10 Tahun Susuri Jakarta, Bunda Reza Berjuang Besarkan Dua Anak hingga Mandiri
Rabu, 07 Okt 2026, 20:12 WIBMatahari belum tinggi ketika Siti Khodijah mulai bersiap meninggalkan rumah. Bagi perempuan yang lebih akrab disapa Bunda Reza itu, menyalakan sepeda motor dan membuka aplikasi untuk menerima order bukan sekadar rutinitas mencari penghasilan.
Di balik perjalanan dari satu titik ke titik lain di Jakarta, ada tanggung jawab yang selalu ikut bersamanya: memastikan dua anak laki-lakinya tetap mendapatkan kebutuhan yang layak.
Sudah 10 tahun Bunda Reza menjalani kehidupan sebagai Mitra Pengemudi GrabBike. Selama periode tersebut, jalanan Jakarta menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, pekerjaan itu sekaligus memberinya sesuatu yang lebih penting daripada sekadar penghasilan, yakni kesempatan untuk tetap menjadi ibu yang hadir bagi keluarganya.
Pilihan menjadi pengemudi bermula dari keadaan yang tidak mudah. Sejak berpisah dengan suaminya pada 2015, Bunda Reza harus menjalankan peran sebagai orang tua sekaligus pencari nafkah utama. Ia memiliki dua anak laki-laki dengan kebutuhan yang berbeda.
Putra sulungnya kini berusia 26 tahun dan merupakan penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan dalam aktivitas sehari-hari. Sementara putra keduanya, yang kini berusia 19 tahun, sedang mengikuti program pelatihan kerja di Bandung sebagai persiapan untuk bekerja di Jepang.
Kondisi tersebut membuat Bunda Reza harus memikirkan banyak hal sekaligus. Ia membutuhkan pekerjaan yang dapat memberikan penghasilan, tetapi di sisi lain tidak membuatnya kehilangan kesempatan untuk merawat dan mendampingi anak.
Sebelum menjadi pengemudi GrabBike, ia pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Ia juga sempat mencoba berjualan makanan. Namun, pada 2016, sebuah informasi mengenai Grab membawanya pada pilihan pekerjaan yang kemudian dijalaninya hingga satu dekade.
Yang membuatnya tertarik adalah fleksibilitas waktu. Bunda Reza dapat menentukan kapan mulai bekerja, kapan berhenti sementara, dan kapan kembali menerima order. Fleksibilitas tersebut menjadi penting karena tanggung jawabnya di rumah tidak pernah benar-benar berhenti.
"Saya punya dua anak yang harus saya hidupi. Kalau saya terus nangis, memang dua anak saya bisa makan air mata? Ya sudah, hapus air mata. Berjuang saja," ujar Bunda Reza.
Kalimat itu menggambarkan cara pandangnya dalam menghadapi keadaan. Alih-alih larut dalam kesulitan setelah menjadi orang tua tunggal, ia memilih untuk terus bergerak.
Membagi Waktu di Jalan dan di Rumah
Rutinitas Bunda Reza selama menjadi pengemudi terbentuk dari kebutuhan keluarga. Ia biasanya mulai on-bid sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah beberapa jam menerima order, ia menyempatkan diri pulang menjelang siang untuk memberi makan dan memastikan kondisi putra sulungnya. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia kembali ke jalan.
Menjelang Magrib, ia kembali lagi ke rumah. Jika kondisi memungkinkan, aktivitasnya sebagai pengemudi berlanjut hingga sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB.
Dalam sehari, Bunda Reza biasanya menyelesaikan sekitar 20 hingga 25 order. Ketika permintaan sedang tinggi, jumlahnya dapat mencapai 33 order.
Pekerjaan tersebut membuatnya harus pandai membaca kondisi. Ia tidak sekadar mengejar jumlah perjalanan, tetapi juga harus memperhitungkan kapan waktunya kembali ke rumah.
