IQAir: Udara Jakarta Menempati Posisi Terburuk Keenam di Dunia pada Selasa Pagi

Selasa, 29 Sep 2026, 08:15 WIB

JAKARTA – Kualitas udara Jakarta pada Selasa pagi (29/9), berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.30 WIB, menempati posisi terburuk keenam di dunia.

Indeks kualitas udara (AQI) kota metropolitan itu berada di angka 159, yang menjadikannya masuk kategori tidak sehat.Masyarakat pun dianjurkan untuk menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.

Ket. Foto: Kendaraan operasional Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menyemprotkan kabut air (water mist) di Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta, Minggu (6/9/2026). — Sumber: ANTARA

Kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Singapura dengan indeks kualitas udara di angka 182, lalu urutan kedua adalah Kolkata, India di angka 180, kemudian di urutan ketiga Lahore, Pakistan, di angka 174.

Diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tiga strategi utama yang tengah dijalankan untuk memperbaiki kualitas udara.

Pertama yakni perluasan jangkauan layanan bus Transjabodetabek untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, seperti Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, hingga pembukaan rute baru Blok M-Bandara Soekarno Hatta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan transportasi publik yang telah disediakan Pemprov DKI.

Bahkan, Pemprov DKI telah menerbitkan aturan terkait pemberlakuan layanan transportasi umum gratis bagi 15 golongan masyarakat.

Saat ini, konektivitas transportasi Jakarta telah mencapai 92 persen, menempatkan Jakarta di posisi ke-17 dunia dan peringkat kedua di ASEAN setelah Singapura.

Lebih lanjut, sektor transportasi saat ini menyumbang 50 persen emisi gas buang di Jakarta. Karena itu, Pramono pun telah menargetkan pengoperasian 10.000 bus listrik Transjakarta pada 2030.

Selain transportasi, sektor pengelolaan sampah juga menjadi perhatian Pemprov DKI dengan mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah ITF (Intermediate Treatment Facility) di Sunter, Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat. Proyek ini ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun ini.

"Kalau itu bisa dilakukan, kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," pungkasnya.

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.