- Home
-
- Luar Negeri
-
- Paparan Asap Rokok Sebabka...
Paparan Asap Rokok Sebabkan 1,7 Juta Kematian di Seluruh Dunia
Rabu, 09 Sep 2026, 02:30 WIBPARIS â Lebih dari 2,7 miliar orang, termasuk anak-anak, telah terpapar asap rokok pasif di seluruh dunia, yang menyebabkan hampir 1,7 juta kematian pada tahun 2023, menurut sebuah studi yang diterbitkan di The Lancet pada Selasa (8/9).
Tembakau tetap menjadi penyebab utama penyakit di seluruh dunia, kata studi tersebut, mencatat bahwa banyak bukan perokok yang terpapar asap rokok pasif termasuk di antara perkiraan total delapan juta orang yang meninggal pada tahun 2023 karena penyakit yang terkait dengan merokok.
âPaparan asap rokok pasif merupakan risiko kesehatan yang diakui secara global, dan tidak ada tingkat inhalasi yang aman,â demikian pernyataan dari studi tersebut.
Dengan meninjau studi yang dipublikasikan di basis data PubMed milik Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat beserta survei populasi, studi tanggal 8 September tersebut bertujuan untuk memperkirakan prevalensi paparan asap rokok pasif dan mengukur beban penyakit di 204 negara dan wilayah antara tahun 1990 dan 2023.
Di antara sekitar 2,7 miliar orang yang terpapar asap rokok pasif pada tahun 2023, terdapat 767 juta anak berusia 0 hingga 14 tahun, menurut hasil penelitian tersebut.
Paparan ini diperkirakan telah menyebabkan 1,66 juta kematian dini dan mengakibatkan kecacatan dan penyakit dini, yang diawali dengan penyakit jantung iskemik, yaitu kondisi jantung yang disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen ke otot jantung.
âPada anak-anak, paparan asap rokok pasif diperkirakan menyebabkan 5,2 juta infeksi saluran pernapasan pada tahun 2023,â demikian bunyi laporan tersebut.
Berdasarkan penjelasan studi tersebut, orang-orang yang berada di dekat seseorang yang sedang merokok terpapar baik asap sampingan dari produk tembakau yang terbakar maupun asap yang dihembuskan oleh perokok aktif.
âKomponen sampingan, yang mendominasi udara yang dihirup oleh bukan perokok, tidak tersaring, membawa konsentrasi senyawa beracun dan karsinogenik per unit yang lebih tinggi daripada yang dihirup oleh perokok aktif,â ungkap studi tersebut.
Meskipun terjadi penurunan signifikan dalam prevalensi merokok secara global sejak tahun 1990, jumlah absolut orang yang terpapar tetap stabil karena pertumbuhan populasi dan peningkatan paparan di Afrika dan Timur Tengah.
Perempuan juga terkena dampak asap rokok pasif secara tidak proporsional, terutama di daerah-daerah di mana prevalensi merokok di kalangan perempuan rendah, demikian catatan laporan tersebut.
âTerlepas dari beban yang cukup besar ini, paparan (asap rokok pasif) masih jarang diakui sebagai faktor risiko utama bagi kesehatan perempuan,â demikian hasil laporan tersebut.
Studi tersebut kemudian menyerukan pemerintah untuk menerapkan kontrol tembakau yang lebih ketat di tempat umum dan di rumah guna melindungi perempuan dan anak-anak dari asap rokok pasif. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Mengkhawatirkan, Tiga Kasus Positif Hantavirus dan Enam Suspek Kini Telah Ada di Jakarta
-
Prediksi Cuaca Ekstrem dan Potensi Banjir Rob di Lombok-Sumbawa Pekan Ini
-
Lolos Batas Minimal, Seleksi 6 Jabatan Strategis Ponorogo Bakal Berlangsung Panas!
-
Pelayaran perdana kapal cepat Express Cantika 07 rute Kendari-Raha
-
Microchip Luncurkan Solusi SiP Canggih untuk Dashboard Digital Otomotif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.