Jaga Inflasi, Pemerintah Tambah 74 Ribu Ton Beras SPHP Hingga November
📅 Minggu, 04 Okt 2026, 15:40 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA – Pemerintah menambah alokasi beras murah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 74,18 ribu ton atau setara 14,83 juta kemasan 5 kilogram. Langkah ini untuk menjaga inflasi beras di tengah ancaman El Nino.
Penugasan tambahan kepada Perum Bulog tersebut tertuang dalam kebijakan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dengan anggaran Rp 409 miliar. Bulog diberi tenggat menyalurkan tambahan beras SPHP tersebut hingga 20 November 2026.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian menegaskan stok beras pemerintah dalam kondisi aman dan melimpah.
"Sekarang stok beras kita banyak. Indonesia tidak impor beras medium lagi. Kita operasi besar. SPHP beras digelontorkan. Kemudian ada bantuan pangan untuk 33,24 juta orang di seluruh Indonesia," kata Amran di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Penambahan ini menyusul penyaluran SPHP sebelumnya sebanyak 828 ribu ton yang telah tuntas 100 persen pada 23 September 2026.
Bapanas mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog masih di angka 4,48 juta ton per 30 September 2026, naik 14,8 persen dibanding 3,9 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Sementara total penyaluran CBP sepanjang 2026 telah mencapai 2,73 juta ton, melonjak 245 persen dari 790,8 ribu ton pada September 2025.
Rinciannya, realisasi SPHP Januari-Februari 221,05 ribu ton, SPHP Maret-September 828 ribu ton, bantuan pangan tahap I 662,86 ribu ton, tahap II 944 ribu ton, serta bantuan bencana dan keadaan darurat 13,3 ribu ton dan golongan anggaran 63,9 ribu ton.
Langkah operasi pasar besar-besaran ini dilakukan karena inflasi beras tahunan per September 2026 tercatat 3,73 persen. Angka ini memang naik dibanding bulan sebelumnya, namun lebih stabil dibanding September 2025 yang 4,06 persen dan September 2024 yang sempat 5,91 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan penyebab fluktuasi harga beras pada September. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut faktor cuaca dan kemarau kering akibat El Nino menjadi pemicu.
"Untuk kenaikan harga beras pada bulan September 2026, ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya. Kemudian juga ada kondisi kemarau yang lebih kering, terkait dengan adanya fenomena El Nino," urai Ateng.
Menurut BPS, kemarau membatasi kegiatan tanam dan menghambat pasokan gabah ke penggilingan. Kendati demikian, kinerja luas panen 2026 masih lebih baik dibanding El Nino 2023 dan 2024. Luas panen Januari-November 2026 diperkirakan 10,56 juta hektare, lebih tinggi dari 9,86 juta hektare pada 2023 dan 9,69 juta hektare pada 2024.
Di sisi lain, indeks harga yang diterima petani padi pada September 2026 justru meningkat hingga 155,61, tertinggi dalam 8 tahun terakhir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!