Medan Sulit Tak Halangi Nakes Jangkau Korban Gempa di Ende NTT.
Selasa, 08 Sep 2026, 11:38 WIBJalan pegunungan yang rusak, tebing dan jurang curam, hingga perjalanan laut selama dua jam tidak menghentikan langkah tenaga kesehatan (nakes) menjangkau masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam keterangan dari Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa, relawan dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Halik Malik dan tiga relawan lainnya menceritakan tentang upaya memberikan layanan kesehatan di tengah keterbatasan akses dan sejumlah fasilitas kesehatan yang belum dapat berfungsi optimal akibat bencana tersebut.
âSebagian besar wilayah kerja puskesmas tempat kami bertugas termasuk daerah sulit akses. Umumnya hanya dapat ditempuh dengan kendaraan yang pengemudinya berpengalaman menghadapi medan ekstrem atau dengan berjalan kaki,â ujar dr Halik yang ditugaskan di Puskesmas Ndona, Kabupaten Ende.
Salah satu perjalanan paling menantang, katanya, dilakukan saat tim memberikan pelayanan kesehatan bergerak (mobile clinic) ke Desa Nila. Tim harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam menggunakan mobil atau motor, kemudian berjalan kaki mendaki selama sekitar 2,5 jam untuk mencapai desa tujuan.
Perjalanan pulang pun tidak kalah menantang. Untuk memangkas waktu, timnya memilih jalur laut dari dermaga darurat. Dari tebing dan jurang, para relawan langsung naik ke kapal motor dan menempuh perjalanan sekitar dua jam menyusuri pesisir selatan Pulau Ende untuk kembali ke puskesmas.
Di lapangan, tim menemukan masyarakat yang masih bertahan di rumah dengan tenda pengungsian mandiri di depan rumah. Sementara itu, warga dengan rumah rusak berat mendapatkan bantuan tenda dan logistik serta menunggu proses pemulihan dan penyediaan hunian sementara.
Kondisi tersebut mulai memunculkan berbagai masalah kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, sakit lambung, hipertensi, pegal-pegal atau nyeri persendian, serta gangguan tidur. Pasien dengan penyakit kronis juga mengalami kondisi yang lebih berat karena akses terhadap layanan kesehatan terganggu pascabencana.
Selain masalah kesehatan fisik, sejumlah warga mengalami trauma, kecemasan, dan gangguan tidur akibat gempa susulan yang masih kerap terjadi.
Tim juga menemukan sejumlah kasus yang membutuhkan penanganan segera, termasuk persalinan darurat dan gagal napas akibat infeksi saluran pernapasan pada anak balita. Penanganan dilakukan bersama petugas puskesmas, termasuk melakukan rujukan apabila pasien membutuhkan layanan lebih lanjut.
Menurut dr Halik, pola pelayanan dengan mendatangi langsung masyarakat menjadi salah satu cara efektif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan selama fasilitas pelayanan kesehatan masih dalam proses pemulihan.
âTim relawan menyisir wilayah kerja di masing-masing puskesmas untuk memastikan siapa saja yang sakit di pelosok desa sekalipun mendapatkan tindakan medis segera yang seharusnya mereka dapatkan,â ujarnya.
Kedatangan tim medis mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Keterbatasan layanan membuat warga harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan pengobatan, sementara sejumlah puskesmas pembantu di wilayah terdampak belum dapat berfungsi optimal.
Di Kabupaten Ende, dari 28 puskesmas yang ada, sedikitnya 12 puskesmas mendapatkan dukungan relawan kesehatan TCK Kemenkes. Dukungan diberikan untuk memperkuat tenda pelayanan kesehatan serta membantu pelayanan kesehatan dari desa ke desa di wilayah kerja puskesmas terdampak.
âPada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana,â kata dr Halik.
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Jalur pegunungan dengan jurang dan tebing curam diperberat dengan kerusakan jalan dan longsor di sejumlah titik. Gempa susulan juga membuat masyarakat maupun tenaga kesehatan harus tetap waspada.
Namun demikian, petugas puskesmas bersama relawan terus berupaya menjangkau seluruh wilayah kerja dan memastikan masyarakat mendapatkan hak pelayanan kesehatan.
âTantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik,â ujar dr Halik.
Kemenkes terus memperkuat respons kesehatan bersama pemerintah daerah melalui dukungan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan bergerak, tenda pelayanan, serta logistik medis.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan selama fasilitas kesehatan terdampak masih dalam proses pemulihan.
- tenaga kesehatan
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
PT KAI Sebut Pengguna Layanan Commuter Line Basoetta Naik 14,78 Persen
-
PPIH: 30.611 Jamaah Haji Indonesia Tiba di Tanah Suci, Daker Bandara Perkuat Layanan Lansia
-
Trauma Healing Pascabencana, Remaja di Tanah Datar Tampilkan Tari Sambut Perantau
-
Sultan HB X Dorong OPD DIY Hijaukan Lingkungan Kantor Lewat Program Rukti Bumi
-
BPBD: Pohon Tumbang Menimpa Tujuh Orang Akibatkan Meninggal Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.