Data Center Jatiluhur Butuh Air 33 Juta Liter per Hari, PAM Jaya Diminta Waspada
📅 Senin, 05 Okt 2026, 14:35 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Rencana pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) Data Center milik BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, mendapat perhatian DPRD DKI Jakarta. Kebutuhan air untuk proyek tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap sumber air baku yang selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan air Jakarta.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Ade Suherman mengatakan kebutuhan air proyek tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama jika fasilitas dikembangkan hingga kapasitas maksimal. Pada kapasitas tersebut, kebutuhan air diperkirakan mencapai sekitar 384 liter per detik atau setara dengan 33 juta liter per hari.
Proyek AI Data Center BDx tersebut memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. Pada tahap awal, kebutuhan air proyek diperkirakan mencapai sekitar 6.000 meter kubik per hari dan jumlah tersebut akan meningkat seiring dengan pengembangan fasilitas.
Besarnya kebutuhan air tersebut menjadi perhatian karena Waduk Jatiluhur merupakan salah satu sumber air baku utama untuk sistem penyediaan air minum Jakarta. Karena itu, setiap perubahan pemanfaatan air di kawasan tersebut dinilai perlu diperhitungkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Jakarta dalam jangka panjang.
"Ini harus menjadi warning bagi Jakarta," ujar Ade dalam keterangan tertulis, Sabtu (3/10/2026).
Ade menegaskan sorotan DPRD DKI bukan berarti pihaknya menolak investasi pusat data maupun perkembangan teknologi berbasis AI. Menurutnya, kebutuhan air dalam jumlah besar harus dihitung dalam perspektif ketahanan air regional agar kebutuhan industri tetap berjalan tanpa mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.
"Jakarta sangat bergantung pada Jatiluhur. Setiap perubahan pemanfaatan air harus menjadi perhatian PAM Jaya," kata Ade.
Ade menyoroti tingginya ketergantungan Jakarta terhadap Waduk Jatiluhur sebagai salah satu sumber air baku utama. Berdasarkan data PAM Jaya, Jatiluhur menjadi sumber air baku terbesar bagi Jakarta dengan kapasitas sumber sekitar 18.000 liter per detik.
Pada akhir Agustus 2026, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin juga menyebut Jakarta masih sangat mengandalkan sumber air dari Jatiluhur. Sementara itu, hasil pemantauan bersama Perum Jasa Tirta II menunjukkan kondisi Waduk Jatiluhur masih berada dalam batas aman.
PAM Jaya dan Perum Jasa Tirta II mencatat kebutuhan air untuk penyediaan air minum, irigasi, industri, serta kebutuhan lainnya masih dapat terpenuhi hingga akhir 2026. Namun, Ade menilai kondisi tersebut justru harus menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan terhadap neraca air dalam jangka panjang.
"Kalau hari ini masih aman, bukan berarti kita boleh lengah," kata dia.
Ade meminta PAM Jaya tidak hanya mengelola air yang sudah masuk ke Jakarta, tetapi juga aktif mengawal sumber air baku di wilayah hulu. Pengawasan tersebut dinilai perlu dilakukan bersama Perum Jasa Tirta II dan pemerintah daerah terkait untuk memastikan keberlanjutan pasokan air bagi Jakarta.
Selain persoalan sumber air baku, Ade mengingatkan PAM Jaya agar agenda pengembangan korporasi tidak menggeser tugas utamanya sebagai BUMD penyedia layanan air minum bagi warga Jakarta. Menurutnya, penguatan bisnis perusahaan harus tetap ditempatkan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
"PAM Jaya dapat berkembang menjadi perusahaan yang kuat. Tetapi bisnis intinya tetap pelayanan air minum," tegas Ade.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!