Badan Geologi Kementerian ESDM Ingatkan Potensi Ancaman Lahar Dingin Gunung Talang
Selasa, 06 Okt 2026, 13:47 WIBJAKARTA â Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk mewaspadai bahaya sekunder berupa lahar hujan di Kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Â
Kepala Badan Geologi Lana Saria di Jakarta, Selasa (06/10), mengatakan kawasan terdampak bencana tidak hanya berada dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah, tetapi juga masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) I Gunungapi Talang.Â
Namun, wilayah hilir Arosuka secara geologis tersusun dari endapan vulkanik muda, batu apung, tuf, serta lahar yang belum terkonsolidasi dengan sempurna.
Kondisi batuan yang berporositas tinggi tersebut, menurut dia menjadi sangat rapuh dan mudah jenuh air saat diterpa hujan berintensitas tinggi, sehingga berpotensi memicu pergerakan massa tanah secara masif.Â
"Keberadaan material vulkanik lepas dan tanah pelapukan tebal di wilayah hulu menjadi penyedia sedimen utama yang sewaktu-waktu dapat tergerus menjadi aliran lahar atau banjir bandang," kata Lana.Â
Menurut dia, ancaman ini kian nyata karena karakteristik morfologi lembah sungai setempat berbentuk penampang V terjal yang secara alami memusatkan debit aliran permukaan ke satu titik hilir.Â
Badan Geologi mencatat volume material yang tersisa di lereng atas masih berpotensi bergerak jika dipicu curah hujan yang melampaui kapasitas infiltrasi tanah. Oleh karena itu, sosialisasi kesiapsiagaan bencana geologi kepada warga di sepanjang aliran sungai harus terus ditingkatkan sebagai langkah antisipasi dini terhadap ancaman susulan.
Tim penyelidik Badan Geologi sebelumnya melaporkan hasil evaluasinya bahwa peristiwa banjir bandang di Kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 21 September lalu dipicu oleh kombinasi hujan lebat serta penyumbatan material longsoran di wilayah hulu lereng barat Gunung Talang.Â
Adapun peristiwa yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang cukup masif itu diawali oleh pergerakan tanah di bagian hulu akibat curah hujan tinggi yang mengguyur sejak dua hari sebelumnya.
Material longsor berupa tanah, batuan vulkanik, dan bongkah andesit berukuran 2 hingga 3 meter masuk ke alur sungai dan terakumulasi di lokasi pertemuan dua lembah utama.
Akumulasi material tersebut diduga kuat membentuk bendungan alami (natural dam) yang sempat membendung aliran air di bagian hulu hingga memicu genangan air dalam volume besar.
Kondisi itu dilaporkan semakin diperparah oleh beda tinggi ekstrim antara daerah hulu dan hilir yang mencapai 1.325 meter, sehingga memberikan energi gravitasi yang sangat besar bagi pergerakan aliran material.
Hasil kajian geologi juga mencatat bahwa material piroklastik dan tanah pelapukan di lereng Gunung Talang yang belum terkonsolidasi dengan baik sangat mudah tererosi dan larut saat mengalami peningkatan kadar air.
Sistem aliran sungai di kawasan Arosuka yang memiliki pola konvergensi atau penggabungan beberapa anak sungai akhirnya meluap ke hilir sejauh kurang lebih 8 kilometer dari pusat hulu longsor.
- Lahar Dingin
- Badan Geologi Kementerian ESDM
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Gubernur Pramono: Pemimpin Harus Kolaboratif, Disiplin, dan Fokus agar Jakarta Jadi Kota Global
-
IJTI Sulsel Gelar Doa Bersama untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Perairan Selat Sunda
-
Situbondo Gebrak Wisata, KSP Bahari Pasir Putih Jadi Andalan
-
Realisasi Investasi Jakarta Tembus Rp94,9 Triliun, Salip Jawa Barat di Semester I 2026
-
Selat Hormuz Belum Dibuka, Iran dan Oman Nyaris Capai Kesepakatan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.