Turki Tutup Situs Berita Independen T24, Pemerintah Sebut Ada Konten Propaganda LGBT

Kamis, 01 Okt 2026, 06:00 WIB

Istanbul  - Turki pada Rabu (30/9) menutup situs web dan akun media sosial T24, salah satu situs berita digital independen terkemuka di negara tersebut, dengan alasan adanya "propaganda LGBT", kata Kementerian Kehakiman Turki.

Langkah tersebut dilakukan beberapa pekan setelah otoritas melancarkan tindakan keras terhadap komunitas LGBTQ dengan menggerebek bar gay, kelab malam, serta rumah para aktivis dan anggota komunitas. Penggerebekan itu disertai surat perintah terhadap 162 orang.

Ket. Foto: Polisi dan demonstran telah terlibat bentrokan pada bulan ini terkait tindakan keras pemerintah terhadap komunitas LGBTQ. — Sumber: AFP

Penutupan T24 mendapat kecaman keras dari 12 asosiasi jurnalis Turki serta partai oposisi utama Yeni Parti.

"Sebagai bagian dari penyelidikan 'Keluargaku Aman' ... situs web dan akun media sosial portal berita daring T24, yang selama setahun terakhir memproduksi 118 konten yang merupakan propaganda LGBT, telah ditutup," demikian pernyataan Kementerian Kehakiman.

Situs T24 dan akun X miliknya ditutup berdasarkan perintah Pengadilan Hakim Perdamaian Istanbul 1 tertanggal 29 September, menurut EngelliWeb, lembaga yang memantau penyensoran internet di Turki.

Editor meja berita luar negeri T24 Buse Sogutlu mengonfirmasi kepada AFP bahwa penutupan tersebut mulai berlaku pada Rabu sore.

"Kami menerima pemberitahuannya satu jam yang lalu. Situs web sekarang diblokir di Turki," katanya.

T24 yang berkantor pusat di Istanbul, dengan kantor lainnya di Ankara dan memiliki sekitar 40 staf, telah menjadi sasaran "kampanye pelecehan di media sosial dalam beberapa hari terakhir", kata Sogutlu.

Menurut dia, penutupan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemberitaan T24 mengenai isu LGBTQ, tetapi juga merupakan tindakan otoritas "terhadap jurnalisme murni".

Dalam putusannya, pengadilan membenarkan penutupan tersebut dengan alasan T24 menerbitkan "konten yang bertujuan melemahkan struktur keluarga Turki", menurut laporan DW Turkce.

Jurnalis Masih Dipenjara

Pemimpin oposisi Ozgur Ozel mengecam tindakan tersebut sebagai "represi".

"Di negara yang konstitusinya menyatakan, 'Pers bebas dan tidak dapat disensor', sebuah media yang menjadi sumber berita bagi jutaan orang justru ditutup berdasarkan keputusan pengadilan pidana dengan dalih yang sangat lemah," tulisnya di X.

"Negara tidak dapat dijalankan seperti ini. Kesalahan ini harus segera diperbaiki tanpa penundaan sedikit pun."

Tindakan tersebut juga dikecam keras oleh 12 asosiasi jurnalis Turki sebagai "serangan serius terhadap profesi kami". Mereka menyerukan agar keputusan tersebut "segera dibatalkan".

"Keputusan untuk menutup portal berita T24 bukan hanya merupakan pelanggaran yang sangat serius terhadap kewajiban pemerintah terkait kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, tetapi juga secara langsung menghambat hak warga negara untuk memperoleh berita," kata mereka.

Mereka mengatakan operasi "Keluargaku Aman" telah "menargetkan pers dan kebebasan berekspresi sejak hari pertama", seraya mencatat bahwa salah satu orang yang ditangkap adalah jurnalis Tugba Tekerek yang hingga kini masih dipenjara.

Dalam surat dari penjara yang diterbitkan kelompok hak asasi MLSA pada hari ke-15 masa penahanannya, Tekerek mengatakan semangatnya tetap "tinggi" meskipun berada dalam tahanan.

"Tekad saya untuk memperjuangkan jurnalisme demi dunia yang lebih baik serta negara yang demokratis dan bebas sama sekali tidak goyah," tulisnya.

Tekerek ditangkap terkait artikel yang ditulisnya mengenai komunitas LGBTQ di Georgia menjelang pemilu negara tersebut pada 2024. Artikel itu diterbitkan di situs Kaos GL, kelompok hak LGBTQ terkemuka di Turki.

Komunitas LGBTQ di Turki semakin berada di bawah tekanan otoritas. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyebut komunitas tersebut sebagai "gerakan menyimpang" yang terdiri dari "orang-orang cabul".

Beberapa hari sebelum penggerebekan, pejabat Turki mengonfirmasi bahwa negara tersebut akan menggelar pemilu lebih awal pada April 2028. Sejumlah aktivis LGBTQ terkemuka mengatakan kepada AFP bahwa operasi tersebut merupakan "awal dari kampanye pemilu".

Menteri Kehakiman Akin Gurlek mengatakan operasi "Keluargaku Aman" diluncurkan sebagai bagian dari program "Dekade Keluarga" yang dicanangkan Erdogan dan bertujuan untuk "melindungi anak-anak kita, institusi keluarga, dan tatanan sosial".

  • Propaganda LGBT

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.