Krisis Air Mengancam Ketahanan Nasional
📅 Rabu, 07 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiIa menjelaskan keterkaitan air, pangan, dan energi membentuk water-food-energy nexus. Sektor pertanian menggunakan sekitar 70 persen pemakaian air tawar global, sementara urbanisasi, pencemaran industri, dan perubahan iklim memperbesar risiko kekeringan serta banjir yang berdampak langsung terhadap pertanian.
Dampaknya dapat berupa kegagalan panen, kenaikan harga pangan, hilangnya mata pencaharian petani hingga tekanan terhadap perekonomian.
Muliarta menyayangkan kebijakan makro di banyak negara, termasuk Indonesia, yang dinilai masih terfragmentasi dan bersifat pemadam kebakaran. Target produksi pangan, menurut dia, kerap digenjot melalui eksploitasi lahan dan air tanah tanpa memperhitungkan daya dukung hidrologis.
"Krisis air tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan membangun bendungan megah atau menambah subsidi pupuk. Tanpa konservasi tanah dan tata kelola air tawar yang presisi, infrastruktur itu hanya akan jadi monumen beton yang kering. Air harus ditempatkan sebagai top-tier national security asset, bersanding dengan pertahanan militer dan stabilitas mata uang," tegasnya.
Muliarta mendorong pergeseran dari ekstraksi menuju konservasi restoratif berbasis sains melalui pertanian presisi, restorasi vegetasi dan DAS, serta penerapan perhitungan virtual water atau jejak air dalam produk pangan dan industri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!