PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Bahayakan Kualitas Udara dan Kesehatan

Senin, 07 Sep 2026, 13:35 WIB

JENEWA - Kebakaran hutan dan gelombang panas, yang menghasilkan polutan udara mikroskopis, berisiko merusak upaya meningkatkan kualitas udara, melindungi kesehatan manusia, dan menjaga alam, kata Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Senin (7/9).

Badan cuaca dan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menggarisbawahi hubungan antara polusi udara dan perubahan iklim, yang menurut para ilmuwan menyebabkan gelombang panas dan kebakaran hutan yang lebih sering dan makin intens.

Ket. Foto: Kebakaran hutan dan lahan di Karya Jaya, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 11 Agustus 2026. — Sumber: Antara

"Kebakaran hutan ekstrem semakin meningkat, menyebabkan konsekuensi kesehatan yang besar karena tingginya toksisitas asap," kata WMO dalam sebuah pernyataan yang menyertai Buletin Kualitas Udara dan Iklim tahunan terbarunya.

"Meskipun peraturan di Eropa dan Amerika Utara telah mengurangi emisi PM2.5 dari industri dan transportasi, paparan terhadap PM2.5 yang terkait dengan kebakaran justru meningkat."

Partikel halus PM2.5 terdiri dari partikel dan tetesan mikroskopis dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer, yang berbahaya bagi kesehatan karena dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah.

Gas ini dihasilkan oleh aktivitas industri yang menggunakan bahan bakar fosil, pertanian, pemanasan rumah tangga, dan transportasi, serta oleh kebakaran hutan dan badai debu.

Laporan tersebut menyatakan, dunia perlu memantau polutan udara dengan lebih baik, seperti aerosol -- termasuk karbon hitam dan mikroplastik --, partikel halus, dan ozon permukaan tanah.

Polutan-polutan ini "tidak dipantau secara memadai meskipun tersebar luas dan berpotensi membahayakan ekosistem", kata WMO.

"(Kita membutuhkan) kebijakan yang saling melengkapi dan terkoordinasi mengenai kualitas udara dan iklim karena keduanya tidak dapat ditangani secara terpisah."

Asap Kebakaran Hutan Beracun 

"Kualitas udara dan perubahan iklim tidak dapat ditangani secara terpisah. Jika salah satunya memburuk, yang lainnya juga akan memburuk," kata Lorenzo Labrador, dari jaringan ilmuwan Global Atmosphere Watch milik WMO, kepada AFP.

"Di tempat-tempat yang mengalami kebakaran hutan yang relatif hebat, kita menemukan banyak polusi partikel halus," katanya.

Mikropartikel yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi "jauh lebih beracun" daripada yang dikeluarkan oleh sumber lain, bahkan knalpot mobil, tegasnya.

Menurut Labrador, partikel-partikel tersebut merusak kesehatan manusia dan satwa liar yang tinggal jauh dari lokasi kebakaran karena terbawa angin, tetapi efek beracunnya tidak cukup diperhitungkan dalam penilaian kualitas udara.

"Model risiko konvensional yang didasarkan pada konsentrasi total PM2.5 mungkin meremehkan angka kematian akibat kebakaran hutan hingga 93 persen," kata WMO.

Sebuah studi yang dikutip dalam Buletin WMO menyatakan kejadian asap kebakaran ekstrem telah meningkat tiga kali lipat secara global sejak tahun 1990-an, yang menyebabkan hampir 100.000 kematian tambahan per tahun antara tahun 2010 dan 2018, meskipun angka ini mungkin merupakan perkiraan yang terlalu rendah.

Ozon, Mikroplastik 

Sumber polusi udara lain yang membawa risiko kesehatan besar adalah ozon permukaan tanah, yang menumpuk ketika suhu naik, kondisi atmosfer stagnan, dan radiasi matahari intens, seperti yang terlihat selama gelombang panas baru-baru ini di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat bagian tenggara.

"Peningkatan paparan polusi ozon ini berpotensi menyebabkan puluhan ribu kematian dini tambahan," khususnya akibat penyakit pernapasan, demikian peringatan WMO.

Kekhawatiran lain yang semakin meningkat adalah partikel aerosol, yang juga dapat menyebar ke lautan dan benua yang jauh dari sumbernya.

Partikel-partikel tersebut dapat mengubah cara atmosfer memantulkan sinar matahari, mengubah sifat kimia tanah dan air, serta mencemari lingkungan yang sebelumnya bersih.

"Salah satu contohnya adalah pengendapan karbon hitam -- atau jelaga -- pada salju dan es, yang mengurangi jumlah sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan tersebut dan pada gilirannya dapat mempercepat proses pencairan," jelas WMO.

Contoh lainnya adalah mikroplastik, yang terbentuk ketika plastik terurai karena sinar matahari atau faktor lain, dan ditemukan hampir di mana-mana -- di udara, tanah, dan lautan.

Salah satu simulasi dalam Buletin WMO memperkirakan ada "51 juta ton untuk daratan dan 22 juta ton untuk lautan -- yang pada gilirannya menjadi sumber mikroplastik bagi atmosfer".

"Karena produksi plastik dan, yang lebih penting, pengelolaan limbah plastik yang buruk terus meningkat," pemantauan jalur udara yang membawa mikroplastik dari sumbernya dan membuangnya di lingkungan terpencil akan menjadi "sangat penting," kata laporan itu.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.