Tradisi Silek dan Cara Lain Mendengarkan Komposisi Musik.
📅 Senin, 28 Sep 2026, 08:45 WIB | Oleh: Yebdi TrismarPada pertemuan pertama, gerakan mereka masih mudah dibaca sebagai pertarungan. Namun bersamaan dengan gerakan itu muncul bunyi yang tidak datang dari alat musik.
Kaki menghentak matras. Tubuh beradu. Kain bergesekan. Tangan menepuk tubuh. Hentakan terdengar ketika tubuh jatuh atau melompat. Tarikan napas para pesilat terdengar semakin jelas.
Pada awalnya, bunyi-bunyi tersebut mungkin terasa sebagai akibat dari gerakan. Namun semakin pertunjukan berlangsung, bunyi itu mulai menarik perhatian dengan sendirinya.

Bunyi dari Gerakan
Pertemuan kedua, Emri dengan Uncu, membawa pengalaman serupa. Gerakan mereka berubah mengikuti respons satu sama lain. Satu tindakan memancing tindakan berikutnya, dan setiap tindakan membawa bunyinya sendiri.
Menjelang pertemuan terakhir, Da At tampil sendirian selama beberapa menit, sementara Uncu tetap berada di arena tanpa bergerak.
Da At berganti-ganti jurus, mengubah langkah, berpindah posisi, melompat, menepuk tubuh dan celana sileknya.
Tidak ada lawan yang harus direspons. Namun bunyi tetap muncul dari setiap tindakan.
Langkah kaki, gesekan kain, tepukan tangan pada tubuh dan pakaian, hentakan kaki serta napas membentuk rangkaian bunyi yang terus bergerak mengikuti tubuh Da At.
Pada bagian ini muncul pertanyaan: apakah bunyi-bunyi tersebut sekadar akibat dari gerakan silek, atau memang ada sesuatu yang sedang disusun?
Pertanyaan itu menjadi penting karena sejak awal Uncu menempatkan tubuh, gerak dan bunyi dalam satu kerangka penciptaan komposisi. Dalam sesi diskusi karya seusai pertunjukan, ia kemudian menjelaskan cara berpikir yang menjadi dasar karyanya dengan kalimat sederhana:
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!