AS Ajak G20 Lawan Produksi Baja Berlebih, Tiongkok di Luar Kesepakatan

Jumat, 02 Okt 2026, 02:00 WIB

MILWAUKEE - Amerika Serikat (AS) mendorong langkah untuk mengatasi kelebihan kapasitas industri yang dinilai menekan harga secara tidak adil, kata utusan perdagangan utama Washington pada Rabu (30/9) di sela-sela pertemuan G20. Sejumlah negara, tanpa Tiongkok, menyepakati rencana yang mencakup pengurangan subsidi.

Perkembangan itu terjadi ketika para pejabat negara-negara anggota G20 berkumpul di kota Milwaukee, AS, selama dua hari. Secara terpisah, sekelompok negara menyepakati kerangka kerja untuk mengatasi kelebihan produksi baja yang "terus berlangsung".

Ket. Foto: Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer difoto pada hari pertama Konferensi Tingkat Menteri Perdagangan G20 di Milwaukee, Wisconsin, Rabu (30/9). — Sumber: AFP/KAMIL KRZACZYNSKI

Kelebihan kapasitas merupakan kritik yang kerap diarahkan kepada Tiongkok, dengan tuduhan bahwa negara tersebut memproduksi lebih banyak daripada yang dikonsumsi sehingga membanjiri pasar. Beijing membantah tuduhan tersebut.

"Kami merilis kerangka kerja Milwaukee untuk mengambil langkah terkoordinasi dalam mengatasi kelebihan kapasitas baja," kata pejabat perdagangan utama AS Jamieson Greer.

"Setiap negara akan melakukan apa yang mereka anggap tepat. Kami ingin mengoordinasikan langkah-langkah tersebut," tambah Greer. "AS telah mengambil langkah-langkah tegas dan mungkin masuk akal jika negara-negara lain juga melakukan hal yang sama."

Greer tidak menjelaskan apakah yang dimaksudnya adalah negara-negara lain menaikkan hambatan perdagangan terhadap baja Tiongkok.

Kerangka kerja tersebut dirilis setelah pertemuan Global Forum on Steel Excess Capacity. Forum tersebut memiliki 28 anggota, termasuk Uni Eropa, Australia, Jepang, dan Korea Selatan, tetapi tidak mencakup Tiongkok.

Ketika ditanya mengenai pesannya kepada mitra dagang terkait kelebihan kapasitas pada pekan ini, Perwakilan Perdagangan Internasional Tiongkok Li Chenggang mengatakan kepada AFP pada Rabu pagi bahwa negara-negara anggota G20 belum membahas topik tersebut.

Selain rencana mengurangi atau menghapus "subsidi yang mendistorsi pasar", para anggota forum baja global juga sepakat meningkatkan pertukaran data untuk membantu mengidentifikasi "pola perdagangan baja yang mencurigakan", menurut kerangka kerja tersebut.

Ketegangan Perdagangan

Saat para menteri perdagangan G20 memulai pembicaraan pada Rabu, "foto keluarga" tradisional dilakukan dua kali sehingga para pemimpin Eropa dapat berdiri terpisah dari perwakilan Russia, menurut sejumlah sumber kepada AFP.

Para pemimpin Eropa sebelumnya menolak berfoto bersama Russia dalam sesi foto G20. Sejumlah pihak menilai kehadiran bersama tersebut dapat mengirimkan pesan yang mengkhawatirkan setelah invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.

Tarif global yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump juga membayangi pembicaraan G20 dan mendorong sejumlah negara mencari kerja sama di luar negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

Pertemuan berlangsung di tengah semakin dalamnya perang dagang AS-Kanada, gelombang tarif AS, serta penyelidikan Trump terhadap negara-negara anggota terkait kelebihan kapasitas industri.

Para analis memperkirakan hanya sedikit terobosan yang akan dicapai karena ketegangan perdagangan masih berlangsung.

Sejumlah negara tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Trump. India berusaha menyelesaikan kesepakatan perdagangan, sementara Brasil mengatakan telah menggelar pertemuan tatap muka yang "konstruktif" dengan Greer.

Namun, ancaman tarif tambahan tetap membayangi bahkan negara-negara yang telah mencapai kesepakatan dengan AS. Penyelidikan AS terkait kelebihan kapasitas saat ini menyasar 16 mitra dagang, termasuk Tiongkok, Uni Eropa, Jepang, dan India.

Menteri Keuangan Polandia Andrzej Domanski pada Rabu menyerukan penurunan hambatan perdagangan.

"Saya berharap mitra kami di AS akan mematuhi seluruh kesepakatan yang telah dibuat," katanya, merujuk pada kesepakatan sebelumnya antara AS dan Uni Eropa untuk membatasi tarif Trump terhadap blok tersebut sebesar 15 persen.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.