Ketika sedang berada di luar, perhatian kepada anak tetap berjalan. Sebuah kamera pengawas yang dipasang di rumah membantunya memantau kondisi putra sulungnya dari kejauhan.
Bagi Bunda Reza, rasa khawatir sebagai seorang ibu tentu tidak pernah sepenuhnya hilang.
"Banyak orang yang bertanya kepada saya, kalau sedang narik, siapa yang menjaga anak pertama saya? Saya selalu menjawab, saya titip sama Allah," katanya.
Ia memahami bahwa bekerja di jalan berarti meninggalkan rumah untuk beberapa waktu. Namun, kebutuhan untuk bekerja juga tidak dapat ditinggalkan.
"Sebagai orang tua, tentu ada rasa khawatir, apalagi saat harus meninggalkan anak untuk bekerja. Tapi saya percaya, selama saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua anak saya, Allah juga akan menjaga dan memberikan jalan," ujarnya.
Bagi Bunda Reza, fleksibilitas bukan sekadar persoalan kenyamanan bekerja. Fleksibilitas menentukan apakah ia dapat menjalankan dua peran sekaligus: sebagai pencari nafkah dan sebagai ibu.
Sepuluh Tahun Perjalanan Seorang Ibu
Ketika pertama kali menjadi mitra pengemudi pada 2016, putra keduanya masih duduk di kelas 3 SD. Saat itu, mungkin sulit membayangkan bagaimana anak yang masih duduk di sekolah dasar tersebut kelak akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang bersiap membangun masa depan di luar negeri.
Sepuluh tahun kemudian, keadaan telah berubah. Putranya telah menyelesaikan sekolah dan kini mengikuti pelatihan kerja di Bandung sebagai persiapan untuk bekerja di Jepang.
Bagi Bunda Reza, perjalanan pendidikan anaknya menjadi salah satu hasil paling penting dari kerja keras selama bertahun-tahun.
Penghasilan dari bekerja sebagai pengemudi digunakan untuk berbagai kebutuhan keluarga. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, perawatan anak, hingga dana cadangan untuk menghadapi kebutuhan yang tidak terduga.
Tidak semua perjalanan berlangsung mulus. Ada masa ketika penghasilan harus dibagi untuk banyak kebutuhan sekaligus. Namun, Bunda Reza berusaha memastikan pendidikan anak tetap menjadi prioritas.
Ia juga tidak ingin anak-anaknya hanya bergantung kepadanya. Sejak kecil, ia berusaha menanamkan gagasan bahwa setiap orang harus belajar berdiri di atas kaki sendiri.
"Saya selalu mengajarkan anak saya untuk berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Bagi saya, kemandirian bukan hanya tentang mampu melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memotivasi diri, terus belajar, dan menjaga semangat saat menghadapi tantangan," tuturnya.
Bagi dia, kemandirian bukan sekadar memiliki pekerjaan atau penghasilan. Kemandirian juga berarti memiliki keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi persoalan dan terus berusaha ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Ia ingin anaknya tumbuh sebagai pribadi yang percaya pada kemampuan sendiri dan tidak mudah menyerah. Pesan itu rupanya turut membentuk cara pandang putra keduanya. Sang anak pernah mengatakan ingin belajar hidup mandiri agar suatu hari dapat membahagiakan ibunya dan kakaknya.
Bagi Bunda Reza, ucapan tersebut menjadi bentuk lain dari hasil perjuangannya.
Ketika Biaya Pendidikan Harus Segera Dibayar
Sebagai orang tua tunggal, salah satu tantangan terbesar bukan hanya mendapatkan penghasilan, tetapi memastikan penghasilan tersebut cukup ketika kebutuhan besar datang secara bersamaan.
Salah satu pengalaman yang paling diingat Bunda Reza terjadi ketika putra keduanya akan masuk SMA. Biaya pendidikan saat itu menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Di tengah berbagai kebutuhan rumah tangga, ia sempat bertanya-tanya dari mana dana tersebut akan diperoleh.
