Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nelayan Perempuan Bajo Torsiaje Olah Gurita jadi Aneka Produk Pangan

28 Sabtu, 12 Sep 2026, 23:17 WIB | Oleh:
Nelayan Perempuan Bajo Torsiaje Olah Gurita jadi Aneka Produk Pangan Nelayan Perempuan Bajo Torsiaje Olah Gurita jadi Aneka Produk Pangan Doc: ANTARA/Faradila Alim
Ket. Sri Dewi Karim Nagi, pendamping kelompok dari japesda saat sedang menunjukkan produk olahan hasil laut produksi kelompok nelayan perempuan, Torsiaje, Gorontalo, yang dipamerkan pada rangkaian pameran UMKM Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026 di Gedung Grand Palace Convention Center, Kota Gorontalo, Sabtu (12/9).

GORONTALO -- Kelompok nelayan perempuan Sipakullong di Torsiaje, Gorontalo, mengolah hasil tangkapan gurita menjadi sambal dan camilan stik gurita untuk meningkatkan nilai ekonomi dari hasil laut.

Sipakullong yang dalam bahasa Bajo berarti saling merangkul merupakan kelompok nelayan perempuan yang dibentuk melalui proses pendampingan Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) bersama masyarakat setempat.

Salah seorang pendamping dari Japesda, Sri Dewi Karim Nagi, mengatakan kelompok tersebut mengembangkan sejumlah produk berbahan dasar gurita, mulai dari sambal hingga stik gurita yang menjadi camilan ringan.

"Kami menjual sambal gurita sama stik gurita. Ada dua varian, original sama balado," kata Dewi di Gorontalo, Sabtu.

Ia menjelaskan pengembangan olahan gurita dilakukan untuk memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan yang sebelumnya lebih banyak dijual dalam kondisi mentah.

Kelompok Sipakullong mulai mengembangkan produk olahan gurita sejak 2022. Pada tahap awal, kelompok mencoba membuat bakso gurita, namun produk tersebut belum banyak diminati karena masyarakat lebih familiar dengan bakso berbahan daging dan ikan.

"Kita mulai dari bakso gurita, cuma memang waktu itu gurita kurang peminat. Mungkin karena masyarakat lebih mengenal mengonsumsi bakso daging sama bakso ikan," ujarnya.

Kelompok kemudian mengembangkan produk sambal dan stik gurita. Produk tersebut kini dipasarkan di Gorontalo dan telah diperkenalkan dalam kegiatan pameran di luar daerah, termasuk di Sorong dan Bali.

Menurut Dewi, pengolahan juga menjadi pilihan untuk memanfaatkan hasil tangkapan gurita yang mengalami kerusakan fisik akibat proses penangkapan secara tradisional.

Gurita yang bagian tubuhnya terputus atau mengalami kerusakan memiliki harga jual lebih rendah di pasar lokal. Melalui pengolahan, hasil tangkapan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

"Kalau nelayan itu biasanya menangkapnya masih tradisional, ada yang cacat, misalkan ada yang tiga atau dua yang putus, itu akan dihargai lokal jadi lebih murah. Kita coba manfaatkan yang lokal tadi diolah menjadi produk dan nilainya cukup tinggi dibanding kita jual mentah," katanya.

Selain mengolah gurita, kelompok Sipakullong juga mengembangkan olahan hasil laut lainnya, seperti ikan garam, sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan.

Pendampingan terhadap kelompok juga mencakup edukasi mengenai pemanfaatan sumber daya gurita secara berkelanjutan. Nelayan didorong untuk tidak menangkap gurita yang masih berukuran terlalu kecil agar memiliki kesempatan tumbuh sebelum ditangkap.

Dewi mengatakan gurita memiliki pertumbuhan yang relatif cepat sehingga nelayan perlu bersabar untuk menangkapnya ketika telah mencapai ukuran yang lebih besar.

"Kita juga edukasi nelayan kalau misalkan menangkap yang di bawah 0,3 kilogram, karena perkembangannya cukup cepat sehingga nelayan juga cepat untuk menunggu, bersabar dulu sampai dia bisa besar," ujarnya.

Pengembangan produk olahan tersebut menjadi salah satu cara kelompok Sipakullong memanfaatkan hasil laut secara lebih optimal, sekaligus memperluas peran perempuan nelayan dalam kegiatan ekonomi berbasis sumber daya pesisir.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
Luar Negeri
Restoran-restoran di Sardin...

Audiensi Menkomdigi-Kapolri

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Audiensi Menkomdigi-Kapolri
Nasional
52 Persen BUMN Bebani Keuan...
Advertisement
Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah

Ubah Sampah Jadi Berkah, Mahasiswa UNEJ Raih Penghargaan Nasional Berkat Inovasi Desa Nol Sampah

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.