Bukan Tembok Asli! Begini Megahnya Replika Konstantinopel di Balik Serial Mehmed
Sabtu, 05 Sep 2026, 14:30 WIBIstanbul - Hening. Hanya hembusan angin dan rintik hujan yang membasahi benteng raksasa di kawasan Ãekmeköy, Istanbul, siang itu.
Di balik temboknya, meriam, senjata, gerobak, alun-alun kota, hingga gang-gang berbatu dibiarkan berserakan. Pemandangan tersebut seolah membawa pengunjung kembali ke suasana kehancuran dalam pengepungan Konstantinopel pada 1453.
Namun, benteng itu bukan peninggalan sejarah. Ia merupakan replika Tembok Konstantinopel yang dibangun sebagai latar utama pertempuran dalam serial televisi Turki Mehmed: Fetihler Sultanı atau Mehmed: Sultan of Conquests, yang diproduksi di TRT International Film Studios.
Tidak ada proses syuting yang berlangsung siang itu. Kondisi tersebut dimanfaatkan sejumlah awak media dari luar Turki yang berkunjung atas fasilitasi Direktorat Komunikasi Republik Türkiye untuk menjelajahi setiap sudut kompleks studio.
Di sela kunjungan, penata artistik serial Mehmed: Fetihler Sultanı, Mert Yurur, membagikan kisah di balik pembangunan replika benteng tersebut.
Ia menjelaskan tim produksi sengaja membangun tembok dengan tinggi dan panjang yang hampir menyerupai ukuran aslinya. Konstruksinya dibuat cukup tebal dengan menggunakan berbagai material modern, seperti kayu, rangka baja ringan, dan stirofoam.
Perpaduan material tersebut kemudian disulap menjadi benteng yang menyerupai arsitektur Bizantium kuno untuk memenuhi kebutuhan sinematik.
Di sejumlah sudut, berdiri replika menara pertahanan lengkap dengan celah bagi para pemanah untuk melepaskan anak panah. Sementara itu, bagian dalam benteng menghadirkan suasana kota masa lalu dengan alun-alun, gang berbatu, senjata, gerobak, hingga perlengkapan perang.
Tak jauh dari sana, terdapat kapal-kapal berukuran besar yang dikelilingi kain biru raksasa di batas luar set. Kain tersebut digunakan untuk kebutuhan efek visual komputer guna menghadirkan lanskap Selat Bosphorus dan kapal-kapal perang dalam cerita.
Secara keseluruhan, replika tembok, alun-alun kota, hingga perkemahan militer Ottoman dibangun di atas kompleks studio yang membentang ratusan hektare.
Pengepungan Konstantinopel
Secara historis, Tembok Konstantinopel merupakan salah satu sistem pertahanan paling terkenal dalam sejarah. Bagian utama tembok darat yang dikenal sebagai Tembok Theodosian dibangun pada abad ke-5 atas perintah Kaisar Theodosius II dan selama berabad-abad melindungi Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium.
Pertahanan tersebut akhirnya runtuh pada 1453 ketika pasukan Kesultanan Utsmaniyah di bawah pimpinan Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.
Dalam pengepungan tersebut, pasukan Ottoman menggunakan artileri besar, termasuk Meriam Åahi, untuk menggempur pertahanan kota. Penaklukan Konstantinopel kemudian menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium.
Sisa-sisa tembok bersejarah itu masih dapat ditemukan di Istanbul hingga kini. Namun, sebagian besar struktur telah mengalami kerusakan dan berada di tengah kawasan perkotaan yang padat.
Tembok tersebut juga menjadi bagian dari kawasan bersejarah Istanbul yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kondisi itu membuat penggunaan lokasi asli untuk produksi serial berskala besar memiliki banyak keterbatasan.
Karena itu, pembangunan replika menjadi solusi bagi tim produksi untuk menghadirkan kembali suasana Konstantinopel abad ke-15 tanpa mengganggu situs sejarah yang masih tersisa.
TRT International Film Studios tidak hanya membangun replika tembok. Kompleks tersebut juga menghadirkan berbagai bangunan dan lingkungan yang mendukung cerita, mulai dari istana hingga tempat pelatihan tentara.