"Ketika anak saya akan masuk SMA, saya sempat menghadapi tantangan dalam menyiapkan biaya pendidikannya. Saya sempat bertanya dalam hati, 'Uangnya dari mana?' Karena saya single parent, tentu saya ingin kebutuhan anak, terutama pendidikan, tetap terpenuhi," ujarnya.
Pada masa itu, ia menerima notifikasi mengenai fasilitas GrabModal Narik by OVO Finansial melalui aplikasi. Bunda Reza kemudian mempertimbangkan fasilitas tersebut sebagai salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan yang sedang dihadapi. Pada pembiayaan pertamanya, ia memperoleh sekitar Rp8 juta. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan pendidikan anak. Sebagian lainnya disimpan sebagai dana cadangan.
Bagi Bunda Reza, dana cadangan penting karena kebutuhan keluarga tidak selalu dapat diprediksi. Setelah kebutuhan pendidikan teratasi, pada kesempatan lain ia kembali memanfaatkan akses pembiayaan untuk kebutuhan mendesak, termasuk memperbaiki bagian dapur rumah yang mengalami kerusakan cukup parah.
Namun, pengalaman tersebut juga membuatnya semakin menyadari bahwa memperoleh pembiayaan harus disertai kemampuan mengelola keuangan.
"Bagi saya, ketika mengambil GrabModal Narik, berarti saya juga harus siap dengan tanggung jawab untuk membayarnya. Saya selalu menghitung dari penghasilan saya on-bid berapa yang bisa saya sisihkan untuk pembayaran tanpa mengganggu kebutuhan sehari-hari," katanya.
Perhitungan tersebut menjadi bagian dari kebiasaannya dalam mengelola pendapatan. Ia tidak ingin kebutuhan yang satu diselesaikan dengan mengorbankan kebutuhan lain. Karena itu, sebelum mengambil pembiayaan, ia berusaha menghitung kemampuan pembayaran berdasarkan penghasilan yang diperoleh dari bekerja.
"Dengan begitu, saya bisa lebih tenang karena tahu batas kemampuan saya," ujarnya.
Berbagi Pengalaman dengan Pengemudi Perempuan
Pengalaman selama satu dekade tidak hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Bunda Reza kini juga aktif dalam komunitas pengemudi perempuan sebagai Ketua Komunitas Lady Grab Jakarta Timur.
Di lingkungan komunitas tersebut, pengalaman hidup dan bekerja yang dimilikinya menjadi bekal untuk berbagi dengan sesama perempuan. Ia berbicara tentang bagaimana menjaga penghasilan, mengatur keuangan keluarga, hingga pentingnya mempertimbangkan kemampuan finansial sebelum mengambil pembiayaan.
Baginya, menjadi perempuan yang bekerja bukan hanya soal memiliki penghasilan sendiri. Ada tanggung jawab untuk memahami bagaimana penghasilan tersebut digunakan dan dikelola.
Terlebih bagi perempuan yang juga menjadi tulang punggung keluarga, pengelolaan keuangan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan rumah tangga.
Pengalaman Bunda Reza merupakan salah satu cerita dari pemanfaatan akses pendanaan dalam ekosistem Grab. Grab menyebut lebih dari 600.000 mitra UMKM, yang terdiri atas mitra GrabMerchant dan mitra pengemudi di seluruh Indonesia, telah mengakses pendanaan senilai lebih dari Rp9 triliun melalui GrabModal sejak layanan tersebut diluncurkan.
Melalui GrabModal by OVO Finansial, mitra pengemudi dan merchant dapat mengakses layanan pendanaan dari penyedia jasa keuangan yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Skema pembayaran juga dirancang untuk menyesuaikan karakteristik pendapatan mitra.
Bagi Bunda Reza sendiri, fasilitas pendanaan tersebut merupakan salah satu pilihan ketika kebutuhan keluarga datang pada saat yang tidak selalu bisa diprediksi.
