Bappenas Dorong ‘Green Job’ Jadi Andalan Masa Depan

Kamis, 03 Sep 2026, 01:00 WIB

JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai Indonesia dan dunia akan menghadapi kesulitan jika pekerjaan hijau (green job) tidak segera dikembangkan sebagai bagian dari transformasi ekonomi.

“Kalau kita tidak hati-hati, tidak segera melahirkan green job lebih banyak, kita seluruh dunia akan mengalami kesulitan bersama,” kata Rachmat dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta, Rabu (2/9).

Ket. Foto: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy — Sumber: istimewa

Dikutip dari Antara, menurut Rachmat, Indonesia telah menetapkan arah transformasi hijau dalam agenda pembangunan nasional. Salah satunya melalui target peningkatan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi primer dari 20 persen pada 2025 menjadi 70 persen pada 2045.

Peningkatan tersebut dinilai berpotensi menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendukung kebutuhan Indonesia dan dunia. Pekerjaan hijau tidak hanya berkembang di sektor energi, tetapi juga manufaktur, kehutanan, pertanian, perikanan, pariwisata, serta ekonomi pesisir dan kelautan.

“Transformasi ini bukan sekedar mengubah tempat seseorang bekerja, melainkan juga mengubah bentuk pekerjaan, mengubah proses kerja, mengubah teknologi yang diterapkan, serta mengubah kompetensi yang dibutuhkan,” ujarnya.

Bappenas mencatat sekitar 3,45 juta tenaga kerja atau 2,5 persen telah berkontribusi langsung terhadap pelestarian lingkungan. Sementara itu, sebanyak 49,12 juta tenaga kerja atau 36,5 persen berpotensi beralih menuju pekerjaan hijau.

Rachmat mengatakan angka tersebut masih dapat diperluas dengan memperbarui kriteria green job. Menurut dia, pekerjaan di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dapat masuk kategori tersebut apabila menghasilkan emisi karbon dan konsumsi air yang rendah serta lebih banyak menggunakan energi hijau.

Karena itu, Bappenas tengah menyiapkan kriteria, indikator, dan indeks baru pekerjaan hijau yang sesuai dengan kepentingan Indonesia.

Tiga strategi disiapkan untuk mempercepat pengembangan green job, yakni membangun ekosistem pendukung, meningkatkan kesiapan tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, serta memperkuat kemitraan antara pemerintah, dunia usaha, industri, dan dunia kerja.

Rachmat menegaskan green job bukan sekadar menciptakan pekerjaan baru, tetapi juga bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.

“Mengapa saya ingin green job menjadi ujung tombak daripada lapangan kerja di kemudian hari? Kalau kita masih menggunakan kriteria lama dengan lapangan kerja yang tidak hijau, bumi akan makin panas,” katanya.

Ia menilai peningkatan suhu bumi dapat memicu berbagai dampak, mulai dari kebakaran hutan, pencairan es di kutub, kenaikan muka laut hingga ancaman terhadap wilayah pesisir.

“Kalau green job tidak segera kita kembangkan, bukan hanya Indonesia yang susah, tapi dunia juga akan susah,” ujar Rachmat.

Ia juga mengkritisi Economic Complexity Index yang dinilai belum cukup memperhitungkan aspek lingkungan dan green job. Menurutnya, Indonesia perlu memiliki indikator sendiri agar klasifikasi pekerjaan hijau sesuai dengan kondisi dan kepentingan nasional.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.