- Home
-
- Luar Negeri
-
- Whitesky, Leading Helicopt...
Whitesky, Leading Helicopter Operator Indonesia, Mulai Roadshow Asia Perluas Kolaborasi eVTOL
Rabu, 23 Sep 2026, 14:10 WIBSHANGHAI â Whitesky Aviation, leading helicopter operator Indonesia, memulai rangkaian roadshow Asia untuk memperluas kolaborasi pengembangan electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dan Advanced Air Mobility (AAM).
Dipimpin Founder dan CEO Whitesky Group Denon Prawiraatmadja, roadshow tersebut mencakup engagement dengan mitra di China, Jepang dan Korea dalam satu tahun ke depan, mulai dari produsen aircraft, perusahaan pembiayaan, pengembang battery and charging technology hingga infrastructure partner.
Bagi Whitesky, rangkaian tersebut tidak hanya bertujuan mencari teknologi atau menambah daftar produsen eVTOL. Perusahaan ingin membangun jaringan mitra yang dapat mendukung implementasi AAM secara nyata di Indonesia.
âRoadshow Asia ini bukan hanya tentang mencari aircraft. Kami sedang mencari partner yang bisa melengkapi operating ecosystem, mulai dari technology, financing, energy, infrastructure hingga technical capability,â ujar Denon.
Di China, Whitesky melanjutkan engagement dengan sejumlah pemain industri eVTOL, termasuk AutoFlight dan Volant Aerotech, sekaligus memperluas diskusi dengan pihak financial leasing dan battery charging.
Keterlibatan berbagai sektor tersebut menunjukkan bahwa commercial deployment eVTOL tidak dapat hanya dibangun dari sisi aircraft. Teknologi baru membutuhkan ekosistem yang mampu memastikan aircraft dapat dibiayai, dioperasikan, dirawat, diisi energinya dan digunakan secara berkelanjutan.
Pengalaman Helicopter Operation Jadi Fondasi
Denon menilai posisi Whitesky sebagai leading helicopter operator Indonesia memberikan starting point yang berbeda ketika perusahaan memasuki electric aviation.
Whitesky tidak memulai dari perusahaan yang baru mengenal operasi penerbangan. Pengalaman helicopter operation telah membangun kapabilitas perusahaan dalam safety, maintenance, operational discipline, infrastructure, ground support hingga customer management.
âKami membawa operating experience yang sudah terbentuk. Yang sekarang kami bangun adalah partnership supaya capability tersebut dapat berkembang ke generasi aviation berikutnya,â kata Denon.
Menurutnya, eVTOL tidak menggantikan helikopter maupun bisnis penerbangan yang telah berjalan. Sebaliknya, teknologi tersebut menjadi extension dari capability yang sudah ada dan membuka kesempatan untuk mengembangkan bentuk mobilitas udara yang lebih luas.
Helikopter selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan point-to-point, corporate mobility, industrial activities hingga perjalanan menuju wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
Sementara eVTOL membuka peluang untuk membuat sebagian use case tersebut lebih scalable seiring berkembangnya teknologi, regulasi dan infrastruktur.
China, Jepang, Korea dan Indonesia Bawa Capability Berbeda
Dalam rangkaian roadshow Asia, Whitesky melihat masing-masing negara memiliki capability yang dapat memainkan peran berbeda dalam pembangunan AAM Indonesia.
China berkembang cepat pada aircraft manufacturing, eVTOL development dan supply chain.
Jepang memiliki kekuatan pada engineering, aviation technology dan industrial collaboration.
Sementara Korea terus mengembangkan mobility technology, battery ecosystem dan digital infrastructure yang relevan dengan perkembangan AAM.
Indonesia membawa kekuatan yang berbeda: pasar yang besar, kebutuhan konektivitas yang nyata, pengalaman operasi penerbangan, serta karakter geografis yang memungkinkan berbagai use case AAM berkembang secara komersial.
Bagi Whitesky, posisi Indonesia menjadi penting karena teknologi tidak cukup hanya dikembangkan. Teknologi tersebut harus memiliki operator, market, infrastructure, dan real-world use case agar dapat benar-benar bekerja dalam skala besar.
Opportunity terbesar karena itu bukan memilih satu negara atau satu teknologi.
Tantangannya justru bagaimana manufacturing capability China, engineering Jepang, technology ecosystem Korea, dan operating market Indonesia dapat dihubungkan dalam satu ekosistem yang saling melengkapi.
âAsia memiliki banyak capability yang berkembang sangat cepat. Yang ingin kami bangun adalah bagaimana teknologi dan expertise dari berbagai partner dapat bertemu dengan operating capability, market, dan kebutuhan konektivitas Indonesia sehingga benar-benar dapat digunakan secara komersial,â ujar Denon.
Dari Aircraft Partnership Menuju Operating Ecosystem
Pendekatan tersebut membuat hubungan Whitesky dengan mitra internasional tidak berhenti pada procurement aircraft.
Perusahaan juga menempatkan financing, charging infrastructure, maintenance, technical support, training dan operational readiness sebagai bagian dari pembicaraan.
Menurut Denon, hal ini menjadi semakin penting ketika deployment dilakukan dalam jumlah besar.
Aircraft listrik membutuhkan pola energy infrastructure yang berbeda dengan penerbangan konvensional. Di sisi lain, fleet expansion membutuhkan struktur pembiayaan yang dapat menjaga commercial viability dalam jangka panjang.
Karena itu, roadshow Asia Whitesky diarahkan untuk membangun network of strategic partners, bukan sekadar network of suppliers.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Mohammad Zaki Alatas
Berita Terkait:
-
Walkot Farhan: Reaktivasi Penerbangan Bandung - Malaysia/Singapura Dukung Mobilitas Persib Lebih Efisien Tampil di Kancah Asia
-
Program Kewirausahaan Dorong Karyawan Siapkan Bisnis Sebelum Memasuki Masa Pensiun
-
Josh Kushner Akui Menyesal Terlibat dalam Rencana Investasi Kontroversial FIFA
-
Dua Siswa Olimpiade Sains Papua Pegunungan Raih Beasiswa ke IPB dan SMA Taruna Surabaya.
-
Sempat Tumbang di Set Pertama, Shelton Melaju ke Babak Kedua US Open
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.