Perdebatan AI Makin Panas, Tiga Kubu Berebut Menentukan Masa Depan Teknologi

Selasa, 15 Sep 2026, 13:13 WIB

New York - Perdebatan sengit mengenai kecerdasan buatan (AI) semakin mengeras dan terbagi ke dalam kubu-kubu yang saling berseberangan, serta kelompok yang memilih mengambil sikap hati-hati.

Berikut gambaran garis pertempuran dalam perselisihan mengenai teknologi yang kini menjadi tulang punggung perekonomian dan berpotensi menentukan masa depan planet ini.

Ket. Foto: Kekhawatiran terhadap dampak berbahaya teknologi bagi masyarakat telah ada sejak lama dalam sejarah. — Sumber: AFP

Para "Doomer"

Kekhawatiran terhadap konsekuensi berbahaya teknologi bagi masyarakat telah ada sejak lama dalam sejarah.

OpenAI didirikan salah satunya karena para pendukungnya, termasuk investor pertama Elon Musk, khawatir pengembangan AI pada akhirnya berada di tangan Google yang mereka nilai tidak dapat dipercaya untuk mengelola teknologi tersebut.

Saat ini, sebagian besar pihak yang memperingatkan dampak berbahaya AI berasal dari dalam perusahaan teknologi itu sendiri, kalangan akademisi, atau keduanya.

Dari kalangan industri, suara tersebut paling jelas diwakili Dario Amodei, salah satu pendiri Anthropic yang kini menjadi raksasa AI dan tengah menuju penawaran saham perdana (IPO) bersejarah. Ia meninggalkan OpenAI karena menilai perusahaan yang dipimpin Sam Altman itu tidak cukup serius menyikapi potensi dan bahaya teknologi tersebut.

Sikap Amodei dikritik sebagai kemunafikan karena perusahaan yang dipimpinnya sendiri terus mengembangkan teknologi mutakhir.

Mantan peneliti Google Geoffrey Hinton dan sesama ilmuwan komputer Yoshua Bengio menjadi tokoh yang gencar memperingatkan ancaman AI beberapa bulan setelah peluncuran ChatGPT pada 2022, yang memicu gelombang kegilaan AI terbaru.

Fisikawan MIT Max Tegmark, yang memimpin Future of Life Institute, mengorganisasi surat terbuka pada 2023 yang menyerukan penghentian sementara selama enam bulan terhadap pengembangan sistem AI paling canggih. Surat tersebut ditandatangani ribuan orang, termasuk Musk.

Di luar industri, terdapat Eliezer Yudkowsky, seorang teoretikus yang belajar secara autodidak dan selama dua dekade berpendapat bahwa AI yang cukup kuat pada akhirnya dapat memusnahkan umat manusia.

"Bangun, Bangun, Bangun"

Berlawanan secara diametral dengan para doomer adalah kelompok akselerasionis, yang meyakini kemajuan teknologi, sifatnya yang tak terelakkan, serta manfaat fundamentalnya bagi masyarakat. Kelompok ini juga memperoleh keuntungan finansial dari keberhasilan teknologi tersebut.

Pandangan itu tersebar luas di Silicon Valley, tetapi paling kuat diwakili para tokoh modal ventura yang memiliki pengaruh besar di Gedung Putih, seperti Marc Andreessen, pimpinan perusahaan modal ventura Andreessen Horowitz yang berpengaruh, serta David Sacks, mantan pejabat Gedung Putih yang menangani AI.

Secara pribadi dan filosofis sejalan dengan tokoh teknologi Peter Thiel, kelompok tersebut pada dasarnya menentang regulasi dan melakukan perlawanan di balik layar maupun melalui X terhadap apa yang mereka sebut sebagai "kultus" kiamat yang didanai besar-besaran.

Mereka menuduh para doomer menjadi kedok bagi perusahaan-perusahaan yang berusaha menggunakan regulasi untuk menghancurkan pesaing.

Garry Tan, pimpinan inkubator perusahaan rintisan Y Combinator, merupakan salah satu suara paling keras dari kelompok tersebut. Ia menilai regulasi yang didorong alasan keselamatan sebagai ancaman bagi perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mampu menanggung biayanya.

Andreessen dan sekutunya menggelontorkan dana besar kepada komite aksi politik yang menyumbang kepada anggota parlemen Partai Republik maupun Demokrat yang mendorong pertumbuhan AI. Anthropic kini memimpin upaya untuk menyamai pengeluaran tersebut melalui penggalangan dananya sendiri.

Masih dalam kubu yang mendorong percepatan adalah Jensen Huang, CEO Nvidia, yang cipnya menjadi fondasi revolusi AI dan digunakan di pusat-pusat data raksasa yang kini menghadapi penolakan di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Tokoh lain yang patut dicatat adalah Yann LeCun, yang berbagi penghargaan Turing dengan Hinton dan Bengio dan selama bertahun-tahun menilai peringatan mereka mengenai bahaya eksistensial AI sebagai sesuatu yang berlebihan.

Melangkah dengan Hati-hati

Banyak perusahaan teknologi besar berusaha bergerak secara hati-hati, sebuah posisi yang lebih lazim bagi perusahaan besar yang tidak ingin berada di pihak yang salah dalam pertarungan politik.

Ketika didirikan pada 2015, OpenAI dibentuk dengan struktur yang memastikan para peneliti, bukan investor, memiliki keputusan akhir mengenai bagaimana teknologi tersebut digunakan, dengan keselamatan umat manusia sebagai filosofi utama.

Namun, di bawah kepemimpinan Altman, yang selamat dari kudeta internal pada 2023 yang dipimpin rekan-rekan yang berfokus pada keselamatan AI, perusahaan tersebut kini mengambil posisi yang lebih rumit. OpenAI tetap berbicara mengenai bahaya AI, tetapi pada saat yang sama mempercepat pengembangan teknologi dan mendekat kepada Gedung Putih yang menerapkan pendekatan tanpa banyak batasan.

Google, Microsoft, dan Amazon merupakan perusahaan yang telah lama berbicara mengenai keselamatan teknologi sembari berhasil menavigasi Washington untuk menjaga regulasi pada tingkat minimum.

Dalam menghadapi AI, perusahaan-perusahaan tersebut masih berusaha berjalan di garis tipis yang sama.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.