Tiga Ekor Orang Utan kembali ke Rimba Kalimantan
Sabtu, 27 Jun 2026, 19:48 WIBSAMARINDA - Dalam rimbunnya Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur, Kalimantan Timur, suasana pagi itu terasa hening, namun sarat makna.
Angin berembus lembut menyapa dedaunan di pohon raksasa, sementara air Sungai Hagar, anak Sungai Menyuq, mengalir tenang membelah bentang alam yang masih terjaga keasliannya.
Tempat yang selama ini menjadi rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna itu, pada Selasa, 23 Juni 2026, kembali menyambut tiga penghuni baru yang sebenarnya telah lama merindukan kebebasan.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh perjuangan, tiga individu bernama Bagus, Eboni, dan Ruby, akhirnya melangkah kembali ke pelukan rimba, alam liar yang seharusnya menjadi rumah mereka sejak lahir, hingga menua.
Pelepasliaran itu merupakan hasil kerja sama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, serta Centre for Orangutan Protection (COP).
Bagi para pemerhati alam, momen ini bukan sekadar membuka pintu kandang, melainkan sebuah kemenangan besar dalam upaya mengembalikan keseimbangan alam dan menyelamatkan masa depan salah satu spesies langka yang terancam punah, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Wilayah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dipilih sebagai rumah baru mereka bukan tanpa alasan, karena kawasan itu dikelola secara ketat oleh KPHP Kelinjau yang memiliki struktur hutan lengkap.
Kawasan itu juga menyediakan ketersediaan pakan alami yang melimpah, mulai dari buah-buahan, daun, hingga tunas beragam spesies pohon, sehingga dinilai aman dan mampu mendukung keberlangsungan hidup ketiga satwa tersebut.
Pelepasliaran itu juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus. Sebuah kado berharga bagi alam, sekaligus pengingat bagi semua bahwa upaya menjaga kelestarian satwa tidak boleh berhenti.
Melepaskan orangutan ke alam liar bukanlah perkara sederhana yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap langkah harus direncanakan matang demi mengurangi risiko stres, sekaligus memastikan mereka mampu bertahan hidup di belantara.
Tim gabungan menerapkan strategi khusus dalam penentuan waktu dan lokasi pelepasan. Ketiga orangutan itu tidak dilepaskan secara bersamaan di satu titik, melainkan disebar dengan jarak dan waktu yang diatur sesuai perhitungan matang tim.
Urutan pelepasan dimulai dari Eboni, dilanjutkan dengan Bagus, dan diakhiri Ruby. Pembagian lokasi pun dirancang cermat. Eboni dan Ruby dilepaskan di hamparan daratan yang sama, namun jarak antar-titik pelepasan dipisah sekira 1 kilometer.
Sementara itu, Bagus menempuh perjalanan terpisah. Ia dilepaskan di seberang sungai, pada wilayah yang berbeda daratan, dengan jarak sekira 500 meter dari titik pelepasan dua rekannya.
"Strategi ini penting agar mereka punya ruang jelajah awal masing-masing, tanpa harus langsung bersaing memperebutkan wilayah atau pakan," ujar Widi Nursanti, Manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan COP.
Seluruh titik pelepasan dipusatkan di sekitar aliran Sungai Hagar yang menjadi jantung kehidupan hutan itu. Dengan pembagian jarak seperti ini, tim memberi kesempatan tiap individu mengenali lingkungan baru secara perlahan dan tenang. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
-
Josh Groban Tampil di Jakarta dalam Rangkaian GEMS World Tour 2026
-
Kasus Kematian Dokter Magang di RSUD Jambi Diselidiki, DPR Soroti Dugaan Eksploitasi Kerja
-
Ancol Lunar Festival 2026 Hadirkan Beragam Atraksi Tahun Baru Imlek
-
Sikap China Terkait Ancaman Serangan Militer Amerika Serikat ke Iran dan Krisis Energi Global
-
Kemensos Salurkan Bantuan Dana Rp100,9 Miliar ke Penyintas Bencana di Aceh Timur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.