Produksi Mehmed: Fetihler Sultanı sendiri memang dikenal menggunakan set berskala besar dengan berbagai bangunan sejarah yang direkonstruksi untuk mendukung penggambaran kehidupan pada masa Sultan Mehmed.

Destinasi Wisata
Kemegahan produksi serial sejarah Turki tidak berhenti di kawasan Ãekmeköy.
Di Riva, Beykoz, sisi Asia Istanbul yang berada tidak jauh dari Laut Hitam, terdapat BozdaÄ Film Plateaus. Lokasi tersebut menjadi tempat produksi berbagai serial sejarah, termasuk KuruluÅ: Osman, yang mengambil latar jauh sebelum era Sultan Mehmed II.
Berbeda dengan set produksi yang hanya digunakan untuk kebutuhan syuting, lokasi tersebut juga dibuka untuk masyarakat. Wisatawan dapat menjelajahi replika benteng Bizantium, istana dan kompleks pemerintahan yang terinspirasi dari Kesultanan Rum serta periode awal Kesultanan Utsmaniyah.
Pengunjung juga dapat melihat area perkemahan Suku Kayı yang menjadi bagian penting dalam cerita KuruluÅ: Osman.
Tidak hanya bangunan, tersedia pula ruang pameran yang menyimpan berbagai kostum, senjata, dan zirah yang digunakan dalam produksi serial sejarah.
Koleksi tersebut antara lain berasal dari DiriliÅ: ErtuÄrul, serial yang mengisahkan perjuangan ErtuÄrul Ghazi bersama Suku Kayı, serta KuruluÅ: Osman yang berfokus pada kisah Osman I dan lahirnya Kesultanan Utsmaniyah.
Ruang pameran itu pada akhirnya berfungsi layaknya museum sejarah sekaligus ruang pengalaman bagi penggemar serial. Pengunjung tidak hanya menyaksikan benda-benda yang digunakan dalam produksi, tetapi juga dapat merasakan atmosfer dunia yang selama ini mereka lihat melalui layar.
Diplomasi Budaya
Membuka set produksi kepada wisatawan merupakan salah satu cara untuk memperpanjang usia sebuah karya setelah proses syuting berlangsung. Set yang sebelumnya hanya menjadi tempat bekerja bagi kru dan pemain dapat berubah menjadi destinasi wisata yang menarik penggemar dari berbagai negara.
Strategi tersebut memiliki kemiripan dengan perkembangan wisata berbasis industri hiburan di Korea Selatan seiring berkembangnya fenomena Korean Wave atau Hallyu.
Turki sendiri memiliki modal yang kuat. Serial televisinya telah berkembang menjadi salah satu produk industri kreatif yang menjangkau penonton internasional.
Di Indonesia, sejumlah judul seperti Elif, Abad Kejayaan (MuhteÅem Yüzyıl), dan KuruluÅ: Osman juga cukup dikenal masyarakat di tengah persaingan drama dari Korea Selatan, Jepang, India, dan negara lainnya.
Popularitas tersebut tidak hanya memberi keuntungan bagi industri televisi, tetapi juga membuka peluang bagi promosi budaya, sejarah, pariwisata, hingga identitas nasional Turki.
Dalam acara Global Narrative of the Türkiye Brand: Turkish TV Series di Istanbul, Kepala Komunikasi Kepresidenan Republik Türkiye Burhanettin Duran menyampaikan bahwa keberhasilan serial Turki di berbagai negara menunjukkan kemampuan industri kreatif negara tersebut dalam membangun narasi sendiri dan menyampaikannya kepada masyarakat lintas budaya.
Menurut dia, keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat citra Turki di dunia internasional dan menjadi bagian dari strategi komunikasi serta diplomasi publik.
Pada akhirnya, replika Tembok Konstantinopel di Ãekmeköy bukan sekadar latar sebuah serial televisi.
Di balik batu-batu tiruan, meriam, kapal, dan bangunan yang sengaja dibuat menyerupai masa lalu, terdapat strategi lebih besar: mengubah sejarah menjadi cerita, cerita menjadi tontonan, dan tontonan menjadi pengalaman wisata yang dapat membawa nama Turki melampaui batas negaranya.
- Konstantinopel
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.