BMKG Memantau Peluang Hujan untuk Mendukung Penanganan Karhutla

Kamis, 01 Okt 2026, 22:27 WIB

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau peluang hujan dan pertumbuhan awan di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mendukung penentuan strategi penanganan di lapangan.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki mengatakan pemantauan kondisi iklim diperlukan untuk mendukung operasi pemadaman darat maupun intervensi cuaca melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), terutama di wilayah yang masih memiliki potensi karhutla.

Ket. Foto: Ilustrasi awan mendung. — Sumber: Antara

"Untuk wilayah Provinsi Riau, seperti tadi Pak Berton juga sampaikan itu sudah ada hujan, kemudian untuk wilayah Jambi kami memprediksi awal musim hujannya paling cepat itu nanti di Oktober (dasarian) II," ujar Marjuki dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan Riau bagian utara yang memiliki pola iklim ekuatorial telah mengalami curah hujan sejak Dasarian II September atau 11-20 September.

Sementara itu Jambi dan Sumatera Selatan diprediksi mulai memasuki awal musim hujan paling cepat pada Dasarian II Oktober. Musim hujan di Sumatera Selatan secara umum diperkirakan baru merata pada Dasarian I November, sedangkan Lampung bagian selatan diproyeksikan mulai memasuki musim hujan pada Dasarian II Oktober.

Marjuki mengatakan kondisi serupa juga dipantau di wilayah Kalimantan. Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, diprakirakanmulai menerima curah hujan paling cepat pada Dasarian II Oktober.

Namun musim hujan di Kalimantan Timur secara umum diprediksi baru merata pada Dasarian II November. Kalimantan Selatan menyusul paling cepat pada Dasarian I November, sedangkan secara umum musim hujan di wilayah tersebut baru merata pada Desember.

Secara nasional BMKG memetakan terdapat 63 Zona Musim (ZOM) yang akan memasuki awal musim hujan pada Oktober.

Menurut Marjuki, informasi prediksi iklim tersebut diselaraskan dengan kebutuhan satuan tugas penanggulangan karhutla agar intervensi yang dilakukan di lapangan dapat menyesuaikan kondisi atmosfer dan peluang pertumbuhan awan hujan.

BMKG, kata dia, melakukan pemantauan potensi pertumbuhan awan secara berkelanjutan untuk memastikan pelaksanaan TMC dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Pemantauan tersebut menjadi penting karena saat ini wilayah ekuator bagian selatan masih minim potensi pertumbuhan awan hujan yang dapat diintervensi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Dengan demikian, lanjutnya, perkembangan potensi hujan dan pertumbuhan awan menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan dalam mendukung operasi penanganan karhutla di wilayah prioritas.

  • karhutla

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.