PBB Laporkan Suhu Dunia Lampaui 1,5 Derajat Celsius, Risiko Bencana dan Ancaman Kesehatan Meningkat

Rabu, 02 Sep 2026, 16:15 WIB

TOKYO - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang Program Lingkungan (UNEP) pada Rabu (2/9) melaporkan bahwa suhu global diperkirakan melampaui 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam beberapa tahun ke depan sehingga dapat meningkatkan risiko bencana dan ancaman kesehatan.

Laporan tersebut menegaskan bahwa penurunan kembali suhu hingga 1,5 derajat Celsius atau kurang dari itu pada akhir abad ini dibutuhkan untuk mengurangi risiko dan dampak perubahan iklim.

Ket. Foto: Ilustrasi suhu dunia — Sumber: istimewa

Pada November 2026, genap 10 tahun sejak sekitar 190 negara dan wilayah, termasuk Jepang, menyepakati Perjanjian Paris sebagai kerangka internasional untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius.

"Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan yang berkobar, dan banjir mematikan musim panas ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi. Kita harus membuat pelampauan 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

"Dunia membutuhkan keberanian untuk melampaui batas ambisi kita," tambahnya.

Berdasarkan kebijakan yang berlaku saat ini, pemanasan global diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius pada 2100, menurut laporan tersebut.

Bahkan jika seluruh negara peserta memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca dan mencapai emisi nol bersih melalui penyeimbangan emisi dengan penyerapan oleh hutan serta sistem lainnya, suhu diperkirakan tetap naik sekitar 1,8 derajat Celsius.

Kenaikan suhu tersebut akan memperparah cuaca ekstrem, hilangnya ekosistem, dan risiko tenggelamnya negara-negara kepulauan kecil.

Dampaknya juga mencakup ganggaun serius terhadap kesehatan manusia, ketahanan pangan, pasokan air, serta infrastruktur.

Jika suhu global naik 3 derajat Celsius pada abad ini, gletser diperkirakan kehilangan lebih dari seperempat massanya pada 2100 dan menyebabkan kenaikan permukaan laut 9 hingga 13 sentimeter.

Profesor Richard Betts dari University of Exeter, yang turut berkontribusi dalam laporan tersebut, mengatakan kenaikan suhu membuat kejadian seperti banjir bandang di Nepal dan China pada Agustus semakin mungkin terjadi.

"Namun, kita dapat mencegah kondisi tersebut menjadi jauh lebih buruk dengan mengurangi emisi dan membatasi jumlah pemanasan," kata Betts.

Laporan itu menyebut bahwa untuk menurunkan suhu setelah melampaui 1,5 derajat Celsius, jumlah karbon dioksida yang diserap atau dihilangkan harus melebihi jumlah emisi.

Namun, laporan tersebut menempatkan pengurangan karbon dioksida sebagai langkah tambahan, bukan pengganti upaya utama untuk mengurangi emisi.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.