Minyak Dunia Nyaris Tembus 100 Dollar AS, Perang AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi
Rabu, 09 Sep 2026, 12:02 WIBHong Kong - Harga minyak melonjak lebih dari satu persen mendekati level 100 dolLar AS per barel pada Rabu (9/9), sementara pasar saham bergerak terbatas setelah kembali memanasnya krisis di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi. Kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan inflasi menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pada akhir pekan.
Konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang kini memasuki bulan ketujuh belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meski Gedung Putih mengklaim kesepakatan sudah semakin dekat. Situasi tersebut membuat investor semakin khawatir Federal Reserve (The Fed) harus menaikkan suku bunga untuk menekan lonjakan harga konsumen.
Kedua negara masih berada dalam kebuntuan setelah enam bulan perang. Iran mempertahankan kendali ketat atas Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dan gas dunia. Sementara itu, AS terus melakukan tekanan terhadap pelabuhan dan perekonomian Iran.
Iran pada Rabu menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania setelah As menyerang kapal-kapal Iran di Selat Hormuz. Serangan AS tersebut disebut sebagai respons terhadap peluncuran rudal balistik ke arah kapal perang AS.
Iran juga menyatakan akan menargetkan kapal tanker minyak di lepas pantai Kuwait dan Bahrain serta meminta awak kapal meninggalkan kapal mereka, menurut kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Situasi semakin memburuk setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dan Arab Saudi saling melancarkan serangan. Kelompok tersebut menargetkan fasilitas minyak dalam ofensif menuju Bab al-Mandab, jalur strategis di Laut Merah.
Jalur tersebut menjadi semakin penting bagi pengiriman minyak Arab Saudi setelah Selat Hormuz ditutup.
Dua kontrak minyak mentah utama dunia melonjak lebih dari satu persen pada Rabu. Harga minyak Brent sempat menyentuh 99,67 dollar AS per barel, hanya sedikit di bawah level 100 dollar AS yang terakhir dicapai pada Juli. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak menuju 95 dollar AS per barel, level yang terakhir terlihat pada Juni.
Lonjakan harga energi membuat inflasi global tetap tinggi dan meningkatkan tekanan terhadap bank sentral untuk menaikkan biaya pinjaman. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan mengambil langkah tersebut pada Kamis.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat pada Jumat. Data tersebut dinilai menjadi salah satu penentu utama keputusan The Fed mengenai suku bunga pada pekan depan.
âKonflik yang terus berlangsung di Timur Tengah mempertahankan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Hal itu kemudian membuat investor mencemaskan dampak inflasi akibat tingginya harga minyak,â kata analis pasar FOREX.com Fawad Razaqzada.
Menurut dia, kombinasi ketahanan pasar tenaga kerja AS dan kembali meningkatnya tekanan dari harga energi menjadi sinyal yang cenderung mendorong The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
âKenaikan harga minyak yang berkelanjutan berisiko membalikkan kemajuan inflasi yang selama ini menjadi dasar bagi pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga, sekaligus menekan konsumen dan dunia usaha,â ujarnya.
Prospek kenaikan biaya pinjaman turut menekan pasar saham. Tiga indeks utama Wall Street seluruhnya ditutup melemah.
Di Asia, pergerakan pasar bervariasi. Namun, saham-saham teknologi masih mendapat dukungan dari pemulihan setelah aksi jual besar-besaran pada Juli, seiring kembali menguatnya optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Seoul menjadi salah satu pasar dengan penguatan terbesar. Saham perusahaan pembuat chip SK hynix naik lebih dari tiga persen, sedangkan Samsung menguat lebih dari satu persen.
Tokyo, Shanghai, Taipei, dan Manila juga mencatat kenaikan. Sebaliknya, Hong Kong, Sydney, Singapura, Wellington, dan Jakarta bergerak melemah.
Di pasar valuta asing, yen menguat ke sekitar 153,50 per dolar AS setelah reli pada Selasa mulai berkurang menjelang akhir perdagangan. Pada Selasa, yen sempat mendekati level tertinggi sepanjang 2026.
Data pasar sekitar pukul 02.30 GMT:
- WTI: naik 1,4 persen menjadi 94,34 dolar AS per barel.
- Brent: naik 1,4 persen menjadi 99,31 dolar AS per barel.
- Nikkei 225 Tokyo: naik 0,4 persen menjadi 65.495,23.
- Hang Seng Hong Kong: turun 0,1 persen menjadi 25.292,57.
- Shanghai Composite: naik 0,2 persen menjadi 3.949,07.
- Dolar/yen: 153,60 yen dari 153,96 yen pada Selasa.
- Euro/dolar: 1,1629 dolar AS dari 1,1627 dolar AS.
- Pound/dolar: 1,3543 dolar AS dari 1,3541 dolar AS.
- Euro/pound: 85,87 pence dari 85,85 pence.
- Dow Jones New York: turun 1,2 persen menjadi 52.786,07.
- FTSE 100 London: turun 0,1 persen menjadi 10.811,66.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Gedung Putih Izinkan Lagi TikTok di Perangkat Pemerintah AS
-
Green Jobs Berkembang Pesat, Wamenaker Minta Pemda Siapkan SDM
-
Setoran Parkir Menguap Begitu Saja, Pemkab Batang Pelototi Kantong Parkir Tanpa Izin!
-
Para Calon Pengantin Ini Dibekali Cara Kelola Keuangan untuk Mencegah Terjerat Pinjol
-
Gandeng 11 Mitra Strategis, PTPN Group Kembangkan Ekosistem Hilirisasi Ubi Kayu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.