Negara Harus Jaga Kompetisi, Cegah Rente, dan Perbesar Kapasitas Ekonomi Masyarakat
📅 Rabu, 02 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiIa mencontohkan strategi mengandalkan upah murah sudah terdelusi oleh akal imitasi atau AI dan teknologi digital. Negara-negara seperti Eropa bahkan menawarkan insentif fiskal dan teknologi agar investasi tetap di wilayahnya.
“Kalau daya beli kita lemah, investasi pasti juga lemah. Sebaliknya kalau daya beli kuat dan pangsa pasar besar, nanti investasi akan masuk mengejarnya,” tegas Hafidz.
Ketiga, kepercayaan pada iklim bisnis dan kepastian hukum. Hafidz menyebut investor tidak bisa bekerja sendiri. Mereka butuh pekerja, vendor, supplier, distributor, dan sistem logistik yang kredibel.
“Tantangan terbesar di Indonesia adalah mencari mitra yang kredibel. Banyak investasi mundur karena terhambat perizinan, partner pembiayaan, hingga mencari mitra usaha. Kalau terjadi fraud, sistem hukumnya lemah, butuh waktu panjang dan biaya besar tanpa kepastian,” katanya.
Ia mencontohkan Singapura yang tidak punya SDA dan populasinya kecil, tapi mampu menjadi business and financial hub karena kredibilitas iklim bisnisnya. “Seandainya iklim bisnis kita setara Singapura, pasti investor akan langsung pilih Indonesia. Nyatanya tidak. Mayoritas kendali finansial bisnis masih di sana karena etika bisnis dan kepastian hukumnya kuat,” ujar Hafidz.
“Kalau prospek jangka panjang, daya beli, dan kepastian hukum bisa diberesi bersamaan, investasi pasti akan tumbuh baik,” pungkasnya.
Penyederhanaan Izin dan Regulasi
Di waktu lain, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan Pemerintah perlu memperkuat tiga strategi utama agar iklim investasi makin menarik.
Pertama, penyederhanaan perizinan dan regulasi dengan memacu birokrasi agar lebih cepat dan transparan sehingga menumbuhkan kepercayaan investor.
Kedua, hilirisasi industri dan sumber daya alam (SDA) terutama komoditas strategis seperti nikel, timah, dan bauksit. Tujuannya mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
“Selain itu perlu membangun ekosistem industri terintegrasi yang menarik investasi teknologi dan memperluas lapangan kerja,” kata Esther.
Terakhir, lebih fokus pada sektor prioritas dan digital dengan membangun pusat data atau data center, energi hijau, ekonomi biru, dan semikonduktor. Sektor-sektor tersebut memiliki potensi pertumbuhan tinggi dan selaras dengan tren global. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menarik investasi padat modal, tetapi juga investasi berbasis inovasi dan keberlanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!