• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Indonesia Perlu Punya Iden...

Indonesia Perlu Punya Identitas Komik Sendiri Melalui Cergam Khas Masyarakat

Minggu, 06 Sep 2026, 23:40 WIB

Jakarta - Indonesia dinilai perlu memiliki identitas dalam dunia komik melalui cerita dan gambar atau cergam yang mencerminkan cara masyarakat Indonesia.

“Cergam bukan style, tapi point of view. Ketika kita nanti suatu saat bisa dapat style itu, apakah yang gaya Eropa atau gaya Amerika atau gaya mana, bebas. Tapi ada point of view yang beda,” kata Dosen Universitas MNC Iwan Gunawan dalam sesi bincang-bincang di Jakarta, Minggu.

Ket. Foto: Dosen Universitas MNC Iwan Gunawan (kanan) bersama kartunis Beng Rahadian (tengah) dan kartunis sekaligus sutradara Fajar Nugros (kiri) dalam sesi bincang-bincang di Jakarta, Minggu (6/9/2026). — Sumber: Antara

Iwan mengatakan cergam tidak harus ditandai oleh gaya visual tertentu, melainkan oleh sudut pandang atau point of view dalam merespons persoalan.

Menurut Iwan, perbedaan pengalaman sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Indonesia akan membuat cara merespons persoalan berbeda dengan masyarakat di negara lain.

Oleh karena itu, identitas cergam Indonesia tidak harus diwujudkan melalui unsur budaya tertentu seperti batik atau Jawa, tetapi melalui kultur yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk bagaimana penyebutannya yang disesuaikan dengan gaya Indonesia.

Ia mencontohkan persoalan feminisme yang juga banyak diangkat dalam komik dari berbagai negara. Namun, menurut dia, cara masyarakat Indonesia merespons persoalan tersebut semestinya dapat menunjukkan perbedaan karena lahir dari kondisi kehidupan dan pendidikan yang berbeda.

Sementara itu, kartunis Beng Rahadian mengatakan cergam dapat digunakan untuk menunjukkan identitas Indonesia, sementara kontennya dapat beragam. Menurut dia, salah satu hal yang dapat menjadi pembeda adalah cara orang Indonesia bertutur dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika kita menyebut ini, kita menunjukkan wilayah kultural. Bukan wilayah budaya saja, tapi wilayah kultural buat Indonesia,” kata Beng.

Beng mencontohkan penggunaan sapaan kepada orang yang lebih tua dalam dialog sebagai salah satu hal yang dapat menunjukkan konteks kehidupan di Indonesia.

Menurut Beng, pengaruh gaya visual dari manga tidak menjadi persoalan selama terdapat benang merah yang menunjukkan kultur Indonesia dalam karya tersebut.

"Kita lihat manga dari Jepang misalnya, yang kita lihat manga itu adalah manga-manga yang diterjemahkan di Indonesia.Tapi kalau kita lihat ke Jepang, itu kan macam-macam. Mereka punya seperti satu satu gaya yang gaya khas dalam bertutur dan itu menunjukkan keseharian," ujar Beng.

Dalam kesempatan itu, Iwan juga menceritakan upayanya mengenalkan komik Indonesia kepada generasi muda sejak membantu penyelenggaraan pameran komik Indonesia di Galeri Nasional pada 1997 dengan ajakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat itu, menurut dia, masih banyak anak muda yang belum mengetahui keberadaan komik Indonesia dan lebih mengenal komik Jepang.

Upaya mengenalkan komik Indonesia kemudian berlanjut melalui berbagai kegiatan, termasuk di British Council. Ia menilai perkembangan komik Indonesia juga sempat didorong oleh adanya demo kepada jaringan toko buku Gramedia di tahun 90-an yang massanya menuntut untuk memperbanyak cergam dijual pada masyarakat.

Dia turut menyebut salah satu puncak cergam kembali diminati oleh masyarakat adalah ketika diterbitkannya "Benny & Mice" yang cetakannya mencapai ratusan ribu kala itu.

  • komik dan ilustrasi

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.