US Open: Perang 4 Jam 28 Menit, Shelton Tundukkan Alcaraz dalam Duel Epik

Kamis, 10 Sep 2026, 00:07 WIB

NEW YORK – Carlos Alcaraz harus mengubur ambisinya mempertahankan gelar US Open setelah tersingkir di perempat final. Petenis Spanyol itu takluk dari wakil tuan rumah, Ben Shelton, dalam pertarungan lima set yang berlangsung hingga pukul 03.34 dini hari waktu setempat, Rabu (9/9).

Pertandingan yang berlangsung di Arthur Ashe Stadium itu menjadi salah satu duel paling dramatis dalam sejarah US Open. Shelton menang 6-7 (5-7), 6-1, 6-3, 1-6, 7-6 (10-7) setelah bertarung selama 4 jam 28 menit.

Ket. Foto: Ben Shelton. — Sumber: ATP

Laga tersebut sekaligus memecahkan rekor pertandingan paling larut dalam sejarah penyelenggaraan US Open di Flushing Meadows. Rekor sebelumnya juga melibatkan Alcaraz, ketika ia mengalahkan Jannik Sinner dalam lima set pada perempat final 2022 yang berakhir pukul 02.50.

Bagi Shelton, kemenangan ini jauh lebih berarti. Petenis Amerika Serikat tersebut akhirnya meraih kemenangan pertama dalam kariernya atas Alcaraz sekaligus menyamai pencapaiannya saat mencapai semifinal US Open tiga tahun lalu.

Shelton selanjutnya akan menghadapi kompatriotnya, Frances Tiafoe, dalam semifinal sesama petenis Amerika Serikat.

Tiafoe juga harus melalui pertarungan lima set sebelum menyingkirkan Alex Michelsen dengan skor 5-7, 3-6, 7-5, 6-3, 7-6 (10-6).

Duel Shelton kontra Tiafoe membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk mengakhiri penantian panjang. Salah satu dari mereka berpeluang menjadi petenis putra AS pertama yang menjuarai nomor tunggal US Open sejak Andy Roddick pada 2003.

Shelton mengakui pertandingan melawan Alcaraz merupakan salah satu pertarungan paling berat sekaligus paling menyenangkan dalam kariernya.

"Itu sebuah perang, pertandingan yang epik dan sangat menguras fisik," kata Shelton.

"Carlos sudah menjadi salah satu juara terbesar dalam olahraga kami meski baru berusia 23 tahun. Selalu menyenangkan berada di lapangan melawannya. Beberapa hal yang dia lakukan benar-benar gila. Ini jelas pertandingan paling menyenangkan yang pernah saya jalani dalam karier saya."

Sebaliknya, Alcaraz menerima kekalahan tersebut dengan kepala tegak. Ia mengaku pertandingan berlangsung sangat ketat dan tidak ingin larut dalam kekecewaan.

"Pertandingannya sangat dekat. Jadi saya tidak akan kecewa karena tidak mendapatkan kemenangan pada akhirnya," ujar Alcaraz.

"Saya bangga kepada diri saya sendiri, dengan bagaimana saya berjuang. Saya meninggalkan lapangan dengan senyum, dalam kondisi sehat, dan itulah yang saya butuhkan."

Kekalahan itu mengakhiri perjalanan Alcaraz dalam turnamen pertamanya setelah absen sekitar empat bulan akibat cedera.

Sebelum menghadapi Shelton, Alcaraz tampil semakin meyakinkan dari pertandingan ke pertandingan. Namun, Shelton akhirnya menjadi lawan yang mampu menghentikan langkahnya.

Pertandingan sebenarnya berlangsung seimbang sejak awal. Tiga pertandingan pertama pada hari itu seluruhnya berlangsung hingga set penentuan, membuat Alcaraz dan Shelton baru memasuki lapangan setelah pukul 23.00.

Keduanya langsung bermain agresif. Tidak ada satu pun yang menghadapi break point dalam 10 gim pertama. Alcaraz bahkan sempat berada dalam situasi sulit ketika melakukan dua double fault secara beruntun sebelum akhirnya mampu mempertahankan servis untuk kedudukan 4-4.

Alcaraz kemudian mendapatkan momentum. Ia mencatat love game pertamanya untuk menyamakan kedudukan 5-5 sebelum mendapatkan break pertama pada gim berikutnya.

Shelton berada dalam tekanan besar saat tertinggal 0-40 dan akhirnya melakukan kesalahan forehand. Alcaraz pun mendapat kesempatan melakukan servis untuk merebut set pertama.

Namun, dua kesalahan pada awal gim membuka kembali pintu bagi Shelton.

Petenis Amerika itu langsung melakukan break dan memaksa pertandingan memasuki tie-break. Shelton sempat unggul 5-3, tetapi Alcaraz menunjukkan mental juaranya dengan merebut empat poin terakhir secara beruntun. Set pertama menjadi milik Alcaraz setelah berlangsung selama 61 menit.

Namun, keadaan berubah drastis setelah itu. Shelton menemukan ritmenya dan Alcaraz mulai kesulitan mempertahankan kualitas servis. Petenis Amerika tersebut bahkan merebut sembilan gim berturut-turut yang terbentang dari set kedua hingga set ketiga.

Dua dari tiga break Shelton pada set kedua terjadi akibat double fault Alcaraz, termasuk satu kesalahan ganda pada set point.

"Saya tahu servis saya akan semakin baik. Jika saya sudah bisa mengembalikan bola dengan baik hingga mampu melakukan break, saya pikir peluang saya cukup bagus untuk merebut set kedua," kata Shelton.

"Begitu saya mulai mendapatkan momentum pada set kedua dan melakukan tiga break, saya bisa bermain lebih bebas dan memukul bola dengan lebih lepas."

Meski berada dalam tekanan, Alcaraz menunjukkan bahwa dirinya belum habis. Ketika Shelton melakukan servis untuk menutup set ketiga, Alcaraz mendapatkan peluang break. Shelton memang mampu mengamankan set tersebut, tetapi momentum mulai berubah.

Alcaraz kemudian bangkit luar biasa pada set keempat. Hanya membutuhkan 36 menit, ia merebut set keempat dan memaksakan pertandingan berlanjut ke set penentuan.

Set kelima berlangsung sangat ketat. Kedua pemain sama-sama memiliki peluang untuk melakukan break. Alcaraz mendapatkan kesempatan pada kedudukan 2-2, sementara Shelton kemudian memperoleh peluang pada 4-3.

Tidak ada yang mampu memanfaatkan kesempatan tersebut. Pertandingan akhirnya harus ditentukan melalui match tie-break 10 poin.

Di sinilah Shelton tampil lebih tenang. Ia mengamankan poin-poin penting hingga akhirnya menutup pertandingan dengan sebuah ace pada match point.

Arthur Ashe Stadium pun bergemuruh. Shelton memastikan kemenangan terbesar dalam kariernya atas Alcaraz sekaligus menjaga harapan Amerika Serikat untuk kembali memiliki juara US Open putra setelah penantian lebih dari dua dekade.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.