini memiliki momentum. Dia membuktikan bahwa ketika kondisi tubuh memungkinkan, level permainannya masih cukup untuk menaklukkan pemain papan atas.

Namun, ada pertanyaan yang lebih besar: apakah Djokovic harus memaksakan diri mengejar Turin?

Jawabannya tergantung pada kondisi fisiknya. ATP Finals memang bergengsi dan menjadi panggung elite terakhir musim ini. Tetapi jika mengejar Turin berarti mengorbankan kebugaran, Djokovic mungkin harus berpikir lebih panjang. Target yang jauh lebih penting adalah 2027 dan kesempatan mengejar Grand Slam ke-25.

Djokovic masih memegang rekor 24 gelar Grand Slam, terbanyak dalam sejarah tenis putra. Sementara generasi baru terus bergerak. Carlos Alcaraz sudah mengoleksi tujuh major dan pada 2026 merebut Australian Open, sedangkan Jannik Sinner menjuarai Wimbledon.

Situasi itu membuat Djokovic menghadapi pilihan strategis. Ia tidak lagi bisa menjalani musim dengan pola yang sama seperti ketika berada di usia 20-an atau awal 30-an. Kalender harus dipilih. Turnamen harus diseleksi. Setiap pertandingan harus memiliki nilai terhadap sasaran yang lebih besar.

Dan Beijing memberi jawaban penting: Djokovic belum selesai. Dia sendiri mengakui 2026 merupakan tahun yang penuh pasang surut akibat persoalan fisik dan kesehatan. Namun setelah menjadi juara di Beijing, ia kembali menunjukkan kemampuan yang selama dua dekade lebih membuatnya berbeda dari pemain lain. Gelar tersebut juga memperpanjang rekornya sebagai petenis pertama yang memenangi setidaknya satu gelar dalam 21 musim berturut-turut.

Kini Shanghai menjadi persimpangan. Jika tubuhnya bertahan dan performanya berlanjut, Turin masih terbuka. Jika tidak, Djokovic harus berani mengambil keputusan yang lebih pragmatis: mengorbankan sebagian ambisi jangka pendek demi satu sasaran yang belum tercapai, gelar Grand Slam ke-25.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.