- Home
-
- Megapolitan
-
- Kisah Si Doel Bukan Hanya ...
Kisah Si Doel Bukan Hanya soal Jakarta, Tapi Tentang Bagaimana Masyarakat Betawi Tetap Miliki Tempat
Kamis, 17 Sep 2026, 19:05 WIBJAKARTA - Ada cerita tentang orang-orang yang pernah tinggal di sebuah gang, atau tentang rumah yang pekarangannya tanah berbatu dan dinaungi pohon-pohon rindang, tentang kendaraan umum yang menjadi keseharian mencari rezeki, atau tentang keluarga yang menjalani hidup sederhana di tengah kota yang perlahan tumbuh menjadi metropolitan.
Jakarta memiliki begitu banyak cerita serupa. Sebagian mungkin tersimpan dalam album foto, sebagian lainnya hidup dalam ingatan orang-orang yang mengalami, dan sebagian lagi justru bertahan melalui tokoh fiksi: Si Doel.
Sinetron keluarga yang menjadi tontonan favorit di era 90-an itu sudah jarang diputar lagi. Ketika tontonan sinetron layar kaca kini banyak menampilkan kemewahan, hidup metropolis, dari sebuah hubungan atau jalinan cinta yang tak realistis, sinetron seperti Si Doel Anak Sekolahan yang menggambarkan cerita keseharian masyarakat Jakarta pelan-pelan mati.
Tapi, sastrawan Harry Tjahjono, yang juga merupakan penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan, mengabadikan cerita itu ke dalam buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung. Harry Tjahjono lagi-lagi berupaya kembali mengingatkan kita pada akar Jakarta.
Yang ditulisnya bukan semata-mata karena sinetron televisi itu pernah begitu populer, melainkan karena Si Doel menyimpan gambaran tentang Jakarta dari masyarakat asli.
Jakarta dalam cerita Si Doel adalah Jakarta dari halaman rumah, ruang tamu, warung, jalan kampung, oplet, percakapan tetangga dan kehidupan keluarga. Jakarta dari bawah.
Wakil Gubernur DKI Jakarta yang merupakan pemeran Doel, Rano Karno, mengenang kembali tentang lahirnya sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Karya itu muncul dari kegelisahan, tentang bagaimana masyarakat Betawi tetap memiliki tempat ketika Jakarta berubah begitu cepat.
Rano menyampaikan bahwa masyarakat Betawi bisa-bisa jadi âtamu di rumahnya sendiriâ jika tidak ada upaya-upaya untuk melestarikan kebudayaan asli Jakarta. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan adalah salah satunya.
Jakarta memang sebuah kota yang terus berubah dan begitu pula orang-orang yang hidup di dalam perubahan tersebut. Jakarta memang tidak mungkin berhenti bertumbuh.
Kota ini tumbuh bersama arus manusia, modal, teknologi, transportasi, permukiman dan berbagai kebutuhan baru. Kampung berubah menjadi kawasan yang lebih padat. Ruang terbuka berganti bangunan. Jalan-jalan lama mendapatkan fungsi baru. Masyarakat yang tinggal di dalamnya pun bergerak mengikuti zaman.
Perubahan seperti itu tidak dengan sendirinya buruk. Sebuah kota memang harus berkembang.
Persoalannya muncul ketika pembangunan hanya dibaca melalui perubahan bentuk fisik kota, sementara kehidupan yang pernah membentuk karakter kota perlahan kehilangan tempat dalam ingatan.
Sebab kampung bukan hanya sekumpulan rumah. Kampung adalah tempat orang belajar menjadi bagian dari masyarakat.
Di sana, anak-anak mengenal tetangga sebelum mengenal istilah komunitas. Orang mengenal siapa yang tinggal di rumah sebelah, siapa yang sedang sakit, siapa yang membutuhkan bantuan, dan siapa yang baru pulang dari bekerja. Kebiasaan, bahasa, makanan, humor, cara bergaul, bahkan cara menyelesaikan persoalan tumbuh dari silaturahim.
Identitas kota
Identitas sebuah kota sering kali lahir dari ruang-ruang kecil seperti itu. Si Doel menangkapnya.
Cerita Si Doel tidak menghadirkan Jakarta sebagai kumpulan gedung pencakar langit. Ia menghadirkan sebuah keluarga dan lingkungan sosial dengan berbagai persoalannya. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, hubungan orang tua dan anak, kehidupan ekonomi, hingga perubahan cita-cita menjadi bagian dari cerita. Si Doel pada dasarnya lebih dari sebuah tontonan populer.
Si Doel adalah rekaman sosial dalam bentuk cerita. Tentu saja, sebuah sinetron atau karya fiksi tidak bisa menggantikan buku sejarah. Namun karya budaya memiliki kemampuan yang kadang tidak dimiliki dokumen sejarah. Yaitu ingatan-ingatan yang masuk ke dalam memori inti.
