Produk Teknologi Pacu Pertumbuhan Ekspor Tiongkok

Rabu, 09 Sep 2026, 03:10 WIB

BEIJING - Ekspor Tiongkok kembali tumbuh kuat pada Agustus 2026. Kinerja ini ditopang tingginya permintaan global terhadap produk teknologi, termasuk barang yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), di tengah lemahnya permintaan domestik. 

Berdasarkan data bea cukai Tiongkok yang dirilis Selasa, ekspor Negeri Tirai Bambu itu naik 25 persen secara tahunan (year on year/yoy) dalam denominasi dollar AS pada Agustus. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan 23,9 persen pada Juli dan sesuai dengan ekspektasi pasar.

Ket. Foto: Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Nanjing, Tiongkok. — Sumber: CN-STR/AFP

Sementara itu, impor Tiongkok tumbuh 28,2 persen yoy pada Agustus, meningkat dari 27,5 persen pada bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut masih di bawah perkiraan pasar yang mencapai 30 persen.

Kepala Ekonom ING untuk Greater Tiongkok Lynn Song mengatakan, kuatnya permintaan eksternal masih menjadi penopang utama perekonomian Tiongkok. Namun, keberlanjutan investasi teknologi dan risiko tarif menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

“Risiko tarif dan keberlanjutan siklus investasi teknologi merupakan faktor kunci yang perlu dipantau untuk melihat seberapa lama kekuatan ini akan bertahan,” kata Song seperti dilaporan Reuters (8/9).

Paruh pertama 2026, ekspor produk teknologi tinggi Tiongkok melonjak 42,9 persen dalam denominasi dolar AS. Ekspor semikonduktor bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat secara nilai, meski volumenya hanya tumbuh 4,1 persen.

Ekspor kendaraan juga mencatat pertumbuhan signifikan. Nilai maupun volume ekspor mobil Tiongkok meningkat lebih dari 50 persen dalam periode tersebut. Permintaan terhadap produk AI, kendaraan listrik, panel surya, serta baterai lithium-ion turut menopang kinerja ekspor.

Strategis senior Tiongkok di ANZ, Zhaopeng Xing mengatakan, permintaan produk teknologi masih menjadi salah satu pendorong utama perdagangan Tiongkok. Perusahaan juga masih mempercepat pengiriman barang ke Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian kebijakan tarif. Di sisi lain, ketergantungan terhadap pasar eksternal membuat Tiongkok menghadapi risiko meningkatnya tekanan dari mitra dagang. AS dan Uni Eropa sebelumnya telah mendorong Beijing mengurangi surplus perdagangannya.

Surplus perdagangan Tiongkok pada Agustus mencapai 119,09 miliar dollar AS, naik dari 112,5 miliar dollar AS pada Juli. Dalam delapan bulan pertama 2026, surplus perdagangan Tiongkok telah mencapai 805,51 miliar dollar AS dan berpotensi menembus 1 triliun untuk tahun kedua berturut-turut. Surplus perdagangan Tiongkok dengan AS juga meningkat menjadi 29,18 miliar dollar AS pada Agustus. Ekspor Tiongkok ke AS melonjak 34,4 persen yoy, sementara impor dari AS tumbuh 17,8 persen. Meski ekspor tetap kuat, kondisi ekonomi domestik Tiongkok masih menjadi perhatian.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.