Kehadiran Influencer di US Open Mulai Uji Batas Etika Penonton Tenis
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 00:35 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraFenomena tersebut tidak terlepas dari popularitas US Open yang terus meningkat. Jumlah penonton yang melonjak bahkan membuat penyelenggara memperpanjang rangkaian pertandingan babak utama menjadi 15 hari.
Turnamen juga melakukan perubahan dengan menggelar kompetisi ganda campuran sebagai ajang tersendiri pada pekan sebelum pertandingan tunggal dimulai.
Di sisi lain, tenis profesional semakin agresif memanfaatkan media sosial untuk menjangkau generasi penonton baru. Tur ATP memperluas kerja sama dengan TikTok pada awal tahun ini setelah mencatat peningkatan lebih dari 25 persen jumlah unggahan dengan tagar #tennis sepanjang 2025.
Bagi Daniil Medvedev, juara US Open 2021, peningkatan eksposur tenis di media sosial pada dasarnya merupakan perkembangan positif.
“Semakin kami berusaha meningkatkan kesadaran terhadap tenis, semakin baik. Semakin populer olahraga ini, semakin bagus,” ujar Medvedev.
Namun, ia juga memahami bahwa popularitas tersebut harus tetap dibarengi dengan penghormatan terhadap pertandingan.
“Kalau memang mengganggu saat pertandingan, misalnya Anda melihat cahaya atau sesuatu yang mengganggu, tentu Anda selalu bisa menyampaikannya kepada wasit,” kata Medvedev.
“Situasinya terkadang memang menantang, terutama jika hal tersebut terjadi ketika sebuah poin sedang dimainkan.”
US Open kini berada di persimpangan antara mempertahankan tradisi tenis dan mengikuti perubahan perilaku penonton modern.
Di satu sisi, influencer memberikan promosi gratis dan memperkenalkan turnamen kepada jutaan pengguna media sosial yang mungkin sebelumnya tidak mengikuti tenis. Konten tentang makanan, suasana stadion, selebritas, hingga kehidupan di balik layar juga membantu menciptakan daya tarik baru.
Namun, di sisi lain, pertandingan tenis tetap membutuhkan konsentrasi penuh. Cahaya ring light, sesi pemotretan, atau aktivitas membuat konten saat poin berlangsung dapat mengganggu pemain dan mengubah pengalaman penonton lainnya.
US Open tampaknya harus menemukan keseimbangan: membuka pintu lebih lebar bagi era digital tanpa membiarkan budaya media sosial mengalahkan inti dari turnamen itu sendiri—pertandingan tenis di lapangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!