Rumaket 2026 Angkat Transformasi Wayang Yogya agar Dekat dengan Generasi Muda

Minggu, 04 Okt 2026, 20:30 WIB

YOGYAKARTA – Warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya. Cara memperkenalkan dan mewariskannya juga perlu menyesuaikan perkembangan zaman agar tetap dipahami dan diminati masyarakat, terutama generasi muda. Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus Ruang Masyarakat Ketemu (Rumaket) 2026 yang digelar di Taman Pintar Yogyakarta, 4-10 Oktober.

Kegiatan yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan tersebut mengangkat tema Hageganti. Salah satu agenda utamanya berupa pameran bertajuk Hageganti: Transformasi Wayang Yogya yang memperlihatkan perubahan wayang dari masa ke masa, termasuk perkembangannya dalam konteks budaya perkotaan.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkot Yogyakarta

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan Rumaket yang tahun ini memasuki penyelenggaraan keenam merupakan ruang untuk merayakan warisan budaya tak benda melalui berbagai kegiatan. Menurutnya, warisan budaya perlu terus dihidupkan dengan menyesuaikan cara penyampaiannya agar tetap relevan.

“Pameran Rumaket kita mengambil tema Hageganti itu mempunya arti bagaimana pewarisan budaya dimaknai atau disesuaikan dengan kondisi saat ini, supaya bisa dipahami masyarakat atau anak-anak dengan lebih baik,” saat jumpa pers usai doa bersama jelang Rumaket 2026 di Taman Pintar, Sabtu (3/10/2026).

Pendekatan tersebut juga terlihat dalam pertunjukan Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka. Pertunjukan kolaborasi yang melibatkan peserta pelatihan dalang dan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Kota Yogyakarta itu dirancang dengan pendekatan bermain agar wayang lebih mudah diterima anak-anak.

Selain itu, Rumaket menghadirkan pertunjukan Rumaket Bercerita “Srikandi Hari Ini” serta berbagai seni yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Pembukaan Rumaket 2026 juga ditandai dengan peluncuran buku Panggung Publik: Wayang, Simbol, dan Budaya Urban.

“Yang menarik kita akan menghadirkan pertunjukan kolaborasi Wayang Playground. Dalang maupun pemainnya adalah anak-anak. Jadi bagaimana kemudian pewarisan budaya yang disampaikan itu bisa dipahami oleh anak-anak dalam konteks hari ini. Kemudian juga ada pertunjukan seni yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Seperti ada dolanan anak dan tarian,” paparnya.

Tidak hanya wayang dan seni pertunjukan, Rumaket juga mengangkat warisan kuliner Yogyakarta. Sejumlah makanan yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, seperti kicak, legomoro, dan kipo, akan hadir dalam pasar kuliner. Pengunjung juga dapat mengikuti live cooking yang mengangkat kuliner warisan budaya tersebut.

Yetti mengatakan pelibatan pelaku UMKM menjadi bagian penting agar kuliner warisan budaya tetap berkembang dan dapat dinikmati dalam kehidupan masyarakat saat ini.

“Karena proses pelestarian itu harusnya juga konteksnya bagaimana tetap hidup, tetap berjalan, tetap berkelanjutan sampai hari ini,” ujar Yetti.

Kurator pameran Rumaket, Fajar Wijanarko, mengatakan tema Hageganti dipilih untuk menunjukkan bahwa proses pewarisan budaya tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk lama. Kebudayaan juga perlu memiliki ruang untuk bertransformasi tanpa kehilangan identitasnya.

Menurut Fajar, wayang merupakan salah satu contoh warisan budaya yang telah melewati berbagai zaman. Di Yogyakarta, bentuk transformasinya dapat dilihat dalam berbagai perkembangan pertunjukan, termasuk Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) yang menjadi bagian dari budaya pertunjukan masyarakat perkotaan.

“Kalau melihat ke ruang pamer, pengunjung akan diajak untuk membaca transformasi wayang bukan hanya secara bentuk maupun secara arsip. Tetapi, bagaimana melihat berbagai material yang ternyata mampu menjadi dokumentasi wayang dari masa ke masa. Misalnya koleksi kartu pos yang diterbitkan tahun 1903 yang mendokumentasikan wayang. Ada juga koleksi wayang dan didukung dengan manuskrip wayang. Kami juga membawa konsep wayang ini bertransformasi pad sepuluh tahun yang lalu ketika Wayang Jogja Night Carnival itu diawali,” jelas Fajar.

Sementara itu, Ketua PEPADI Kota Yogyakarta Faizal Noor Singgih mengatakan Wayang Playground akan melibatkan sekitar 50 anak yang merupakan peserta pelatihan dalang. Mereka selama ini mengikuti pelatihan yang difasilitasi di pendopo Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta setiap Minggu bersama PEPADI Kota Yogyakarta.

Pertunjukan bertema Menyusun Puzzle Menuju Alengka tersebut mengambil gagasan dari cerita Rama Tambak yang berkaitan dengan tokoh kera atau wayang kapi-kapi dan pernah menjadi ide dalam WJNC.

“Ide gagasannya adalah dari cerita Rama Tambak yang terkait kera-kera atau wayang kapi-kapi dan pernah menjadi ide gagasan dalam WJNC. Jadi bagaimana menumbuhkan semangat untuk tresna (cinta) dengan wayang, lalu bagaimana melakonkan wayang ini dengan bahasa anak-anak. Nah itu digambarkan dalam menata puzzle menuju Alengka. Kita ingin menanamkan tentang kerukunan, gotong royong, kebijaksanaan, tapi dengan bahasa anak-anak,” pungkas Faizal.

Rumaket 2026 menjadi salah satu kegiatan pendukung HUT ke-270 Kota Yogyakarta. Selain pameran dan pertunjukan, rangkaian kegiatan juga mencakup talkshow, workshop, kuliner, serta aktivitas edukatif dan partisipatif yang berkaitan dengan warisan budaya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.