Dibuka Menguat, IHSG Hari ini Berpotensi Melemah Seiring Pasar Cermati Tensi Geopolitik Global
📅 Senin, 21 Sep 2026, 10:20 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (21/9) berpotensi bergerak melemah seiring pelaku pasar mencermati tensi konflik geopolitik di tingkat global.
Dibuka menguat, IHSG pada pukul 09.50 WIB bergerak melemah 26,00 poin atau 0,40 persen ke posisi 6.415,16. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 3,28 poin atau 0,51 persen ke posisi 636,97.
"Apabila IHSG gagal bertahan di atas 6.432-6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.290. Sebaliknya, apabila terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus 6.452-6.504, dilanjutkan 6.509-6.552 sebagai resistance terdekat sebelum menguji area 6.590-6.732," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari mancanegara, Liza mengatakan perhatian pelaku pasar tertuju pada perkembangan konflik antara Rusia dan Ukraina, serta konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya terhadap risiko terhadap jalur distribusi energi global.
Namun, ia menyebut indikasi bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz yang masih relatif tinggi, membuat pasar menilai potensi gangguan pasokan lebih terbatas dibandingkan kekhawatiran sebelumnya.
"Di sisi lain, investor tengah melakukan rotasi di tengah perbedaan kinerja antar sektor saham, yang mana saham teknologi dan semikonduktor kembali mendapatkan minat beli, sementara sektor defensif dan material dasar mengalami tekanan," ujar Liza.
Dari kawasan Asia, Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25 persen, atau mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang telah menaikkan suku bunganya sebesar 25 bps.
Liza mengatakan keputusan tersebut mendapatkan dissent dari dua pejabat BoJ, mencerminkan adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral mengenai arah kebijakan moneter.
"Perhatian selanjutnya tertuju pada respons ekonomi dan pasar keuangan Jepang terhadap normalisasi kebijakan tersebut," ujar Liza.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026, dengan konsensus memproyeksikan BI akan menaikkan Rate di level 5,75 persen, terutama untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal dan harga energi yang tinggi.
"Respons BI terhadap kombinasi pelemahan Rupiah, inflasi, dan kebutuhan menjaga pertumbuhan akan menjadi perhatian penting pasar," ujar Liza.
Selain itu, pelaku pasar akan mencermati data uang beredar (M2) Agustus 2026, yang diperkirakan mencerminkan perkembangan likuiditas dan kredit domestik akan menjadi indikator tambahan.
Di sisi lain, pemerintah memastikan kebijakan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga Rp200 triliun di perbankan tetap dilanjutkan hingga akhir 2026 dan diperpanjang sampai Juli 2027, meski terjadi pergantian Menteri Keuangan.
Adapun saat ini posisi penempatan SAL mencapai sekitar Rp299 triliun, sementara level penempatan yang akan dipertahankan pemerintah sebesar Rp200 triliun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!