Tradisi Silek dan Cara Lain Mendengarkan Komposisi Musik.
📅 Senin, 28 Sep 2026, 08:45 WIB | Oleh: Yebdi TrismarPuluhan tahun kemudian, PKIna 2026 mengambil tema Tala–Talu: Listening, Remapping, Extending. Tema tersebut membuka ruang bagi berbagai bentuk penciptaan dan pemikiran musik.
Dalam konteks itu, karya Uncu bukan sekadar memperluas bunyi yang digunakan dalam musik, tetapi juga memetakan kembali dari mana musik dapat berangkat: dari tindakan tubuh yang telah hidup dalam sebuah tradisi.
Mendengar yang Bergerak
Gagasan Uncu bersinggungan dengan pertanyaan yang lebih lama dalam musik eksperimental: apa sebenarnya yang membuat sesuatu dapat disebut musik?
John Cage pernah menggeser pertanyaan tersebut melalui 4’33”. Dalam karya itu, David Tudor duduk di depan piano tanpa memainkan nada, sementara suara-suara yang muncul dari lingkungan pertunjukan menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan.
Jika Cage menggeser perhatian pendengar melalui keheningan, Uncu menggesernya melalui tubuh.
Hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tubuh, napas dan benturan yang biasanya menjadi bagian dari gerakan silek ditempatkan sebagai materi musik.
Cara berpikir ini dapat ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas tentang soundscape yang dikembangkan R. Murray Schafer. Jika lingkungan dapat dipahami sebagai lanskap bunyi, gagasan itu dapat diperluas untuk melihat tubuh sebagai ruang kecil yang terus menghasilkan berbagai bunyi dari gerak dan aktivitasnya.
Dalam praktik body music, seperti yang dikembangkan Keith Terry, tubuh juga digunakan sebagai sumber bunyi. Namun pendekatan Uncu memiliki tekanan yang berbeda: yang dikomposisikan bukan semata-mata pola bunyi tubuh, tetapi tindakan yang menghasilkan bunyi tersebut, dan tindakan itu bersumber dari pengetahuan silek.
Seorang penonton dalam sesi diskusi karya bercerita bahwa ia sempat memejamkan mata agar lebih berkonsentrasi mendengarkan. Ketika penglihatan disisihkan, bunyi gesekan, hentakan, napas dan benturan tubuh terasa memiliki susunan tersendiri.
Jarak penonton dengan arena membuat pengalaman itu semakin kuat. Ketika tubuh terlempar hanya beberapa sentimeter dari mereka atau benturan keras tiba-tiba terdengar, penonton tidak sepenuhnya berada dalam posisi pengamat yang berjarak.
Kedekatan itulah yang membuat pertunjukan terasa immersive: jarak, suara, gerakan dan ketegangan tubuh ikut membentuk pengalaman penonton.
Kembali ke Arena
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!