Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Juara US Open, Rybakina Kokoh di Puncak

📅 Senin, 14 Sep 2026, 07:08 WIB | Oleh:
Juara US Open, Rybakina Kokoh di Puncak Doc: TIMOTHY A. CLARY/AFP
Ket. Petenis Kazakhstan Elena Rybakina memegang trofi juara setelah memenangkan pertandingan final tunggal putri melawan petenis Belarus Aryna Sabalenka pada hari ke-14 turnamen tenis US Open di USTA Billie Jean King National Tennis Center, New York City, 12 September 2026.

NEW YORK - Petenis Kazakhstan Elena Rybakina menutup US Open dengan cara yang sempurna. Bukan hanya mengangkat trofi Grand Slam ketiganya, Rybakina juga resmi merebut posisi nomor satu dunia dari Aryna Sabalenka. Kemenangan di Arthur Ashe Stadium, Minggu (13/9) dini hari WIB, sekaligus menjadi penanda dimulainya era baru dalam persaingan tenis putri.

Rybakina menaklukkan Sabalenka 6-4, 5-7, 6-2 dalam final yang berlangsung keras dan penuh tekanan. Hasil itu menggagalkan ambisi Sabalenka mencatat hat-trick gelar US Open sekaligus mengakhiri rentetan 20 kemenangan beruntun juara bertahan itu di Flushing Meadows.

Lebih penting lagi, kemenangan tersebut mengukuhkan Rybakina sebagai petenis nomor satu dunia. Dia sebenarnya sudah memastikan diri menggusur Sabalenka dari posisi teratas setelah mencapai semifinal, tetapi gelar US Open membuat pergantian kekuasaan itu terasa semakin meyakinkan.

“Sulit menemukan kata-kata sekarang. Saya benar-benar tidak menyangka bisa seperti ini ketika datang ke turnamen ini,” ujar Rybakina seusai pertandingan. “Saya sempat menghadapi sedikit masalah cedera, tetapi entah bagaimana semuanya berjalan sesuai keinginan saya,” ujarnya.

Perjalanan menuju puncak itu tidak datang tanpa keraguan. Cedera pergelangan kaki membuat Rybakina mundur dari turnamen Cincinnati hanya sekitar tiga pekan sebelum US Open. Dia bahkan belum bermain selama tujuh hari sebelum tampil di New York. Kondisi itu sempat menimbulkan pertanyaan apakah dia mampu bertanding dalam Grand Slam terakhir musim ini.

Namun, keraguan tersebut justru berubah menjadi energi. Rybakina melewati turnamen dengan kemenangan-kemenangan meyakinkan, termasuk menyingkirkan dua mantan juara Grand Slam, Naomi Osaka dan Coco Gauff, sebelum mengatasi Sabalenka di partai puncak. Gelar ini menjadi Grand Slam ketiga Rybakina setelah Wimbledon 2022 dan Australian Open 2026, yang juga diraihnya dengan mengalahkan Sabalenka. Musim ini semakin lengkap setelah sebelumnya dia menjadi runner-up di Toronto.

“Saya datang ke sini setelah melewati banyak hal. Sekarang saya hanya ingin menikmati momen ini,” ujar Rybakina, yang mengaku semakin jatuh cinta kepada New York. Di final, ketenangan menjadi pembeda. Dua petenis dengan pukulan keras itu tampil agresif sejak awal, tetapi Rybakina lebih konsisten memanfaatkan peluang.

Dia menciptakan 12 break point dan mengonversi tiga di antaranya. Pada set pertama, tekanan Rybakina membuat Sabalenka kehilangan kendali dan menyerah 4-6. Sabalenka sempat bangkit pada set kedua. Dia mulai menemukan ritme servis dan akhirnya memperoleh break pertama pada gim terakhir untuk memaksakan set penentuan. Namun, kebangkitan itu hanya menjadi jeda singkat.

Pada set ketiga, Rybakina kembali mengendalikan pertandingan. Dia terus menekan dari baseline, sementara Sabalenka mulai frustrasi. Setelah laga berakhir, Sabalenka bahkan mematahkan raketnya di kursi pemain. “Saya tidak benar-benar bahagia dengan level permainan kali ini. Tetapi dia melakukan servis dengan luar biasa. Dia bermain sangat agresif dan hebat,” ujar Sabalenka.

Kekalahan itu sekaligus mengakhiri peluang Sabalenka menjadi perempuan ketiga setelah Chris Evert dan Serena Williams yang mampu menjuarai US Open tiga tahun berturut-turut. Dia juga menutup musim tanpa gelar Grand Slam untuk pertama kalinya sejak 2022.

Sabalenka mengakui tekanan mengejar gelar ketiga beruntun ikut memengaruhi emosinya. “Sangat sulit mengendalikan emosi ketika kalah di final Grand Slam, apalagi ketika mencoba meraih tiga gelar beruntun,” ucapnya. ben/AFP/G-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.