Puluhan Hewan di Gunungkidul Terpapar Antraks, Ini Langkah Cepat Kementan
📅 Minggu, 04 Okt 2026, 19:56 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat dukungan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam upaya pengendalian penyakit hewan menyusul kejadian antraks di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu.
Langkah penanganan dilakukan secara bersama melalui penyelidikan epidemiologi, pelayanan kesehatan ternak, disinfeksi, vaksinasi, pemeriksaan laboratorium, pengawasan kesehatan hewan, serta komunikasi dan edukasi kepada masyarakat.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan pengendalian dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah dan petugas kesehatan hewan di lapangan.
“Penanganan dilakukan secara terpadu. Petugas kesehatan hewan bersama pemerintah daerah telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pelayanan kesehatan ternak, disinfeksi, vaksinasi, serta pemeriksaan laboratorium. Surveilans juga terus dilakukan untuk mengikuti perkembangan kondisi di lapangan,” kata Hendra di Kantor Kementan, Jakarta, akhir pekan ini.
Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul telah melakukan penyelidikan epidemiologi pada 11 September 2026 untuk menelusuri kejadian, mengetahui kondisi ternak di sekitar lokasi, serta mengambil sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pada 12 September, dilakukan disinfeksi pada kandang terdampak, pengobatan terhadap ternak yang memerlukan penanganan, serta pemberian vitamin kepada ternak sehat di sekitar lokasi. Penanganan kemudian dilanjutkan pada 14 September dengan pemberian antibiotik dan vitamin kepada 88 ekor kambing dan 11 ekor sapi di Kalurahan Dadapayu. Setelah masa pemberian antibiotik selesai, vaksinasi antraks mulai dilaksanakan pada 28 September 2026 terhadap ternak di sekitar wilayah tersebut.
Vaksinasi menjadi bagian dari langkah pencegahan untuk meningkatkan perlindungan ternak dan mengurangi risiko kejadian serupa.
Kementan melalui Balai Besar Veteriner (BBV) Wates turut melakukan investigasi lapangan serta mengambil sampel tanah dan swab untuk mendukung peneguhan diagnosis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan beberapa sampel positif bakteri Bacillus anthracis.
Kepala BBV Wates, Nur Saptahidhayat, mengatakan pemeriksaan laboratorium memiliki peran penting dalam memberikan kepastian diagnosis sehingga langkah penanganan di lapangan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat.
“Peran Balai terutama memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. Dengan diagnosis yang dapat diteguhkan, respons dan langkah pengendalian dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat, sekaligus menjadi dasar bagi koordinasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit zoonosis,” ujar Sapto, sapaannya.
Menurut Sapto, penanganan penyakit zoonosis membutuhkan keterhubungan antara hasil pemeriksaan laboratorium, penyelidikan epidemiologi, tindakan kesehatan hewan, serta koordinasi dengan sektor kesehatan manusia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, pemantauan dan pengendalian dilanjutkan sesuai prosedur kesehatan hewan, termasuk pengawasan kesehatan ternak di pasar serta evaluasi terhadap pelaksanaan dekontaminasi dan disinfeksi.
BBV Wates juga akan melakukan pengambilan sampel kembali sesuai tahapan yang telah ditetapkan untuk melihat kondisi lingkungan setelah penanganan dilakukan.
Koordinasi dengan sektor kesehatan manusia juga dilakukan sebagai bagian dari pendekatan terpadu dalam penanganan penyakit zoonosis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!