Puluhan Hektar Sawah di Jambi Mengering, Petani Terancam Gagal Panen

Kamis, 10 Sep 2026, 22:30 WIB

JAMBI – Kemarau berkepanjangan mulai menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian karena keterbatasan pasokan air meningkatkan risiko tanaman padi mengalami kekeringan hingga gagal panen atau puso.

Kondisi ini tidak hanya berpotensi menekan produksi beras, tetapi juga meningkatkan beban biaya petani yang harus mengandalkan pompa dan sumber air alternatif.

Ket. Foto: Kekeringan melanda lahan pertanian padi di Desa Simpang Datuk Kecamatan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Kamis (10/9/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Dinas TPHP Provinsi Jambi

Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi merilis sebanyak 53 hektare (ha) lahan padi petani di wilayah ini mengalami gagal panen (puso) akibat dampak kemarau yang terjadi dalam dua bulan terakhir.

"Yang terbesar berada Kabupaten Batang Hari di Kecamatan Bathin XXIV ada 11,5 hektare," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPTD-BPTPH) Dinas TPHP Provinsi Jambi Darmawansyah, di Jambi, Kamis (10/9).

Ia menjelaskan, peristiwa gagal panen itu disebabkan oleh dampak kekeringan akibat perubahan iklim (kemarau) dan diperparah dengan adanya fenomena El Nino yang melanda wilayah Jambi.

Berdasarkan laporan yang masuk, dari 7.659,73 ha luas padi sawah pada masa tanam periode ini, 1.851,18 ha mengalami rusak ringan, 1.313,18 ha mengalami rusak sedang, 559,47 ha rusak berat, dan 53 ha lainnya gagal panen atau puso.

Berdasarkan sebaran wilayah, kabupaten/kota, untuk Kota Sungai Penuh, dari 464 ha luas tanam, 60 ha mengalami rusak ringan, dan dua ha rusak sedang.

Di Kabupaten Tebo, dari luas tanam 458,75 ha, 167,75 ha di antaranya mengalami rusak ringan, 115,5 ha rusak sedang, 57, 50 ha rusak berat, dan 16,75 ha mengalami puso.

Berikutnya, Kabupaten Sarolangun, dari 986,75 ha luas tanam, 274,75 ha mengalami rusak ringan, 195,75 ha rusak sedang, 70 hektare rusak berat, dan satu ha mengalami puso.

Sementara itu, di Kabupaten Batang Hari, dari 3.039,30 ha luas tanam, 418,50 ha mengalami rusak ringan, 679,90 ha rusak sedang, dan 99,40 ha rusak berat, serta 23,25 ha dinyatakan puso.

Bergeser ke Kabupaten Muaro Jambi, di wilayah itu, dari 1.375, 27 ha tanaman padi sawah yang ada, 518,30 ha tercatat mengalami rusak ringan, 154,50 ha rusak sedang, 317,54 ha rusak berat, dan 10 ha mengalami puso.

Selanjutnya di Kota Jambi, dari 141,25 ha luas tanam, 75,36 ha mengalami rusak ringan, 18,53 ha rusak sedang, dan empat ha rusak berat, dua ha mengalami puso.

Lalu, untuk Kabupaten Kerinci, dari 533,50 ha luas tanam, 70,50 ha mengalami rusak ringan, dan 24 ha rusak sedang.

Kemudian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dari 92 ha luas tanam, 30 ha mengalami rusak ringan, 51 ha rusak sedang, dan 11 ha mengalami rusak berat.

Beralih ke Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dari 49,50 ha luas tanam yang ada, enam ha dinyatakan rusak ringan, sementara untuk rusak ringan, berat hingga puso belum ditemukan di daerah tersebut.

Untuk Kabupaten Merangin 528,44 ha luas tanam, 230,02 ha mengalami rusak ringan, 72 ha rusak sedang.

Menyikapi persoalan itu, Darmawansyah memastikan Dinas TPHP setempat akan mengambil langkah penanganan dengan menyediakan pompanisasi untuk daerah terdampak.

Namun untuk daerah yang mengalami kekeringan ekstrem, pemerintah tidak bisa mengambil langkah tersebut karena terkendala oleh pasokan air.

"Ini angka laporan se-Provinsi Jambi sampai dengan akhir Agustus 2026, kondisi ini sudah kami laporkan kepada Kepala Dinas DTPHP Provinsi Jambi dan melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian sudah berupaya melakukan penanganan," katanya pula.

  • Terancam Puso
  • Dampak Kemarau

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.