Namun, pengalaman selama bertahun-tahun membuatnya memahami bahwa akses terhadap dana harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab mengelolanya.
Bukan Sekadar Soal Penghasilan
Setelah 10 tahun berada di jalan, kehidupan ekonomi Bunda Reza perlahan berubah. Penghasilan sebagai pengemudi tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga dapat menabung, membeli kendaraan yang digunakan untuk bekerja, memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan pendidikan anak, serta menyisihkan dana untuk kebutuhan yang tidak terduga.
Namun, ketika ditanya mengenai pencapaian selama menjadi mitra pengemudi, Bunda Reza tidak serta-merta berbicara tentang benda yang berhasil dibeli. Ukuran keberhasilan baginya jauh lebih sederhana: ia mampu memenuhi kebutuhan anak-anak dari hasil kerjanya sendiri.
"Sejak menjadi Mitra Pengemudi GrabBike, saya merasa lebih percaya diri karena bisa membantu memenuhi kebutuhan anak-anak dari hasil keringat saya sendiri," ujarnya.
Ia merasa bersyukur ketika penghasilan yang diperoleh dari perjalanan demi perjalanan dapat berubah menjadi makanan di meja makan, biaya pendidikan, perbaikan rumah, kendaraan untuk bekerja, atau dana yang disimpan untuk menghadapi kebutuhan berikutnya.
"Kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, kebutuhan anak-anak juga tetap terpenuhi, dan saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk keperluan tak terduga. Rasanya senang sekali ketika saya tahu hasil kerja saya bisa memberikan manfaat bagi keluarga," katanya.
Sepuluh tahun di jalan juga mengajarkan Bunda Reza bahwa kemandirian tidak berarti harus menghadapi segala sesuatu seorang diri.
Ada anak-anak yang menjadi alasan untuk terus berjuang. Ada komunitas tempat berbagi pengalaman. Ada pekerjaan yang memberinya ruang untuk mengatur waktu. Dan ada kesempatan untuk membangun kondisi ekonomi keluarga sedikit demi sedikit. Semua itu tidak datang sekaligus.
Bunda Reza membangunnya melalui perjalanan panjang, satu order demi satu order. Dari seorang ibu yang harus mencari cara untuk menghidupi dua anak setelah berpisah dengan suami, ia perlahan membangun kehidupan yang lebih stabil. Putra sulungnya tetap mendapat pendampingan, sementara putra keduanya kini bersiap memasuki tahap baru dalam kehidupannya.
Jika satu dekade lalu ia hanya memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga hari demi hari, kini pandangannya mulai lebih jauh. Ia ingin kedua anaknya memiliki kehidupan yang mandiri.
Dan mungkin, bagi Bunda Reza, di situlah makna terbesar dari 10 tahun bekerja di jalan: bukan tentang berapa banyak order yang telah diselesaikan, melainkan tentang berapa banyak harapan yang berhasil ia bawa pulang kepada keluarganya.
- UMKM
- Grab
- GrabBike
- Pekerja Perempuan
- mitra pengemudi
- Jakarta
- kemandirian finansial
- perempuan
- kisah inspiratif
- Ekonomi Digital
- GrabModal
- Ovo Finansial
- Bunda Reza
- Siti Khodijah
- Ibu Tunggal
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Serangan Drone Besar-Besaran Guncang Moskow, Rusia Beberkan Aksi Ukraina
-
GEBUK JUDOL Ronde 3 Perkuat Edukasi Keamanan Digital dan Partisipasi Publik
-
Pelita Air Siapkan Beragam Aktivasi Jelang MotoGP Mandalika 2026
-
Keamanan Pembayaran Digital Menghadapi Ancaman AI hingga Komputasi Kuantum
-
SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Buka Peluang Bisnis Makanan dan Minuman Indonesia ke Pasar Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.