IPB Dorong FiAC 2026 Berdampak Nyata di Masyarakat, Riset Jangan Berhenti di Kampus
Minggu, 20 Sep 2026, 12:35 WIBBOGOR â Di tengah tantangan ketahanan pangan dan perubahan pola konsumsi, inovasi pangan menjadi semakin penting untuk mendorong ketersediaan makanan yang beragam, bergizi, dan terjangkau.
Pengembangan produk, teknologi pengolahan, hingga pemanfaatan bahan pangan lokal membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing sektor pangan.
Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) bersama Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan dan Halal (LRI PGKH) IPB University menjadikan ajang Konferensi Internasional Bahan Baku Pangan Asia (FiAC) Ke-9 Tahun 2026 sebagai pendorong riset berdampak.
"FiAC menjadi kesempatan untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan dunia nyata," kata Kepala SEAFAST IPB University Dr Puspo Edi Giriwono di Bogor, Sabtu (19/9).
Konferensi yang digelar di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran Jakarta, 16-18 September 2026 menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat inovasi pangan berbasis bukti ilmiah, gizi, kesehatan, dan keberlanjutan.
Kegiatan tersebut juga buah kerja sama dengan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI/IAFT), Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) serta Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University.
Konferensi itu telah diselenggarakan sejak 2010 tersebut terus diarahkan untuk menjembatani temuan laboratorium dengan pengembangan model bisnis, peningkatan skala, dan penerapan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
âIni adalah kesempatan untuk berkomunikasi, bertanya, mendengar, dan mencari penyelesaian bersama,â katanya.
FiAC 2026 menghadirkan akademisi, industri, pemerintah, asosiasi profesi, mahasiswa, dan peneliti muda melalui sesi pleno dan teknis, presentasi poster, kompetisi mahasiswa, program nutraseutikal, academia to business, serta forum halal.
Konferensi ini juga menghadirkan Dr Ranjan Jha dari Nutrition International yang membahas fortifikasi pangan dalam transformasi sistem pangan, serta Han Yin Leong dari Food Industry Asia yang mengangkat pengolahan pangan untuk fortifikasi, reformulasi, dan peningkatan gizi masyarakat.
Jawab tantangan
Sementara itu Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet dalam sambutan video tapping menyampaikan pandanganya terkait perubahan sistem pangan global menghadirkan tantangan yang semakin kompleks.
Pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, tekanan terhadap sumber daya alam, perubahan pola konsumsi, risiko keamanan pangan, serta meningkatnya masalah malnutrisi dan penyakit terkait pola makan membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan sektor.
âInovasi berbasis bukti harus menjadi jembatan antara penemuan ilmiah dan dampak bagi masyarakat. Jembatan tersebut hanya dapat dibangun melalui kolaborasi,â terang Dr Alim.
Menurutnya, perkembangan teknologi pangan membuka peluang melalui inovasi bahan pangan, fortifikasi, reformulasi, pangan fungsional, bioteknologi, teknologi pengolahan, kecerdasan buatan, serta pendekatan baru dalam keamanan dan mutu pangan.
"Inovasi tersebut perlu didukung bukti ilmiah, menjawab kebutuhan gizi dan kesehatan, aman bagi konsumen, bertanggung jawab terhadap lingkungan, layak secara ekonomi, serta dapat diterapkan dalam skala luas," katanya menambahkan.
- IPB University
- riset pangan
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemkab Bogor Luncurkan Koperasi Inspiratif, Koperasi Terpilih Bakal Jadi Mentor
-
IPB Bidik Ekonomi Sirkular Lewat Bisnis Maggot Plasma-Inti
-
Pesta 8 Gol! Ajax Tundukkan Sion 5-3 dalam Duel Sengit Liga Conference
-
Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai
-
Jaga Harga Bahan Pangan Stabil, Pemprov Sumut Inisiasi Gerakan Pangan Murah Serentak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.