Kejahatan Ponsel di Brasil Makin Mengerikan, HP Dicuri hingga Rekening Dikuras

Selasa, 29 Sep 2026, 13:26 WIB

Rio de Janeiro - Eduardo Metzker, 29 tahun, sedang mengendarai sepeda motornya di Rio de Janeiro ketika tiba-tiba diapit oleh dua sepeda motor lainnya. Salah seorang pengendara mengacungkan senjata ke kepalanya dan meminta telepon seluler beserta kode aksesnya.

Pengembang perangkat lunak itu menyaksikan dengan ngeri ketika para perampok menguras hingga 80.000 real Brasil atau sekitar 15.000 dolar AS dari aplikasi perbankannya, sebagian besar melalui fasilitas kredit, sementara ia berusaha memblokir rekening-rekeningnya.

Ket. Foto: Eduardo Metzker, 29, menyaksikan dengan ngeri saat rekening banknya dikuras sekitar 15.000 dolar AS setelah ponselnya dirampas dalam aksi perampokan bersenjata. — Sumber: AFP

"Anda tahu, setiap hari kita keluar rumah, bekerja mencari nafkah, menabung, membangun kehidupan, lalu seseorang menodongkan senjata ke wajah dan mengambil semua yang Anda miliki. Peringkat kredit saya hancur," kata Metzker kepada AFP.

Kejahatan telepon seluler, yang dapat melibatkan kekerasan, penipuan keuangan, bahkan pembunuhan, telah menjadi simbol kuat dari krisis keamanan yang melanda kota-kota Brasil seperti Rio de Janeiro menjelang putaran pertama pemilihan presiden pada Minggu.

"Telepon seluler tampaknya merangkum kepanikan yang semakin besar terkait kekerasan di perkotaan," kata Forum Keamanan Publik Brasil (FBSP) dalam laporan tahunannya.

Survei FBSP yang diterbitkan pada Mei memperkirakan sekitar 14 juta orang menjadi korban kejahatan tersebut dalam 12 bulan sebelumnya.

Namun, hanya sekitar 830.000 telepon seluler yang dilaporkan dicuri atau dirampas sepanjang 2025, berdasarkan laporan tahunan yang menggunakan data kepolisian.

"Kami berjalan-jalan dalam keadaan benar-benar takut, terus-menerus waspada," kata Caroline Lo Bianco, 36 tahun, seorang dokter gigi yang telepon selulernya direnggut dari tangannya melalui jendela mobil Uber ketika sedang hamil tujuh bulan.

Telepon Cadangan untuk Perampok

Menjelang pemilu yang berlangsung ketat, Presiden petahana berhaluan kiri Luiz Inacio Lula da Silva dan rivalnya dari kubu kanan, Flavio Bolsonaro, sama-sama berjanji memberantas kejahatan tersebut.

Bolsonaro berjanji melipatgandakan empat kali lipat hukuman penjara untuk kejahatan terkait telepon seluler, sedangkan Lula mengatakan "tujuan kami adalah tidak ada pencurian telepon."

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan keamanan menjadi perhatian utama masyarakat Brasil dalam pemilu kali ini. Namun, Metzker mengatakan dirinya tidak yakin kandidat mana pun akan mampu membawa perubahan.

"Sejujurnya, mereka bisa mengatakan apa saja yang mereka mau, saya tidak percaya kepada mereka."

Ketakutan terhadap kejahatan telepon seluler mendorong sekitar 30 persen warga Brasil atau sekitar 65 juta orang untuk memiliki telepon kedua yang murah, yang dijuluki "telepon untuk perampok", menurut FBSP.

Metzker mengatakan setelah menjadi korban perampokan, kini ia membawa satu telepon yang digunakan ketika berada di luar rumah dan menyimpan telepon lainnya di rumah dengan seluruh aplikasi perbankannya.

Leonardo Silva, koordinator isu kejahatan negara dan kejahatan terorganisasi di FBSP, mengatakan kejahatan terkait telepon seluler semakin canggih.

"Perhatian pelaku telah bergeser dari telepon itu sendiri, yang memiliki nilai fisik, ke data yang tersimpan di perangkat tersebut," katanya kepada AFP.

Setelah dirampok, Lo Bianco memblokir kartu-kartu banknya. Namun, pencuri berhasil mentransfer hampir 700 dolar AS dari rekening bank digitalnya.

Mereka juga membeli konsol Xbox melalui aplikasi Amazon miliknya, yang berhasil ia blokir sebelum barang tersebut dikirim.

Para pencuri bahkan menggunakan aplikasi pesan-antar makanan miliknya untuk mengirim bir, daging, dan makanan McDonald's ke berbagai alamat di Rio de Janeiro.

Berbagai Bentuk Kerugian

Luiz Fernando Bugiga, jaksa dari Kelompok Aksi Khusus Pemberantasan Kejahatan Terorganisasi (GAECO), mengatakan operasi besar kepolisian di Sao Paulo bulan ini mengungkap adanya jaringan terorganisasi di balik kejahatan telepon seluler yang terdiri atas empat kelompok kriminal berbeda.

Kelompok yang mencuri telepon menyerahkannya kepada kelompok khusus yang anggotanya "memulai transfer bank dan pencurian data".

Kelompok ketiga melakukan modifikasi teknis untuk "melegitimasi" telepon tersebut sehingga dapat kembali masuk ke pasar. Kelompok terakhir bertugas menjual suku cadang dan perangkat.

"Pencurian telepon seluler menciptakan berbagai bentuk kerugian bagi korban dan karena itu juga menciptakan berbagai sumber keuntungan bagi pelaku kejahatan," katanya.

Bagi banyak korban, mengganti telepon saja sudah menjadi beban keuangan yang besar.

Joel da Silva, 42 tahun, yang bekerja sebagai petugas keamanan di Ipanema, "tidak memiliki telepon selama sebulan" sebelum akhirnya mampu membeli telepon baru dengan mencicil empat kali setelah dirampok dengan todongan senjata.

Kepada AFP, ia mengatakan bahwa selama tujuh bulan bekerja di tempat tersebut, dirinya telah menyaksikan empat kasus perampasan telepon dari gedung tempatnya bekerja.

Lo Bianco, yang berasal dari ibu kota Brasilia dan pernah menjadi korban pembajakan mobil bersenjata di Rio beberapa tahun lalu, bermimpi untuk meninggalkan kota tersebut.

"Saya mengatakan kepada suami saya, jika dia meminta saya pindah ke Amazon, tas saya akan sudah siap keesokan harinya."

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.