Penonton Si Doel dulu, mungkin sudah hapal rumah adat Betawi itu seperti apa, alat musiknya, bahasanya, pakaian adatnya, yang secara tak sadar dipahami dari adegan-adegan sinetron tersebut.
Orang yang tidak pernah mengalami Jakarta beberapa dekade lalu dapat membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat pada masa itu melalui rumah, pakaian, kendaraan, percakapan dan hubungan antartokoh.
Buku Filosofi Orang Kampung ini kembali membuka cerita tentang bagaimana Si Doel dibuat, dan juga mengajak pembaca melihat kembali dunia yang melahirkan tokoh tersebut.
Perjalanan Si Doel pun tidak selamanya tinggal di kampung. Doel yang bersekolah hingga menjadi "tukang insinyur", mengejar pendidikan dan memasuki dunia yang lebih luas. Si Doel menceritakan bahwa masyarakat Betawi juga berubah.
Doel memperlihatkan bahwa seseorang bisa bergerak jauh dari tempat asalnya tanpa harus memutus hubungan dengan akar yang membentuk dirinya.
Mungkin di situlah pelajaran penting yang dapat dibawa ke Jakarta hari ini. Pelestarian budaya tidak harus berarti mengawetkan masa lalu.
Kalau budaya hanya diperlakukan sebagai benda yang harus disimpan, ia akan semakin jauh dari kehidupan generasi baru. Budaya justru akan tetap hidup ketika nilai-nilainya mampu masuk ke dalam kehidupan yang berubah.
Jakarta sedang menghadapi perubahan itu.
Kota global
Ketika kota diarahkan menjadi kota global, kebutuhan terhadap identitas justru harus mengakar kuat. Identitas lokal menjadi pembeda yang membuat sebuah kota memiliki karakter.
Jakarta memiliki sejarah, masyarakat dan kebudayaan yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang kota ini.
Kebudayaan tidak cukup ditempatkan sebagai urusan pertunjukan atau seremoni. Ia perlu hadir dalam kehidupan kota.
Arah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menyambut 500 tahun Jakarta bergerak ke wilayah tersebut. Penguatan jejaring kebudayaan Betawi, pengembangan titik-titik budaya di 44 kecamatan dan 267 kelurahan, hingga pengembangan kembali Anjungan Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah menunjukkan upaya membawa kebudayaan lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memperkenalkannya kepada generasi baru.
Sebenarnya, budaya tidak harus dipertentangkan dengan modernitas.
Teknologi dapat digunakan untuk mengenalkan tradisi. Ruang budaya dapat dikembangkan dengan cara yang lebih sesuai dengan generasi sekarang. Tradisi dapat tampil dalam bentuk baru tanpa harus kehilangan akar filosofinya.
Jakarta yang terus bertumbuh dan mengalami perubahan itu harus memberi ruang bagi cerita lama untuk hidup dalam bentuk yang baru. Kampung di Jakarta sebaiknya tetap memiliki nilai tumbuh di dalamnya: kedekatan sosial, gotong royong, identitas, dan hubungan antargenerasi.
Si Doel mungkin tidak pernah dirancang untuk menjadi simbol Jakarta selama puluhan tahun. Namun waktu yang membuatnya menjadi semacam cermin.
Ketika Jakarta berubah, orang kembali melihat Si Doel dan menemukan bagian dari kota yang mungkin sudah tidak mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kekuatan sebuah karya budaya. Ia bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Jakarta akan memasuki usia lima abad. Gedung-gedung baru akan terus berdiri, sistem transportasi akan semakin berkembang, teknologi akan mengubah cara orang bekerja, dan wajah kota akan kembali mengalami perubahan. Semua pertumbuhan itu bagus.
Tetapi kelak, ketika generasi yang lahir hari ini berbicara tentang Jakarta, mereka juga membutuhkan sesuatu yang lebih manusiawi daripada daftar pembangunan.
Mereka membutuhkan cerita tentang siapa yang pernah tinggal di kota ini, bagaimana mereka hidup, apa yang mereka percayai, dan nilai apa yang membuat mereka merasa bahwa Jakarta adalah rumah.
Si Doel menyimpan sebagian dari cerita itu.
Membicarakan Si Doel menjelang 500 tahun Jakarta bukanlah usaha untuk membawa kota kembali ke masa lalu. Ia adalah cara untuk mengingat bahwa ketika Jakarta melangkah menuju masa depan, akar kota ini harus tetap tertanam kokoh pada bumi awal mulanya berdiri.
Perubahan Jakarta yang semakin modern dan menjadi kota global, tidak harus berarti kehilangan akar.
Barangkali itulah warisan yang sesungguhnya perlu dibawa Jakarta menuju usia 500 tahun, yaitu kota yang semakin tahu dari mana ia berasal. Ant
- Masalah Perkotaan
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.