Program Palu Mapan Tetap Mampu Produktif di Tengah Fenomena El Nino
Selasa, 06 Okt 2026, 12:50 WIBPALU - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah optimistis program inovasi Palu mandiri, adaptif dan stabilitas pangan (Mapan) tetap mampu produktif meski fenomena El Nino masih terus berlanjut.
"Meski sektor pertanian menghadapi tantangan perubahan iklim El Nino namun petani masih bisa berproduksi dan kami yakin program ini bisa menjaga kondisi inflasi daerah," kata Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhiddin usai panen komoditas tomat yang merupakan program Palu Mapan di Palu, Selasa (6/10).
Ia mengemukakan komoditas tomat di panen saat ini berada di lahan seluas 6 ribu meter persegi dengan jumlah tanaman 7 ribu pohon di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore.
Menurut dia, di tengah kondisi cuaca panas yang ekstrem saat ini per satu pohon dapat menghasilkan maksimal 1 kilogram tomat. Jika rata-rata per satu pohon menghasilkan 1 kilogram tomat, diproyeksikan produksi petani dapat mencapai 7 ton dalam lima kali panen setiap empat hingga lima hari sekali.
"Hasil produksi petani dapat menambah pasokan dalam daerah dan secara ekonomis petani mendapat untung," ujarnya.
Tantangan perubahan iklim, kata dia, jangan menjadikan petani patah semangat dalam meningkatkan produksi pertanian, meskipun lahan pertanian terbatas pemanfaatan lahan tidur maupun pekarangan dapat dimanfaatkan untuk menjaga kelangsungan kebutuhan pangan masyarakat.
Sebagai mana tujuan utama program Palu Mapan diciptakan untuk menjaga ketersediaan pasokan dan mengurangi ketergantungan dari suplai luar daerah.
"Program Palu Mapan, kemudian diterjemahkan dalam sup program Kelurahan Menanam sebetulnya bukan hanya menyasar lahan pertanian/lahan tidur, tetapi juga menyasar lahan pekarangan rumah untuk menanam komoditas hortikultura," tutur Imelda.
Ia memaparkan konsep itu selain memperkuat ekonomi kerakyatan, juga upaya menjaga stabilitas harga bahan pangan di pasar.
Sementara itu Koordinator Kelurahan Menanam Dinas Pertanian dan Ketahanan Palu Asrul mengatakan, khusus tanaman tomat Pemkot Palu melibatkan sembilan wilayah sebagai tematik pada komoditas tersebut, salah satunya Kelurahan Kawatuna.
Menurut Pemkot Palu tiga komoditas hortikultura yakni bawang merah, cabai dan tomat memberikan andil terhadap inflasi daerah.
"Itu sebanyak pemerintah kota memproduksi komoditas bawang merah, cabai dan tomat dalam jumlah banyak, tujuannya untuk mengendalikan dan menjaga stabilitas inflasi," ucapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat inflasi Kota Palu pada semester I tahun 2026 atau bulan Juli di angka 2,96 persen, lalu di bulan Agustus turun menjadi 2,61 persen.
"Kami terus menggenjot 46 Kelurahan di Kota Palu lebih produktif, karena masing-masing wilayah telah ditetapkan sesuai tematik," kata dia.
- Fenomena El Nino
- Program Palu Mapan
- Tetap Produktif
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan, Ekspektasi Pengetatan The Fed Picu Aksi Investor
-
Best Western Premier The Hive Rilis Donut & Bomboloni Premium Mulai Rp15 Ribuan
-
Tiga Ekor Orang Utan kembali ke Rimba Kalimantan
-
Gus Kikin Resmi Dipilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026–2031
-
Banjir Aceh Tenggara Bikin Jembatan Kuning Jebol, Menteri PU: Harus Dikangkangin Pakai Flyover!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.