El Nino Biking Pusing, Pemerintah Hitung Ulang Ketahanan Pangan

Jumat, 04 Sep 2026, 02:30 WIB

JAKARTA – Dampak El Nino benar-benar mengacaukan dan membuat pusing. Betapa tidak, karena dia, pemerintah harus menghitung ulang ketahanan pangan nasional. “Pemerintah akan menghitung ulang ketahanan pangan nasional untuk memetakan dampak El Nino yang berlangsung lebih panjang dari perkiraan awal,” tandas Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq,

“Kementerian Koordinator Bidang Pangan sedang mengaktivasi  satuan tugas untuk kemudian merekalkulasi ketahanan pangan kita pada semua komoditas yang mungkin terdampak,” kata Hanif saat ditemui di Jakarta, Kamis.

Ket. Foto: ketahanan pangan — Sumber: ist

Ia mengatakan pada pekan depan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan akan menggelar pertemuan dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memetakan persoalan di lapangan secara lebih rinci sekaligus merumuskan langkah yang dapat dilakukan dengan cepat.

“Kita akan petakan detail by detail persoalan yang ada di lapangan, kemudian kita rumuskan langkah-langkah tercepat apa yang harus kita lakukan,” katanya.

Ia menuturkan pemetaan tersebut penting karena persoalan pangan tidak dapat dipisahkan dari kebijakan impor dan ekspor. Pemerintah perlu mengetahui secara rinci kondisi masing-masing komoditas, termasuk bagian produksi atau distribusi yang mengalami gangguan.

“Kita harus melakukan kalibrasi terhadap landscape ketahanan pangan kita,” ujar dia. Hanif juga mengakui ketahanan pangan Indonesia masih belum cukup kuat menghadapi kondisi El Nino dengan curah hujan yang sangat rendah.

Ia mengatakan pemerintah tidak hanya melihat ketersediaan stok pangan saat ini, tetapi juga perlu menghitung dampak El Nino terhadap produksi dan ketahanan pangan ke depan.

Menurut dia, El Nino tidak boleh ditanggapi dengan enteng karena fenomena tersebut disertai curah hujan yang sangat rendah dan berdampak terhadap berbagai komoditas pangan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027. Namun, durasi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode tersebut.

Dampak El Nino juga tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan, diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.