Wamendiktisaintek Sebut Tempe Berpeluang Jadi Komoditas Global

Kamis, 03 Sep 2026, 02:03 WIB

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong pengembangan riset dan inovasi tempe untuk memperkuat ketahanan pangan. Wamendiktisaintek Fauzan mengatakan tempe juga berpeluang dikembangkan menjadi komoditas global melalui riset dan inovasi.

Menurut Fauzan pengembangan tempe dan ragi membutuhkan hasil riset yang dapat diterapkan dalam produk bernilai tambah. Ia menilai dukungan industri juga diperlukan agar hasil penelitian dapat dikembangkan hingga menghasilkan produk tempe kelas ekspor.

Ket. Foto: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan (kedua kanan) — Sumber: RRI/Namira Kaguma

“Saya membayangkan riset sudah ada, bahan sudah ada, inovasi produknya nanti bisa kita buat. Kita tinggal cari offtaker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor,” kata Fauzan saat menghadiri talk show bertajuk ‘Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan’ di Jakarta, Rabu (2/9).

Fauzan mengatakan riset tidak cukup berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi harus menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Menurut dia, manfaat tersebut salah satunya dapat dilihat dari peningkatan nilai ekonomi masyarakat.

“Ini baru dikatakan riset berdampak. Jadi berdampak itu harus kita akhiri apakah memiliki value meningkatkan harkat martabat ekonomi atau tidak,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, mengatakan pengembangan ragi berkaitan dengan kekayaan mikroorganisme Indonesia. Ia menilai riset tersebut perlu didukung ekosistem industri agar hasilnya dapat diterapkan secara nyata.

Najib juga mengatakan pengujian langsung bersama pengrajin membuat pengembangan ragi dapat menyesuaikan kebutuhan produksi. Pendekatan tersebut, lanjutnya, sekaligus dapat mempertemukan peneliti dengan pelaku industri tempe di lapangan.

“Jadi ragi ini diuji dan disempurnakan langsung di dapur-dapur para pengrajin tempe. Inilah yang kemudian wajah sains yang ramah, dengan menempatkan pengrajin tradisional sebagai rekan sejajar dalam proses penciptaan,” ucap Najib.

Dari sisi dunia usaha, Country Head Indonesia FKS Group, Yanuar Samron, mengatakan FKS mendukung penelitian Ragi Nusantara. Menurut dia, pengalaman perusahaan dalam rantai pasok dapat membantu menjembatani hasil riset dengan penerapan di masyarakat.

“Di sinilah peran kami FKS, karena kami memiliki ekosistem yang ada dan pengalaman di sepanjang rantai pasok. Sehingga harapan kami, kami dapat menjadi jembatan dari riset menuju aplikasi di dalam masyarakat,” ujar dia.

Yanuar menilai tempe merupakan salah satu ikon budaya Indonesia yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, lanjutnya, pengembangannya membutuhkan kerja bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, pengrajin, dan media.

“Tempe adalah salah satu ikon budaya Indonesia yang sangat dekat terhadap masyarakat, jadi kita sama-sama bangun industri ini. Kita bangun pangan yang sudah Tuhan kasih kepada bangsa Indonesia untuk menjadi suatu pilar bangsa,” kata Yanuar.

Yanuar mengatakan penelitian Ragi Nusantara dapat membuka peluang pemanfaatan pengetahuan mengenai mikroorganisme Indonesia. FKS berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Melalui penelitian Ragi Nusantara dalam program Bestari Saintek, FKS ingin jadi bagian dalam upaya tersebut. Kami ingin mendukung pengembangan pengetahuan mengenai kekayaan mikroorganisme Indonesia,” ucap dia.

Pengembangan Ragi Nusantara ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan riset dengan kebutuhan pangan masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tempe sekaligus membuka peluang pengembangannya sebagai komoditas global. ils/I-1

  • Tempe
  • Wamendiktisaintek

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.